|
Halaman 2 dari 2 Dalam gejala globalisasi dan implikasinya, justru pemahaman sejarah nasional menjadi unsur penting, bukan saja untuk memupuk rasa nasionalisme yang tinggi, tetapi juga bisa menjadi semacam modal dasar untuk menghadapi era tersebut. Saya tidak ingin anak saya kehilangan identitas nasionalnya. Sejauh apapun dia berjalan nantinya, kebanggaan akan bangsa besar ini harus menjadi bagian dari perjuangannya.
Suatu saat saya membaca sebuah majalah wanita dimana Ibu Zuraida Retno Pamungkas, seorang psikolog memberi beberapa alternatif membangkitkan nasionalisme pada anak.
Di rumah Sebaiknya sejak dini, di rumah kita sediakan buku-buku dan film-film yang berkaitan dengan Indonesia. Dengan begitu anak-anak akan mengenal dan tahu bahwa Indonesia juga mempunyai sesuatu yang dibanggakan.
Berlibur Jangan hanya menghabiskan waktu libur anak dengan melakukan wisata belanja. Selipkan juga kegiatan yang menambah pengetahuan mereka akan Indonesia. Kunjungan ke museum, pergi ke desa, melihat petani bekerja, ke kebun the melihat proses pembuatan the dan seterusnya. Kegiatan ini membantu mereka menyadari bahwa negeri inilah yang memberi apa yang mereka butuhkan.
Berbelanja Jangan selalu mengagung-agungkan produksi luar negeri. Bila produk dalam negeri memenuhi standar mutu, apa salahnya membeli barang produksi dalam negeri.
Memberi contoh Ini hal yang paling berat, tapi paling penting. Kita harus memberi contoh bahwa kita peduli pada bangsa ini. 1. Mengenalkan anak pada sejarah Indonesia. Tidak mungkin membuat anak mencintai sejarah bangsanya, bila kita sendiri tidak tertarik. 2. Mencintai produk dalam negeri. Kita juga harus konsekuen dan mulai mencintai barang buatan sendiri. 3. Menyediakan waktu menemani anak-anak mengeksplorasi negerinya. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah, museum, dan menjelaskan kegiatan-kegiatan seluruh anak bangsa yang ditemui. 4. Antusias dalam kegiatan kebangsaan yang melibatkan seluruh bangsa. Misalnya menyikapi pemilu dengan antusias dan menjelaskan artinya kepada anak. Menjadi supporter dalam pertandingan-pertandingan antarbangsa, dan turut memaknai hari kemerdekaan.
Celetukan anak saya dan solusi yang diberikan Ibu Zuraida menjadi pekerjaan rumah bagi saya dan semua orang tua Indonesia pada umumnya. Bila anak masih usia balita, mulailah dengan mempersiapkan kertas merah dan putih, sebatang sumpit atau lidi, gunting dan lem. Bantulah jemari mereka membuat dan mengibarkan merah putih kecil mereka dengan bangga. ….bendera merah putih, bendera bangsaku….
Selamat hari merdeka!
Sumber: TIRAS- Dr. Taufik Abdullah: Sejarah, dan Soal Elite yang Berkongkalikong, Swara Cantika No.120-Juli-Agustus 2004
<< Mulai < Sebelum 1 2 Berikut > Terakhir >> |