We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Renungan arrow Cool Mama!
Cool Mama! E-mail
Pengirim: Nieza Graha   
Selasa, 18 April 2006

Suatu hari disaat kami sekeluarga sedang bercengkerama di ruang keluarga. Puteri sulung saya menyanyi dan berkata bahwa dia mau menjadi penyayi rock. Puteri sulung saya sibuk dengan kacamata hitamnya dan asyik bernyanyi bagaikan seorang rocker. Melihat gayanya saya bertanya padanya, ’’Memang kakak ingin menjadi rocker?’’. Dengan cepat dia menjawab..’’ Iya, Kakak mau jadi rocker’’. ’’Memang penyanyi rocker itu yang bagaimana Kak?’’ balas saya dengan penuh selidik. Dia langsung menjawab, ‘’ Itu lho Ma yang menyanyi memakai kacamata hitam, dan suaranya asyik. Cool! ‘’ kata sang kakak dengan antusiasnya.

Mendengar celoteh si Sulung, saya dan suami langsung berpandang-pandangan dengan penuh was-was dan sedikit terperangah. Suami pun menimpali,’’Kak jangan jadi penyanyi rocker deh, penyanyi rocker itu kan tidak bagus.’’ Saya pun tidak kalah akal berusaha mempengaruhi sang kakak untuk mengurungkan keinginannya menjadi penyanyi rock lagi. Tuh Kak, lihat deh di TV musik rock itu bikin pusing kepala, tidak enak didengarnya. Sulungku hanya tersenyum, dan dia malah berkata,’’ Cool Mama!’’

*******

Kejadian malam itu membuat diri saya terhenyak. Ternyata sulung saya sudah mulai besar, dia sudah mulai mempunyai sebuah keinginan. Keinginan yang dia rasakan sesuatu yang mengasyikkan buat dirinya dan sebuah kehebatan tersendiri pula buatnya.

Saya sebagai orang tua mulai was-was. Takut akan keinginan dia yang tidak sesuai dengan kemauan saya sebagai orang tua. Saya takut akan keinginan dia menjadi seorang penyanyi rock. Saya takut dia akan terpengaruh oleh hal-hal yang buruk yang biasa dilakukan oleh penyanyi rock. Apalagi dia perempuan…..

Berkali-kali saya bertanya dan berkali-kali pula saya membujuknya untuk mengurungkan angan-angannya menjadi seorang penyayi rock. Sampai akhirnya dia berkata, ´´Ya, sudah deh Kakak tidak menjadi penyanyi rock, padahal sebenarnya Kakak masih mau lho menjadi penyanyi rock’’. Sebuah keputusan yang dia buat terpaksa, padahal sebenarnya didalam hatinya dia masih ingin agar keinginannya itu tidak diganggu.

Saya kembali termenung, bagaimana ya seandainya dia benar-benar mau menjadi penyayi rock. Bayang-bayang dan kecemasan akan kehidupan penyanyi rock terlintas lagi dipikiran saya. Jujur saya takut ! Saya tidak rela bila dia menjadi penyanyi rock. Saya berusaha mencegah dan membujuk dia serta memberikan berbagai cerita bagaimana tidak bagusnya penyanyi rock.

*******

Saya teringat akan orang tua saya. Mungkin dulu mereka pun seperti saya. Mereka mempunyai keinginan tertentu pada anak-anaknya. Dan mereka berusaha agar keinginan mereka itu juga bisa tercapai. Dan kini saya merasakan, bagaimana sebagai orang tua ingin agar anak-anak sukses dan berhasil dengan baik.

Naluri orang tua mungkin hampir semuanya sama, yaitu menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya. Dan cara penyampaiannya yang berbeda-beda. Dan pengelolaan dalam menyampaikan keinginan itu pun berbeda-beda. Ada yang otoriter, ada yang komunikatif, ada yang mengasyikkan dan ada pula yang menyebalkan.

Saya pun kembali berkaca pada diri saya sendiri. Saya berpikir dan menilai diri saya sendiri. Mengapa saya menjadi orang tua yang otoriter, yang memaksakan keinginan saya. Mengapa saya melarang sulung saya menjadi rocker.

Sulung saya masih kecil, masih 6 tahun. Masih banyak peluang dan kesempatan dia melihat dunia luar dengan bebas dan luas. Keinginan dia masih bisa berubah, sesuai dengan perkembangannya dan pengetahuannya pula. Dia masih tumbuh dan berkembang.

Tugas saya adalah mendidik dia, memberi bekal kepada dia untuk masa depannya. Memberikan sebuah pondasi yang kokoh buat dia. Memberikan pengetahuan, Iman, Aqidah dan Akhlak yang baik buat dia. Hmm... Dengan bekal yang baik yang saya berikan, Insya Allah dia bisa berkembang dengan baik pula. Semoga dengan bekal yang baik yang saya tanamkan sejak kecil pada dirinya akan selalu lekat pada pribadinya sepanjang masa. Saya harus menjadi teman dan sahabat buat dia....

Mengapa saya takut akan keinginan dia menjadi seorang rocker. Toh tidak semua rocker itu rusak. Semua kembali kepada diri masing-masing.

Ah…..saya terlalu takut oleh bayangan…

Ternyata menjadi orang tua yang baik dan bijaksana itu tidak mudah ……..(NzG)

Munich, Maret 2006

Nieza Graha

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement