|
Ku terbangun setelah hampir setengah jam tak terasa terlelap tidur di siang cerah itu hanya tuk sekedar menguapkan rasa letih yang menyelimuti tubuhku. Kupandangi sekelilingku…sepii..tak berpenghuni kecuali diriku di puri sederhana ini, “Peri” kecilku kemana? Ah! aku terkesan egois sebagai ibu, kubiarkan diriku terlelap tidur saat “Peri” kecilku asyik dengan crayon-nya. Dan sekarang apa yang kulihatdan kudengar..kosong dan sepi, pasti dia bermain di rumah pengasuhnya yang tak jauh dari puri kami.
Apa yang harus kulakukan? Lebih baik akumandi supaya segardan berfikir lebih jernih. Bergayung-gayung air itu mendidihkan aliran darahkudan ku berpikir, “hari ini aku tidak ada acara kenapa tidak kugunakan menulis tuk memeriahkan Ultah WRM apalagi hari ini penutupan pengiriman tulisan, yaaa walaupun seandainya nanti tak masuk 3 besar tapi siapa tahu dapat bingkisan dari Mom Ena..hahaha..berkhayal, yaaa..pengen banget sih nyicipin kreasi boganya beliau..ngefans dengan hasil boganya”. Kupungut kertas-kertas bergambardan crayon-crayon “peri” kecilku, betapa “peri”ku sangat menggemari membubuhkan pucuk-pucuk warna crayon diatas “kanvas” bergambar itu. Yaa..baru dapat dua alinea di layar komputer “Nenek” tapi “peri” kecil-ku sudah datangdan mulai membaur denganku. “Mau ..mau, bikin kapal, rumah, ayo..”, permintaannya untuk menuangkan gambar itu dilayar “Nenek”. “Lengket sekali badanmu Nak, ayo ibu mandiin supaya segar & tidur ya”, ajakku lembut,dan memang kenyataannya “peri”ku kelihatan mengantuk, capek & aku sendiri ingin meneruskan menulis.., tahu khan maksudku, pembaca?.. Ada 24 crayon tersimpan utuh untuk beberapa warna sedangkan beberapanya patah, tapi aku bukan berbicara atau mengupas crayon-crayon tersebut. Aku sebagai seorang ibu hanya ingin berbagi hasratdan sebagian kecil keseharianku bersama “peri’ kecil-ku dibalik peranan “crayon maya”ku dengan menguraikan beberapa kalimat untuk setiap warna crayon yang “peri” kecil-ku miliki. “Ibu ayo menggambar”, ajak “peri” ku di malam yang sudah hampir larut tanpa menyadari betapa ngantuk ibunyadan capek bukan kepalang setelah hampir dari pagi bergelut dengan angka disebuah kantor asing. Tapi demi cintadan kasih sayang seorang ibu, kekuatan cinta itu mengalahkan rasa pegal di sekujur tubuhnya. Diambilnya crayon warna putih.., “Ibu, warna putih ngga keliatan ya di buku gambar”, celotehnya. “Karena Cinta menggambarnya di kertas putih, coba kalau ditoreh diatas warna hitam, pasti warna putihnya akan terlihat”, jelasku. Cinta.., itulah sebutanku kadang-kadang terucap dari bibiku untuk “peri” kecil-ku itu. Masihterlihat jelas potret kehidupannyadan warna putih sangat dominan melekat dalam tubuhnya, kugendong, kupeluk, kudendangkan lagu Shalawat Nabi serta nyanyian kecil ditelinganya. Aku ingin dia lebih berwarna seperti pelangi yang sesungguhnya bukan warna pelangi lagu dengan warna terbatas ataupun nyanyian balonku yang secara tak sengaja mengajarkan anak kita bermanipulasi..(hahaha..teringat akan salah satu teman WRM yang mengupas tentang nyanyian balonku itu disalah satu multiply-nya). Crayon putih..bersih, suci, hikmat, sering dipakai berhubungan dengan Sang Khalik.., putihnya “peri” kecilku & putihnya “crayon mayaku” seakan berdampingan untuk kuisi dengan pelangi masaku. Teduh sekali saat kulihat wajahnya dikala tidur serasa warna biru itu semburat diwajahnya. “Crayon birunya mana, Bu”, pertanyaan itu membuyarkan konsentrasiku memandangin wajahnya yang asyik menorehkan crayon biru disalah satu sisi kotak gambarnya. Aku teringat bagaimana “Crayon Maya” menjadi sangat teduh berdialog diantara warna-warna lainnya, menambah rasa