|
Satu bulan setelah hari pernikahanku seharusnya sedang indah-indahnya..bulan madu istilahnya. Tapi itu semua tidak berlaku buat aku dan suami.. Satu bulan setelah pernikahan kami sudah dikejutkan dengan ketelambatan datangnya tamu bulanku. Antara sedih dan gembira menerimanya; sedihnya karena was-was dan takut kista yang pernah aku derita 5 tahun lalu muncul kembali sekan mengalahkan kegembiraan kami akan datangnya malaikat kecil pelengkap keluarga kami.
Dua bulan setelah pernikahan dokter langganan mulai memberi lampu hijau untuk melanjutkan kehamilanku. Sungguh gembira tak terkira karena tidak menyangka ternyata Tuhan begitu sayang kepadaku. Lima tahun yang lalu dokter boleh saja mengingatkan aku untuk selalu sabar dan tawakal bila saatnya nanti aku akan susah untuk mendapat keturunan.. tetapi Tuhan berkehendak lain. Dengan amat sangat super cepat Tuhan memberi kami hadiah yang tak ternilai.
Selama masa kehamilanku tak hentinya aku mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang perawatan anakku nantinya. Keinginanku waktu itu hanya satu menjadikan anakku menjadi anak super, anak hebat. Pokoknya aku ingin anakku menjadi nomor satu nantinya, apalagi saat itu di kotaku Semarang sedang trennya seminar dan workshop mempersiapkan anak cerdas sejak dalam kandungan.
Sembilan bulan setelah pernikahanku bayi yang selama ini aku impikan lahir dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun. Dengan bantuan banyak pihak dari mulai orang tuaku, mertua bahkan sampai pengasuhku waktu masih anak-anak datang menyambut pangeran kecilku. Aku merasa menjadi orang yang paling bahagia sedunia. Ah bahagianya...
Seiring dengan jalannya waktu aku berhasil menerapkan semua yang aku dapatkan dari buku-buku seminar-seminar dan workshop mencetak anak cerdas saat hamil dulu. Bertambahlah kebanggaanku karena anakku tergolong cepat menerima yang aku ajarkan, apalagi bila menengok literatur yang ada pangeran kecilku termasuk normal bahkan cenderung lebih pesat perkembangannya dibandingkan anak sebayanya.
Limabelas bulan setelah pernikahanku atau tepatnya enam bulan usia pangeran kecilku rasa kebanggaanku sedikit-sedikit berubah menjadi kekawatiran apalagi waktu ibu para pendukung setiaku (orang-orang rumah yang membantu mengurus anak) juga merasa gundah. Anakku semakin sulit diatur, pelajaran yang diberikan tidak lagi diterimanya. Pangeran kecilku mulai suka menolak bila diajari sesuatu bahakan buku-buku plus kartu-kartu yang dulu dengan manisnya dia lihat berubah menjadi sasaran kemarahannya..
Saat itu pula aku berkenalan dengan milis We R Mommies. Sebagai perkenalan aku bercerita tentang kegundahanku sebagai ibu bekerja yang meninggalkan bayinya di rumah. Aku sangat tersanjung waktu itu..teman-teman yang hanya aku kenal dari dunia maya ternyata sangat-sangat perhatian padaku yang notabene anak baru di komunitas ini. Lama-lama aku merasa betah di sini bahkan aku meyebutnya sebagai rumah mayaku.. karena dengan bergabung di sini pula aku bisa sedikit demi sedikit menghalau kegundahanku tentang susah diaturnya pangeran kecilku.
Duapuluh tiga bulan setelah pernikahanku tepatnya empat belas bulan usia pangeran kecilku di rumah mayaku mengadakan seminar online tentang anak berbakat. Dengan penuh sukacita dan antusias aku bergabung di acara itu. Bahkan kalau tidak salah ingat aku menjadi penanya pertama di seminar online tersebut. Pertanyaanku waktu itu simple saja intinya bagaimana mengetahui bakat anak umur 14 bulan supaya aku lebih tepat mengarahkannya.
