|
“Anakku, umur 20 bulan, tapi belum bisa ngomong yang jelas, masih aga planet. Kira-kira ada yang kelainan nggak ya? Ada yang punya pengalaman yang sama, apa ya yang mesti aku lakukan. Khawatir nih, maklum anak pertama” “Eh ada yang tahu tampat beli perlengkapan bayi yang murah meriah tapi kualitas lumayan nggak?. Aku lagi hamil 7 bulan nih, mau persiapan lahiran, ditunggu infonya lho,..thanks before”. “Tolong dong yang punya info soal sekolah SD yang cukup rekomen di daerah Jakarta Timur. Rekomen dilihat kurikulum, harga dan lokasi ya,..Please,..makasih banyak sebelumnya ya,..”
Ungkapan-ungkapan di atas adalah hal yang umum kita temui bila kita mengikuti sebuah milis dimana anggotanya adalah kaum ibu. Milis, seingat saya mulai marak sekitar tahun 2000, dan semakin ramai dan beragam di tahun 2003-2004. Beragam milis dengan beragam komunitas dan tujuan pun terbentuk. Tapi biasanya satu ciri khas hingga terbentuk suatu milis adalah karena ada suatu persamaan. Entah itu persamaan hobi, karir/jenis pekerjaan, merk kendaraan hingga kesukaan terhadap makanan.
Salah satu bidang yang sedang hangat di permilisan, adalah hal parenting atau pengasuhan anak. Melalui milis, seorang ibu muda bisa mendapatkan informasi berguna, jitu dan praktis dari anggota lainnya. Mereka saling berbagai satu dengan yang lain, sesuai dengan pengalaman dan kapasitasnya. Akan semakin menarik bila di dalamnya tergabung juga seseorang yang memunyai keahlian khusus, seperti dokter, psikolog bahkan guru musik.
Efektifitas milis dalam menyampaikan sesuatu memang sangat tinggi. Satu pernyataan bisa disampaikan kepada puluhan, ratusan bahkan ribuan orang sekaligus, dan mereka bisa memberikan tanggapan, atau umpan balik dengan mudah, menjadikan dunia terasa tanpa batas. Tak heran bila kemudian pengaruh keberadaan milis semakin besar.
Setiap orang tua, siapapun ia, tentunya menginginkan hal yang terbaik bagi anak-anaknya. Anak adalah sebuah amanah, titipan Tuhan yang harus selalu dirawat dan dijaga kehidupannya. Membesarkan anak dengan kondisi jaman sekarang, dimana arus informasi dan pengaruh dari lingkungan semakin beragam, menuntut para orang tua untuk selalu “alert” dan “up to date” , hingga bisa seoptimal mungkin memberikan hal yang terbaik bagi kehidupan sang buah hati.
Hal itulah, salah satu yang disodorkan We Are Mommies kepada para anggotanya. Milis yang berdiri di bulan Febuari tahun 2004 ini telah banyak memberikan kontribusi bagi para anggotanya. Saat ini keanggotaan yang tercatat di web yahoogroups adalah 329 orang, tersebar di seluruh Indonesia dan belahan bumi lainnya. Termasuk di dalamnya, saya yang saat ini berada di Tokyo Jepang pun telah banyak merasakan manfaat dari keberadaan milis WRM ini.
Sebagai orang tua muda yang hidup di perantauan, jauh dari sanak keluarga dan teman, keberadaan milis memberikan arti tersendiri. Keanggotaan WRM yang seluruhnya adalah wanita dan 80 % tinggal di Indonesia, membuat saya bagaikan memiliki ratusan teman untuk berbagi cerita, atau sekedar mengobati kerinduan kepada tanah air. Lewat milis saya bisa “mengintip” kondisi riil di Indoesia, terutama yang berhubungan dengan tumbuh kembang anak. Kondisi sistim pendidikan, menebak living cost di Indonesia, atau bakan sekedar mengetahui trend terkini yang beredar di kalangan para orang tua muda.