perhatianku sebagai seorang ibu yang selalu haus untuk membagikan keteduhan untuk “Peri” kecil-ku ini. Kadang sering kita mendengar istilah baby blue, feeling blue yang katanya sih lagi sedih mengharu biru atau kuatir yaaa tak taulah, masa bodo dengan istilah wong asing itu, bagiku biru adalah teduh, gimana dengan blue banddan blueberry..? Hahaha itu sih mainannya ibu-ibu yang doyan bikin kue, siapa lagi kalau bukan, Mom Ena & Mom Inong, Moms suhu boga kita di WRM. “Biru atau Blue”, begitu penjelasanku buat “peri” kecil-ku. “Huaah..huaahhh,” teriakan tangis itu makin kencang terdengar. Seonggok crayon merah melekat pekat diraut “Peri” kecil-ku. MARAH! Mengamuk! Akankah merah selalu terindentifikasi dengan kemarahan? Ah ternyata tidak juga, “Gong Xi Fat Choi” hampir 100% tidak jauh dari warna itu, masyarakat oriental itu menandakan sebagai tahun baru, semangat baru (mudah-mudahan saya tidak salah akan hal ini). Merah Marah, hanya terpaut perbedaan satu huruf di suku pertamanya..hmmm..bisa juga sih tergantung persepsi orang menggunakannya dalam situasi yang berbeda. Di “Crayon maya”ku seakan aku terbius dengan peranannya, bagaimana warna-warni berdiskusi menyikapi kemarahan anak. Aku sendiri teradopsidan menuangkan kesabaran seorang ibu menghadapi “Peri” kecil-ku itu dengan berusaha memahami perasaannya kenapa dia begitu marah terhadapku, masuk dalam keadaannyadan menjelaskan tanpa dengan kekerasan kenapa ibu kesal sehingga membuat kamu menangisdan marah. Memberikan pengertian bahwa apa yang dia lakukan itu menyakitidan mengganggu hati orang lain dengan cium dalam dekapan hangat. Guratan crayon merah itu begitu kuat namun berlahan pudar dengan timbunan crayon putih. Dedaunan itu berlenggang ditiup angin dan aku hanya mampu memandangnya dari balik kaca jendela dekat dengan “Nenek” ku, “Daunnya warnanya green ya Bu,” ucapnya dengan semangat menodai pola daun dikertas gambarnya. Crayon hijau memang mendominasi disetiap tanaman yang tumbuh subur, pertanda kesegaran disetiap sudut pandangan, tapi ada kalanya berjatuhnya daun yang berserakan itu terkadang peris seperti berserakannya mainan “Peri” kecil-ku. Wajah merahdan rambutku seakan protes untuk minta berdiri dikala menyaksikan boneka, mobil-mobilan, pensil, panci mainan, puzzle, guling, bantal, tumpahan air, kain, sobekan-sobekan kertas, bola, sepeda, tongkatprincess, wuuahh..seabrek mainan itu berserakan diruang tamudan tengah, yang ada diriku lemasdan kesabaran sebagai seorang ibu diuji dan tak mungkin pernah berujung. Kuteringat dengan “Crayon Maya’ku, ada segilintir sumbangan pemikiran disaat menyiasati menumbuhkan rasa disiplindan selipan pelajaran matematika menghadapi keaktifan anak disaat mengumbar segala jenis mainannya. “Ya ampun Adek!, sampai berantakan begini”, nada kesalnya mulai tumbuh. Namun, aku tak ingin “Peri” kecil-ku menjadi penakut terhadapku karena kegalakanku yang terkadang timbuldan kuanggap wajar ..sebagai manusia yang tak sempurna.., aku teringat... “Ayo, ibu bantuin merapihkan mainan yuk”, sambil kugandeng tangannya untuk meraih mainan-mainan itu dimasukkan keranjang yang lambat laun mencairkan kemalasannya. “Trus kita hitung ya mainannya ada berapa..satu, dua, tiga, trus yang ini belum..one, two, three, four”, celotehku buat “Peri” kecil-ku supaya belajar tuk mendisiplinkan diri sambil bermain hitungan walaupun secara fisik belum paham betulangka 1, 2 atau 3 yang mana. “Tolong, ambilkan Ibu kain buat membersihkan lantainya ya Sayang, please!,” kataku. Tangan mungilnya mulaibelajar mengepel..pelandan belum sempurna, terkadang punya inisiatif menyapu lantai menyisihkan sampah-sampah. Kemauan