Akhir Juni 2004 adalah saat-saat awal saya menjalani kehidupan baru di negeri orang. Saya bersama Qori-puteri saya- yang saat itu masih berusia tiga belas bulan, tiba di kota Duisburg, salah satu nama kota di Jerman yang letaknya hampir berbatasan dengan Belanda, menyusul suami yang telah enam bulan lebih dulu tinggal di sana. Aller Anfang ist schwer, begitu salah satu bunyi pepatah Jerman yang artinya kurang lebih dalam setiap permulaan selalu ada kesulitan. Itu pula yang saya alami di sini.
Mau tidak mau, suka ataupun tidak saya harus menyesuaikan diri dengan pertukaran kondisi, bahasa, gaya dan juga kebiasaan hidup di negeri ini, dengan tetap menjaga nilai-nilai prinsip yang saya anut tentunya.
Di kala kondisi belum stabil itulah, ternyata Alloh bahkan memberi amanah baru. Saya hamil lagi. Suatu hal yang tak terduga karena sebelumnya, di Indonesia, saya telah mengikuti salah satu program keluarga berencana. Ada rasa kecewa yang tak mampu saya bendung. Tapi itu adalah kehendakNya. Dan jika Dia berkehendak, pasti terlaksana.
Beruntunglah, kekecewaan itu tidak berlarut-larut. Saya kemudian sadar, Alloh sudah menitipkan amanah itu, dan itu harus dijaga dengan segala kemampuan yang ada. Yang ada dalam benak saya adalah jika Dia telah mempercayakan itu pada saya, artinya Dia yang Maha Tahu menilai saya mampu, dan saya pasti mampu. Hanya saya yang belum tahu caranya saja.
Saya pun kemudian menjalani hari demi hari dengan menjaga Qori dan mempersiapkan kelahiran anak kedua. Dan di bulan Maret, di penghujung musim dingin, lahir seorang bayi laki-laki yang kemudian kami beri nama Ihdin. Pada saat yang hampir bersamaan ada masalah di apartement kami yang menyebabkan kami harus pindah. Mulai awal Juni 2005, kami pindah ke salah satu apartement khusus mahasiswa di kota Essen.
Kemudian waktu bergulir begitu cepat. Saya terjebak rutinitas sehari-hari, larut dalam urusan rumah tangga, lengkap dengan Qori yang masih batita dan bayi Ihdin tentu saja. Tak pernah ada waktu tersisa untuk diri sendiri barang sebentar saja. 86.400 detik yang Alloh berikan tiap hari selalu berlalu begitu saja. Melesat dengan cepat tanpa saya telah mengisinya dengan hal yang berarti. Saya tidak hanya merasa stagnant lebih sekian lama, otak ini semakin hari terasa makin tumpul saja, padahal saya hidup di negara maju di mana banyak manusia yang selalu kreatif dan inovatif. Saya benar-benar merasa berjalan mundur di tengah manusia yang berlari demikian cepat.
Hal itu menyebabkan stamina ruhani saya tidak selalu berada pada kondisi prima. Bahkan lebih sering surut. Saya menjadi labil, padahal itu sangat buruk, mengingat yang saya hadapi adalah anak-anak yang masih kecil, yang bagai lembaran-lembaran putih. Dalam kondisi seperti itu, bisa jadi saya bahkan malah mengotorinya, bukan mengisinya untuk mengantarkan mereka menjadi anak yang sholih dan sholihat.
Kemudian saya menengok lebih dalam ke sekeliling. Terutama kepada keluarga maya saya, We R Mommies. Keluarga para ibu dan calon ibu. Dan ternyata di dalamnya banyak wanita-wanita perkasa. Wanita-wanita yang terus belajar meski jumlah prajurit kecilnya melebihi saya. Wanita-wanita cermat, yang mendidik anak-anak mereka bukan dengan ala kadarnya. Tetapi dengan ilmu yang terus dicaii.. Di dalam keluarga maya itu pula banyak wanita yang bekerja di luar ataupun berkarya di dalam rumah tangganya sekaligus tetap mendidik anak-anak mereka bukan dengan waktu dan tenaga sisa.
Dari mereka saya bercermin, dan kemudian tergugah untuk berbuat lebih. Dai sana juga saya mendapatkan trik untuk tetap bisa belajar di tengah rutinitas mengurusi batita. Ternyata masih banyak waktu luang untuk membaca di sela-sela Ihdin minum ASI. Masih ada waktu mencari ilmu di saat anak-anak asyik bermain sendiri. Dan masih ada kesempatan untuk mengasah kemampuan. Sayalah yang selama ini belum bisa memanfaatkan peluang-peluang itu.
Saya kemudian berusaha membenahi diri. Peran saya saat ini adalah seorang ibu. Peran yang mulia namun tidak mudah, karena di dalamnya ada tanggung jawab mendidik generasi. Semakin dijalani, semakin terasa bahwa saya harus membekali diri dengan berbagai ilmu untuk menambal kekurangan di sana-sini.
Menghadapi Qori dengan segala keingintahuannya akan segala hal yang baru, tidak hanya membuat saya sadar bahwa hidup harus diisi dengan terus belajar, tetapi juga harus menghamparkan samudera kesabaran.
Menghadapi berbagai tingkah lakunya, dibutuhkan seni memuji dan seni memarahi. Memuji yang bukan memanjakan dan memarahi yang bukan sekedar meluapkan emosi. Untuk memenuhi kebutuhan gizinya seimbangnya, juga diperlukan seni memberi menu-menu yang menarik dan padat gizi. Dan masih banyak lagi ilmu-ilmu parenting yang diperlukan untuk belajar menjadi bukan sekedar ibu.
Dan proses membenahi diri ini bukanlah hal yang mudah. Karena budaya terus belajar itu tidak tercipta seketika. Di dalamnya ada kesabaran yang harus selalu ada, ada kedewasaan mencerna yang harus terus ditempa. Sesekali terjadi pasang surut semangat, tetapi yang pasti tujuan mendidik anak-anak dengan sebaik yang saya bisa tetap tidak berubah.
Semoga.
**+++Artikel Parenting Paling Semangat & Supportive+++** |