Mengasuh anak di negeri orang, di mana masalah bahasa dan perbedaan kultur seringkali menjadi kendala untuk mendapatkan informasi lebih dalam. Melalui milis sedikitnya memberikan pencerahan atau masukan yang cukup masuk akal yang bisa saya terapkan bila menghadapi persoalan seputar parenting. Dan sebaliknya, saya pun bisa memberikan sedikit wawasan, berupa informasi-informasi yang didapatkan dari lingkungan tempat tinggal di sekitar Tokyo dan sekitarnya. Demikian pula mereka yang tinggal di negara-negara lain, tentunya ini akan memperkaya asupan informasi bagi para ibu muda WRM.
Segala sesuatu senantiasa berhadapan dengan dua sisi. Demikian halnya dengan sisi positif dari milis akan ditemui pula sisi negatifnya. Kecepatan penyebaran sebuah pernyataan atau berita, kadang menjadi cukup berbahaya bila kenyataannya isi berita atau pernyataan tersebut bohong belaka (hoax). Salah satu satu sisi negatif yang akan selalu ditemui oleh para anggotanya. Karena tidak mudah bagi para owner milis menseleksi isi milis satu persatu. Maka para anggotanyalah yang senantiasa harus menyadari pentingnya mengirimkan sesuatu yang benar, terpercaya dan bermanfaat.
Media milis, terbatas pada komunikasi verbal hanya melalui tulisan. Mimik wajah, intonasi dan situasi kondisi yang melatar belakangi sebuah pernyataan, tidaklah diketahui. Ini pun merupakan sebuah kekurangan tersendiri. Memahami isi tulisan atau pernyataan seseorang menjadi memerlukan kehati-hatian yang lebih besar, supaya tidak terjadi salah persepsi. Senantiasa menggunakan kata-kata yang sopan, ramah dan benar bisa dijadikan salah satu solusi untuk menghindari salah persepsi.
Khusus soal parenting, hal dirasa cukup menjadi suatu hal yang kurang baik adalah munculnya suasana perbandingan. Seorang ibu baik disadari atau tidak kadang terjebak dalam proses “memamerkan” anak-anaknya., meskipun hal tersebut terlontar dalam kondisi “saling berbagi”.Artinya, tujuan awal tidaklah dalam maksud untuk berbagga diri berlebihan soal anaknya, sekedar sharing pengalaman, namun kemudian tergelincir atau “lupa diri”. Hal negatif yang pernah langsung terasa oleh saya adalah munculnya perasaan kurang berdaya/mampu, resah atau cenderung iri. Merasa kurang optimal sebagai orangtua, karena tidak sehebat orang yang berbagi. (pernah ditulis di blog http://herminwicaksono.blogspot.com arsip bulan April - 23 - 2005)
Ujung-ujungnya yang sangat disesali adalah membandingkan anak sendiri supaya bisa sehebat/sebaik anak orang lain. Bila hal ini dibiarkan terus tentunya sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak. Mereka dengan segala keunikannya masing-masing akan kurang dihargai. Selain itu sang ibu menjadi stress sendiri. Meneguhkan diri sendiri dengan keyakinan bahwa setiap anak adalah unik, mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing cukup efektif menghapus perasaan-perasaan tersebut.
Memahami betul proses tumbuh kembang setiap anak,melalui panduan-panduan yang terpercaya sangat membuka wawasan dan pandangan saya sebagai orang tua baru. Hingga lambat laun proses banding membandingkan dengan anak orang lain lain tidak lagi terjadi. Namun dalam hal negatif sekalipun tetap ada hikmah yang bisa didapat. Munculnya perasaan-perasaan tersebut setidaknya telah membuat saya semakin berusaha untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik. Adalah manusiawi bila setiap orang tua termasuk saya mengharapkan anak-anaknya lebih baik dari kedua orang tuanya. Ini pula yang mendorong saya untuk senantiasa mmperbaiki diri. Salah satunya melaui media pembelajaran ini.