untuk berdisiplindan memenuhi perintah ibunya kian mulai terbangun..ada benih kebanggaan terselimut dalam diriku sebagai seorang ibu.. Jadi Crayon hijau apa ya artinya, heheh..aku mengganggapnya sebagai warna berserakandan indah dipandang mata..dari berserakan menjadi tersusun rasa kedisiplinan, nyambung ngga sih! Dua hari lagi, seluruh dunia pasti mengenal Valentine Day yang identik dengan perasaan cinta. Dalam diriku perasaan cinta tidak hanya ada di hari tersebut tapi ada disetiap denyut nadiku, seperti halnya rasa cintaku terhadap Yang Maha Kuasa, suami, anakdan seisi muka bumi ini. “Tongkat Putri Nirmala khan warnanya Pink”, cerita “Peri” kecil-ku, penggambaran kecintaandan perasaan kasih sayang terhadap sesama. Guratan Crayon Pink itu memainkan dirinya seakan-akan seorang Putri Nirmala yang melekat dalam dirinya dengan serba pink. Hmmm..teringat akan seorang sahabat di “Crayon Maya” dengan rasa cinta sahabat, beliau mengirimkan DVD Putri Nirmala buat “Peri” kecilku hingga membuat tiada mengenal bosan akan isi cerita dilayar visual itu. Ada lagi perwujudan dari “Crayon Maya” akan warna berlambang cinta itu telah dituangkan dalam kegiatan nyatadan sebagai pelajaran rasa berempati terhadap orang yang membutuhkan sebut saja kunjungan ke Rumah Cahaya yang sanggup menambah ruang hati kami sebagai orang tua dalam berbagidan mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya kepada anak. Dulu kita sering merasakan bahagia yang membumbung tinggi saat pacar kita yang sekarang menjadi suami kita mengatakan three magic word “I Love you” tapi bahagia & haru itu menjadi lebih lagi tingginya saat “Peri Kecilku bisa mengucapkan “I Love you, Ibu” dengan polosdan tulus. Hati siapa yang tak luluh mendengar kata itu dari mulut mungil yang ada dalam dekapan kita?Crayon Pink itu dituangkannya dalam gambarnya. Tentu kita pernah ingat kegiatan online yang luar biasa dari “Crayon Maya”, yaa..Seminar Online yang mengupas segala sesuatu yang berhubungan dengan kecerdasan anak. Kenapa tidak aku gambarkan saja dengan warna orange dari Crayon “Peri” kecilkudan dia sangat menyukai Crayon Orange untuk warna jendelanya. Warna semangat hidup, semangat dalam mencerdaskandan memahami kemampuan diri anak, semangat dalam memberikan pendidikan yang terbaik sesuai kapasitas anak, semangat informasi system pendidikan diluar negeri maupun dalam negeri. Teringat saat membaca bagaimana salah seorang sahabat “Crayon Maya” dalam memberikan pelajaran sains, ah! Aku jadi terinspirasi darinya saat akudan “Peri” kecilku jalan-jalan disuatu pasar malam rakyat lalu mampir disalah satu penjual KK5. “Hmmm, murah juga pilih tiga macam dengan membayar cukup sepuluh ribu rupiah saja”, gumanku, lalu kupilih mikroskop dari salah pilihanku. Yaa..walaupun bukan mikroskop asli tapi cukup bisa mengenalkan arti sains dalam diri “Peri” kecilku. Itulah semangat Crayon orange itu. “Orange ya Bu, kayak warna jeruk donk,” ceriwisnya. Ilmu yang kudapatkan dari seminar kecerdasandan matematika sangat membantuku dalam berinteraksi dalam pelajaran nyata disaat aku berada dirumah bersama “Peri” kecilku. Anak gifted atau tidak bagiku anak adalah keunikan tersendiri yang patut kita pahami keadaannya. Apalagi sekarang ada E-book tentang hasil seminar online mengenai kecerdasan anak, hebat..terobosan baru buat “Crayon Maya’ku. Akankah aku dapat memperolehnya secara gratis..hahah..berharap! Sah sah saja mempunyai crayon orange yang dicoret-coretkan dijendela itu dengan penuh semangat. “Peri” kecilku masih belum tidur malam ini walaupun sudah hampir jam 11 malam, dan aku harus menyelesaikan tulisan ini jadi maafkan ibumu