Tanpa diduga dan dinyana pertanayaanku itu berkembang menjadi diskusi yang sangat-sangat heboh (yang masih teringat sampai sekarang ibu Julia van Tiel menyebutnya sampai benjol-benjol). Mengapa demikian??? Karena dari pertanyaanku tersebut muncul opini seorang ibu yang anaknya mempunyai banyak bakat (memiliki multiple intelligence) bahwa beliau mulai mendeteksi bakat anaknya sejak umur 6 bulan. Tetapi di sisi lain juga muncul banyak opini bahwa bakat anak tersebut gampang-gampang susah mendeteksinya..bisa jadi aktivitas yang sedang disenanginya dilakukan anak tersebut adalah bakatnya kelak ataupun karena memang si anak sedang senang-senangnya dengan aktivitas tersebut.
Nah dari situlah berkembang opini dan pertanyaan yang bermacam-macam tentang keberbakatan anak yang sempat membuat moderator turun tangan dan berusaha browsing mencarikan sumber-sumber ilimiah terpercaya. Bagaimanapun kehebohan pada seminar online tersebut aku akhirnya bisa memetik suatu hal yang amat sangat berguna buatku bahwa : - Aku tidak boleh mengandalkan ego semata untuk perkembangan anakku - Aku merasa mataku semakin terbuka sekarang. Terlepas dari pro dan kontra yang ada, aku harus kritis untuk menyerap semua informasi yang masuk terlebih ilmu ini sangat bermanfaat dan berhubungan dengan perkembangan anakku..penerusku.
Duapuluh sembilan bulan setelah penikahanku anakku semakin besar sembilan bulan sudah usianya. Kesenangannyapun semakin terlihat, anakku suka menyanyi dan suka bermain di alam terbuka untuk perkembangan wicaranya plus motoriknya juga semakin baik. Yang paling aku banggakan adalah perkembangan wicaranya. Tetapi hal ini pula yang memunculkan kegundahan baru pada diriku. Di rumah anakku tidak punya teman sebaya yang ada sebagian besar orang tua dan anak-anak tetangga yang sudah duduk di SD di sisi lain aku senang karena anakku smakin berkembang kosakatanya akibat pergaulan tersebut tetapi di lain pihak aku juga kuatir dengan kondisi ini.. takut bila anakku tidak bisa bergaul dengan teman sebayanya.
Muncullah inisiatif untuk menyekolahkan pangeran kecilku. Ternyata banyak pertentangan untuk inisiatifku. Pertama dari suamiku. Alasan pertama suamiku karena mahal..(alasan klise yah..) lebih baik uangnya ditabung untuk sekolah yang lebih tinggi. Pertentangan kedua dari mertua dan orang tuaku..kasihan anakknya kata beliau nanti kecapaian sekolah dan pada saatnya nanti bila sekolah beneran bisa jadi anaknya bosan sekolah..
Saat itu pula di rumah mayaku mengadakan seminar online tentang pendidikan anak..lagi-lagi gayung bersambut. Dengan semangat aku mengikutinya karena aku merasa topik ini cocok sekali dengan kegundahan yang aku alami. Lagi-lagi kegundahanku terjawab di sini.. aku merasa semua kegundahanku terjawab sudah. Sekolah bukan tempat yang tepat untuk pangeranku yang berusia 19 bulan kalau hanya untuk memuaskan egoku akibat kekhawatiranku akan sosialisi anakku.
Yang paling bisa menyejukkanku adalah rangkuman dari moderator seminar waktu itu. Menjadi advokat tangguh adalah dengan selalu kritis dan selalu mempertimbangkan kepentingan anak. Tak lupa pula menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan serta mengkaji dampak positif maupun negatif bagi kelangsungan hidup anak dimasa depan. Dengan demikian, anak pun dapat menikmati proses tumbuh kembangnya dengan baik, karena tak lagi merasa terbebani dengan "lomba balap" yang kerap diciptakan orangtua maupun lingkungannya. (Agnes Tri Harjaningrum pada rangkuman seminar online WRM tentang pendidikan anak)
Dari rumah mayaku inipun aku semakin banyak mendapat sahabat yang bisa memberikan banyak jawaban dan masukan tentang pengasuhan anak walaupun semuanya baik tetapi belum tentu baik buatku. Aku yang harus pintar-pintar memilih metoda yang ideal buat anakku.
Memasuki tahun keduaku di rumah mayaku ini aku berharap banyak sahabat dan saudara yang bisa berbagi tentang pengasuhan anak. Karena menurutku ilmu pengasuhan anak tidak ada sekolah formalnya walaupun sekolah ini tanpa ijazah tapi benar-benar nyata manfaatmya.
Uci mamaKavin
**+++ Artikel Parenting Paling Kreatif +++** |