|
Halaman 1 dari 2 "Mau jadi orang Amerika." Ungkapan ini keluar dari mulut kecil Favian (6 tahun). Anak saya ini spontan berkata demikian setelah menonton sebuah iklan kampanye pasangan Capres dan Cawapres Indonesia di televisi. Visualisasi iklan tersebut memperlihatkan bagaimana Indonesia dalam keadaan prihatin. kerusuhan, bencana alam, wabah penyakit, tindak kriminal dan kondisi-kondisi masyarakat prihatin lainnya. Saya tidak akan menulis soal politik maupun efektifitas pesan iklan kampanye di televisi. Pernyataan Favianlah yang menarik perhatian saya. Membuat terkesima, tepatnya.
Sebetulnya esensi iklan itu sendiri adalah sang Capres menjanjikan mengangkat rakyat Indonesia dari keterpurukan apabila mereka terpilih dalam Pemilu. Tapi dalam mata polos anak saya dan tertanam dalam benaknya adalah Indonesia yang tidak menyenangkan dan penuh bencana. Saya mengerti kenapa Favian ingin jadi orang Amerika. Bayangkan, semua yang tersaji di depan matanya asal Amerika, katakanlah produk-produk mainan, makanan populer, tayangan televisi, semua menyenangkan. Sampai bendera kebangsaan yang disukainya adalah sang “stars and stripes”-nya Amerika. Ia tidak peduli soal bencana dan keprihatinan yang juga sedang digeluti orang-orang Amerika saat ini.
Eep Saefulloh Fatah, pengamat politik muda dari Universitas Indonesia bahkan pernah menulis buku berjudul "Bangsa saya yang menyebalkan" pada 1998. Eep menulis, "Betapa sebalnya menyaksikan semua itu. Tetapi dengan serta-merta rasa sebal itu berubah menjadi kesedihan dan keprihatinan mendalam tatkala saya sadar bahwa itulah bangsa saya.” Kekesalan yang diungkapkan Eep apakah menjadi tanda bahwa rasa kebangsaan atau nasionalisme di kalangan anak muda kita telah memudar. Boleh jadi rasa kebangsaan atau nasionalisme tidak selalu berupa sebuah kebanggaan atau ungkapan terhadap bangsa, namun kadang juga berwujud rasa kesal dan bahkan benci. Sebab kekesalan dan kebencian yang lahir dari rasa memiliki akan menimbulkan perasaan peduli pada negeri ini. Tapi sebagian anak muda yang lain mungkin tidak begitu peduli, akan di bawa ke mana bangsa ini.
Akan dibawa ke mana bangsa ini, apabila generasi anak saya yang baru lepas balita saja sudah enggan menjadi bangsa Indonesia. Saya jarang sekali memuji bangsa dan negara ini, kecuali saat berada di luar negeri atau berbicara dengan orang asing. Namun manakala anak saya sendiri mengungkapkan kekesalan terhadap bangsa ini, mulut saya spontan berucap “Mama bangga jadi orang Indonesia.”
<< Mulai < Sebelum 1 2 Berikut > Terakhir >>
|