Nak, ibu terpaksa men”cuek”in walau kadang-kadang engkau kupangku sambil mengetikdan berceloteh bahwa ketikan ini berwarna hitam. “Rodanya pake crayon warna hitam saja”, katanya saat ide pilihan warna jatuh untuk gambar ban mobil. “Black ya”, tegasku dengan sisipan “English”. Aku terkadang takut dengan crayon hitam itu, menggambarkan pada diriku akan suatu kematiandan kegelapan. Pemahaman akan adanya dunia laindan menjelaskannya keanak balita, sungguh pembahasan di “Crayon Maya” yang cukup unikdan religius. Betapa tidak, kematian identik dengan perpisahandan aku belum ingin mati cepat, aku masih ingin hidup lebih dari seribu tahun lagi karena “Peri” kecilku sangat membutuhkanku apalagi dengan sifat “jealousand posessive”nya yang tinggi terhadap diriku. Yaa religius..maka itulah pendalaman keagamaandan pengenalan kepada Sang Maha Pencipta Alam Semesta adalah point yang paling tinggi dalam kehidupan keluarga kami. Bak roda dengan bauran crayon hitam yang terus berputar & pada saatnya nanti akan berada ditempat yang sangat “menjanjikan” jadi kalau kata salah satu iklan “Hitam? Siapa takut?”.. “Tadi, makan coklat ya?” tanyaku. “Peri” kecilku menggeleng pelan..diraihnya crayon coklatdan ditorehnya dalam gambar jendela. Giliran nuansa coklat dalam jendela sebagai jalur aroma ruang kerjaku yang lain apalagi kalau bukan “dapur coklat”, tempat aku menuangkan kreasidan penyajian masakan buat suamidan anakku. Kuraih resep-resep pilihan “Crayon Maya” apalagi saat itu mendekati lebaran tentunya membuatku bingung akan pilihan menu masakan special di hari special. Coklat identik dengan segala jenis bahan bumbu-bumbu yang berkulit serba mendekati warna coklat, siapa yang tak kenal jahe, ketumbar, kunci, kencur, telurdan ada lagi coklat warna& bahan dasar dari brownis kukus yangmembuat diriku“terangkat” saat dipuji suamidan anakku setelah mencicipi brokus-ku. Cinta itu tumbuh dari dapur..hahah..makin senanglah kita sebagai ibu/istri/menantu disayang anak/suami/mertua bahkan kalau kita pintar memasak. Hampir penuh warna jendela itu dengan crayon coklat sesedap aroma makanan dari dalam dapur coklat. “Peri” kecilku begitu jelas teringatdan sering menggunakannya dengan pengucapan purple-nya dari pada pengucapan ungu. “Itukan warna purple”, tunjuknya saat jatuh pada gambar anggur, buah kesukaannya. Ungu..warna dominan di “Crayon Maya” sekaligus warna terfavorite kalau boleh aku bilang dari salah seorang sahabat “Crayon Maya” sekaligus sahabat dikantorku. Terus apa hubungannya denganku sebagai peran orang tua terhadap anak. Sebagai Ibu, pemilihan ungu menginspirasiku pada suatu kedekatan yang mendalam buat “Peri” kecilku. Kedekatan secara emosional, kedekatan beraktifitas bersama dalam bermain, berkaryadan berseni. Bagaimana digambarkan aktifitas mainan seperti apa yang bisa membuat diri kita akrabdan timbulketerikatan bathin yang tinggi walaupun kuantitas kita bertemu terbatas buat para ibu yang sibuk diluar rumah. Akupun tak malu bermain peran-peranan dengan “Peri” kecilku walaupun apa yang aku lakukan itu lucu, serem bahkan terkesan “bego”..tapi kerenyahan tawa mampu menghiasi puri kami, mengajaknya mencuci serta membuang tulangnya serta menyentuh langsung cumi-cumi yang akan aku masak, memecahkandan mengaduk telur kita bikin kue, bergumal dikasur hingga ciuman demi ciuman dari bibirnya mendarat bertubi-tubi di pipidan kadang beradu hidung sambil tertawa geli. Nuansa keakraban tercipta dengan mudahdan sederhana di sekitar kita. “Ibu buangin biji anggurnya,” pintanya saat bersantap bersama buah favoritenya yang bercrayon ungu lambang keakraban orang tuadan anak. “Ibu, lampunya warnanya