Hal yang sangat membantu yaitu melalui keikutsertaan dalam seminar on line yang diadakan oleh WRM. Media ini benar-benar memberikan pencerahan. Karena dari seminar saya mendapatkan informasi yang lengkap langsung dari ahlinya.Munculnya e-book WRM yang pertama yang berisi seputar tumbuh kembang anak, otomatis menjadi bahan bacaan yang sangat bermanfaat. Memandu dan mengajak para orang tua muda seperti saya untuk lebih bijaksana dalam membesarkan dan mendidik para buah hatinya.
Di luar soal parenting, satu hal yang tetap menjadi ciri khas WRM hingga saat ini yaitu tidak beredar email-email yang berisi gossip seperti layaknya bila sekumpulan ibu-ibu bergabung dan “ngerumpi”. Nilai positif yang sebaiknya dipelihara terus, hingga mutu informasi milis pun tetap terjaga. Berkaitan dalam hal pemeliharaan namun sedikit keluar dari soal parenting adalah tulisan yang disampaikan di pertemuan BAKORNAS HOMPEDIN (Badan Koordinasi Hematologi Medik Penyakit Dalam Indonesia) yang berlangsung di Hotel Millennium, Jakarta, Sabtu, 22 Juni 2002. Berjudul Penggunaan Internet Sebagai Media Komunikasi, berisikan mengenai tahapan sebuah milis, yaitu sebagai berikut:
1. Antusiasme awal Pada awal pembuatan suatu mailinglist, para member saling memperkenalkan diri dan merasa senang dapat berjumpa dengan teman-teman lainnya dalam media komunikasi yang cukup praktis.
2. Merasa kekurangan Para member mulai merasa kekurangan atas sedikitnya e-mail yang masuk, lalu mulai berdiskusi bagaimana strategi agar bisa lebih banyak menarik member dan mengaktifkan diskusi dalam milis tersebut.
3. Pertumbuhan Pada saat inilah, perkembangan milis mulai terarah ke yang lebih baik. Makin banyak yang bergabung, makin banyak topik-topik diskusi dan tak ketinggalan makin banyak pula posting-posting yang tidak sesuai dengan topik pendirian milis (OOT). Dalam masa pertumbuhan manusia, fase ini bisa diidentikan dengan fase remaja. Etika ber-mailing list mulai disusun dalam fase ini, jika belum disusun pada awal pendirian mailinglist.
4.Terjadi komunitas Mailing list memasuki fase yang lebih matang, atau fase dewasa. Terjadi banyak jalinan dan keterkaitan. Para member saling menggoda, suasana sangat baik untuk bertanya atau berdiskusi. Kelanggengan suatu milis ditentukan seberapa lama fase ini dapat bertahan.
5. Ketidaknyamanan mulai terjadi Makin berkembang suatu milis, makin banyak terjadi ketidak sesuaian topik yang didiskusikan. Banyak keluhan yang masuk mengenai e-mail yang tidak sesuai topik. Makin banyak pula yang unsubscribe.
6. Fase lansia Seperti halnya perusahaan/produk, jika pengelola milis tidak peduli maka akan terjadi: a. Jika tidak tertangani milisnya berhenti atau sepi kembali dengan member yang tinggal sedikit. Diskusi via japri b. Issue-issue penting ditanggapi dengan humor, yang bertahan mulai mencoba memperingati agar jangan OOT atau Fase peremajaan kembali Milisnya bertahan (sumber milis MLDI email tanggal 3-02-2006)
Harapan saya, semoga WRM selalu dalam tahapan nomor empat, selalu langgeng, matang dan dewasa. Together WE Care !!!
** Artikel Parenting Paling Semangat & Supportive, Kontes Penulisan Artikel Parenting Dalam Rangka Ulang Tahun WRM Indonesia II ** |