|
“Terra demam, cepat pulang ya!” Suara ibu mertuaku di ujung telpon terdengar cemas waktu mengabarkan kondisi anakku yang mendadak panas tinggi. Waduh, kenapa lagi nih? Tadi pagi rasanya Terra masih sehat dan lincah tuh. Kok mendadak sekali ya? Jangan-jangan…ah, tidak! Aku menepis pikiran buruk yang melintas dibenakku. Wajar kalau aku khawatir. Di daerah kami sedang berjangkit penyakit tifus dan demam berdarah.
Kenapa kamu sayang…? Sambil mengelus si mungil Terra, aku hanya bisa cemas dan bertanya dalam hati. Meski sudah kuberi obat penurun panas, demamnya tetap naik turun. Apa malam ini juga aku harus ke dokter? Tunggu dulu. Aku ingat, masalah demam pada anak sering dibahas dalam pembicaraan teman-teman mayaku dimilis WRM. Sebaiknya aku lihat dulu kondisinya. Jangan lupa dikompres, jangan pakai baju yang tebal dan tertutup, tetap mandi pakai air hangat dan kasih obat penurun panasnya setiap 6 jam sekali ya! Pesanku pada si Mbak sebelum meninggalkan Terra pergi bekerja.
Hari ketiga. Kondisi Terra belum membaik. Kuputuskan membawa Terra ke dokter. Apa katanya? Anak ibu terkena flu, mau batuk pilek nih. “Oh, begitu ya Dok? Kok selama 3 hari saya tidak pernah melihat dia meler atau batuk?” “Iya, tapi sebentar lagi pasti kena.” “Bagaimana dengan ruam ditubuhnya Dok? Mungkin nggak kalau dia kena campak lagi?” Tanyaku sambil memperlihatkan sedikit ruam ditubuh Terra yang mirip gejala campak. “Lho, dia kan sudah pernah kena campak waktu umur 9 bulan? Jadi ini bukan campak, tapi kena virus influenza, Bu. Ini saya buatkan resep ya. Ada antibiotik dan obat batuk-pilek.” Virus Influensa? Kenapa harus dengan antobiotik? Sejumlah tanya siap meluncur dari mulutku tapi akhirnya aku tahan karena tidak ingin berdebat lebih lama. Sudahlah, lebih baik menuruti intuisiku sebagai seorang ibu. Esoknya aku sibuk mencari artikel mengenai campak dari milis WRM-ku tersayang. Tak lupa aku baca lagi artikel tentang pemakaian antibiotik karena aku tidak mau gegabah memasukkan obat yang tidak perlu kepada anakku.
Hari keempat. “Terra kok masih belum sembuh, Mom? Obatnya dikasih nggak sih? Kayaknya cuma minum obat penurun terus? Bukannya dokter sudah memberi resep?” Suamiku bertanya dengan sedikit protes. “Iya, tapi obatnya nggak aku tebus.” “Kenapa?” “Terra kan demamnya nggak tinggi dan batuk pileknya juga nggak keluar tuh. Kenapa harus minum obat seperti itu?” “Tapi kan antibiotiknya harus diminum supaya cepat sembuh?!” Wah, yang begini nih. Rupanya suamiku belum up to date dengan isu antibiotik yang sudah lebih dulu aku pahami lewat diskusi dengan teman-teman mayaku. Hari itu aku dan suami menghabiskan hari dengan beragumen soal si antibiotik yang antik ini. Ya gimana nggak antik, kalau dia sampai bisa membuat aku dan suami punya `obrolan yang seru`?? Hihihihi…lucu juga kalau diingat.
Hari kelima. Tuuh kan, Terra kena Roseola….kataku sambil memastikan ruam yang jelas terlihat ditubuhnya. Kenapa aku tahu kalau itu Roseola? Ha..ha.., lagi-lagi karena artikel yang kubaca dari WRM. Saat artikel itu kusodorkan kepada suami, ia tersenyum bangga. Rupanya ia percaya aku telah mengambil langkah yang tepat. Ah, senangnya. Thanks WRM! Jeritku dalam hati. Hanya berselang 4 bulan sebelumnya, Terra terkena Rubeola dan sekarang Roseola. Wajar saja kalau dokter yang pertama tidak yakin Terra kembali terkena virus campak. Oh, oh Roseola…kamu membuat panik banyak orang ya! batinku sambil merasa lega karena antibiotik dan obat lainnya tidak kuberikan pada buah hatiku. Hari itu, untuk memastikan dugaan, aku membawa Terra sekali lagi ke dokter sekaligus mencari opini kedua. Kali ini dokter yang memeriksa mengamini kalau Terra memang terkena Roseola.
Tiga hari kemudian Terra sudah benar-benar pulih. Rumah kamipun kembali ramai dan hangat dengan ocehan dan tingkah kedua buah hati kami yang lucu. “Kakak, ayo main…” ajak Terra sambil menggamit tangan kakaknya dan tak lama mereka asyik bermain sambil sesekali berebut mainan. Aku tersenyum bahagia. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menjaga dan menyembuhkan anakku. Terima kasih WRM, kalau saja aku tidak mengenalmu, mungkin pikiranku belum terbuka dan tak bisa mengambil langkah yang bijak. Sungguh sebuah pengalaman berharga dalam mengasuh buah hatiku. I Love You, WRM… Mmuah!
Jakarta, 10 Februari 2006
Fransisca Aditya Christie
**+++ Artikel Parenting Paling Kreatif +++** |