merah ya, berhenti ayah!,” katanya tegas saat ayahnya hampir menerobos rambu lalu lintas itu. “Ayah, kalau hijau baru kita boleh jalan ya Bu,” katanya lagi seakan minta pembetulan. Aku tersenyum..oh ternyata “Peri” kecilku sudah memahami penjelasanku waktu kuterangkan arti warna-warna rambu lalu lintas. “Iya, Sayang, nanti Ayah harus sudah bersiap-siap jalan kalau lampunya sudah menunjukan warna kuning,” jelasku. “Yellow,” teriaknya. Crayon yellow itu dipungutnya saat jatuhdan bertebar untuk warna gentengnya. Bagaimana kuning itu muncul saat “Crayon Maya”ku melamparkan tema “Bayi Kuning” di seminar online nya. Kuning pertanda kehati-hatian, kesiapan akan kesehatan supaya kita tidak terjebak dalam kesusahan, kesakitandan kesulitan. Berbagai penanganandan kesiapan orang tua dalam menghadapi anak sakit, entah itu sakit gigi, diare, gatal-gatal sampai urusan sakit kankerpun adalah ilmu buatku dalam penanganandan pencegahan buat anak. Pemilihan makanan kadang menjadi filter buat kehati-hatian sebelum masuk dalam tubuh keluargadan peran itu jatuh dalam pundakku sebagai seorang ibu. Genteng itu hampir penuh dengan crayon kuning. Hati-hati..jangan terlalu tinggi nanti terjatuh. Rasanya aku tak sanggup lagi menguraikan Crayon “Peri” kecilku satu persatu, hari telah larut dan besok aku mesti bertugas kembali..mengurus suamidan anak, memasak pagi-pagi, berangkat menunaikan tanggung jawabku di salah satu kantor, bermain dengan anak, “bercanda” dengan suami lalu aku boleh tidur.Lakukanlah ini sebagai ibadahdan bagian dari kegiatan mulia sertajauh dari kata “mengeluh”, aku benci kata itu seandainya tiba-tiba lekat dalam benakku. Gradasi warna kehidupan berbaur menyatu seiring jalannya sebagian kecil kehidupanku. “Crayon Maya” adalah salah tempat pustakaku, banyak sekalidan tak mampu kukupas satu demi satu karena keterbatasaku untuk bersama dengan warna-warna itu. Crayon “Peri” kecilku akan kuajak berkeliling dunia bersatu dalam kehidupannya mengalir saja tanpa paksaan hingga kebahagian masa kecil teregukdan tertanam dalam dirinya hingga dewasa nanti. Tulisan ini khusus aku tujukan buat Putri Kami (Kamiilah Rizki Permatasari), Suamiku (Suprapto), Bapakdan Ibuku yang sudah berada dialam sana,dan Sahabat-sahabat saya di WRM Indonesia. I ♥ You Full… Tulisan ini terinspirasi dari putri kami (Kamiilah)dan pustaka mayaku (WRM), Ini hanyalah wujud ilustrasi warna dalam penggambaran sebagian kecil keseharian serta keterkaitan antara peranan diriku sebagai orangtuadan WRM Indonesia menurut padangan pemikiranku saja. Oleh karena itu kurang lebihnya mohon dikoreksidan dimaafkan karena memang tidak ada sumber khusus yang saya adopsi untuk bisa menguatkan tulisan ini. Terima kasih yang tak terhingga buat Moderator WRM, Moms yang begitu aktif menyumbangkan pemikirannya buat peran kita sebagai orang tua yang menjadi panutan & kebanggan anak dengan diiringan bimbingan dari Yang Maha Pengasih. “SELAMAT ULANG TAHUN WRM INDONESIA KE–2”, semoga dirimu semakin berwarna informasi bak crayon-crayon yang selalu tertoreh mesra penuh kehangatan..semakin berisi namun tetap berjiwa padi. Key Word: 1. Nenek=komputerku yang lambat (istilah saja, mohon maaf ya buat para nenek sesungguhnya yang belum tentu lambat) 2. Crayon Maya=WRM Indonesia (Pustaka Maya, bukan sekolah/kursus maya karena aku tak ingin lulusdan itu berarti..aku harus berpisah..) 3. Peri kecil= Kamiilah Rizqi Permatasari (Putri kami, sosok amanah yang akan dipertanggung jawabkan nantinya). 4. Warna-warna = Para Mom yang hebat-hebat di WRM Indonesia Ciracas, 12 Pebruari 2006 Salam, Roesmijati **+++ Artikel Parenting Paling Kreatif +++** |