We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2010 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Hiburan arrow Say No Course : Satu Bekal Menjaga Diri Buat si Kecil
Say No Course : Satu Bekal Menjaga Diri Buat si Kecil E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Rabu, 29 Maret 2006

Satu sharing berharga dari salah satu anggota wrm-indonesia tentang kursus "Say No!" yang beliau ikuti. Materi kursus ini adalah tentang apa yang harus dilakukan jika berhadapan dengan orang asing. Kursus ditujukan untuk anak usia 5-12 tahun. Selamat menyimak ya moms.

Kursus Hari I: Pengantar

Kursus ini dilakukan oleh sebuah yayasan yang didirikan oleh dua orang polisi di kota Augsburg : Selbstschutz fuer Frauen und Kinder (Perlindungan diri untuk wanita dan anak anak). Kursus berlangsung dalam tiga kali pertemuan, masing-masing sekitar 1,5 sampai 2 jam.

Pada setiap pertemuan, orang tua harus mendampingi anaknya. Begitu masuk ke tempat kursus, semua harus memasang tanda pengenal nama agar masing masing peserta saling mengenal. Setelah itu, anak-anak berkumpul dan orang tua mengelilingi mereka.

Fasilitator kursus hari pertama adalah Kathrin dan Caro. Setelah Kathrin memperkenalkan diri, Kathrin mulai mem’brainstorming‘ anak-anak, tentang mengapa mereka ada di situ?. Sesi Pertama selesai dengan kegiatan "brainstorming" setelah itu baru anak anak dibagi beberapa kelompok.

Anak-anak tetap di tempat didampingi Caro, sementara orang tua dibawa ke ruang lain oleh Kathrin. Orang tua dijelaskan bagaimana kursus akan berlangsung dan peran apa yang akan dimainkan oleh orang tua selama kursus. Setelah itu, orang tua dibawa kembali ke tempat anak-anak untuk menyaksikan anak-anak unjuk kebolehan apa yang sudah Caro ajarkan ke mereka.

Kebolehan apa yang telah diajarkan oleh Caro? "Tiga Langkah Kunci Menghadapi Orang Asing" yaitu:

Pertama:

Kalau ada orang asing yang mengajak untuk ikut, apapun yang dikatakan orang itu,apapun alasannya, meski terlihat sangat butuh pertolongan sekalipun, katakan dengan tegas: NEIN!TIDAK! Kedua tangan dikepal, hentakkan kaki dengan keras, lalu teriakkan NEIN!. Satu kali saja.

Kedua:

Setelah itu, segera berlari menjauh. Kemana? Ke rumah. Bisa juga ke sekolah atau kantor orang tua.

Ketiga:

Sampai di rumah, langsung ceritakan kepada orang tua apa yang terjadi.

Kathrin dan Caro sempat bermain peran menggambarkan bujukan-bujukan yang mungkin ditemui nantinya, sekaligus membantu anak-anak mengulang-ulang ketiga langkah kunci di atas. Selanjutnya adalah waktunya anak-anak mempraktekkan uji kemampuan mereka.

Anak-anak keluar dari satu ruang. Tiba-tiba ada orang asing (Kathrin dan Caro) yang mengajak anak-anak untuk ikut. Diharapkan anak-anak mengatakan ‘Nein’ dan segera berlari ke ‘rumah’ -ruang lain, tempat orang tua dikumpulkan. Begitu bertemu orang tua, anak-anak menceritakan yang terjadi dan apa yang mereka lakukan. Bila anak-anak melakukan yang diharapkan, diharapkan orang tua memuji tindakan anak.

Pertama-tama, anak-anak keluar ruang berdua atau bertiga.Terdengar dari dalam, putri sang mom dengan lantang mengatakan ‘nein!’ lengkap dengan hentakan kakinya. Setelah itu putri tersebut segera melangkah menjauh kemudian menemui sang mom tsb. Tapi sampai di dalam, sang putri tak mau bercerita.

Setelah praktek pertama direview oleh Kathrin dan Caro, praktek selanjutnya anak-anak ‘keluar’ sendiri-sendiri. Kali ini sang putri sudah mau bercerita meski dengan malu-malu. Setelah kegiatan ini selesai, tiba waktu istirahat.

Sesi pertama selesai. Semua berkumpul kembali. Kathrin mengeluarkan sekotak bola. Melihat itu anak-anak langsung antusias. Apalagi Kathrin mengatakan kalau bola itu bisa dipakai bersirkus ria. Kathrin sempat pula menunjukkan bagaimana melatihnya. Kathrin juga mengatakan dia akan membagikan bola-bola itu sebagai hadiah karena anak-anak telah melakukan semua yang diajarkan dengan sangat baik.

Mendengar itu, semua anak langsung berebut maju ingin mendapatkan bola. Tapi Kathrin mengingatkan, bahwa dia adalah orang asing. Anak-anak tidak boleh menerima hadiah dari orang asing. Di sini sempat terjadi "brainstorming" yang cukup lama. Brainstorming apakah Kathrin dan Caro adalah orang asing? Bagaimana mereka tahu Kathrin dan Caro adalah orang yang baik? Dan bagaimana mereka memecahkan situasi seperti itu. Untunglah semuanya berjalan seperti yang diharapkan dan setiap anak mendapat satu bola.

Sesi kedua diawali dengan kegiatan di halaman. Anak-anak dikenalkan dengan istilah ‘magic line‘, yaitu garis maya sebagai jarak aman dari mobil. Patokannya adalah lebar bukaan pintu mobil. Kathrin dan Caro menjelaskan mengapa anak-anak tidak boleh berdiri menyeberangi garis ajaib ini lengkap dengan prakteknya. Disimulasikan juga bagimana menghadapi tawaran orang asing yang sedang duduk di balik setir dan orang asing yang sedang membutuhkan bantuan karena mobilnya mogok.

Setelah itu, seperti tadi, praktek dua babak. Babak pertama berdua, babak kedua sendirian. Kali ini putri sang mom melakukannya dengan lebih meyakinkan. Selesai sudah untuk kegiatan hari pertama. Putri sang mom mengatakan dia senang sekali mengikuti kursus tersebut dan kursus ini menurutnya penting karena dia jadi tahu apa yang harus ia lakukan bila bertemu orang asing. Dan terakhir sang putri menanyakan apakah dengan selesainya kursus ini dia bisa berangkat dan pulang sekolah sendirian? "Hmm..hmmm………hmmmm…" pertanyaan tersebut dijawab sementara demikian oleh mom tersebut.

Hari II: Bila Sendiri di Rumah, Bila Ada Tetangga Baru

Bila Anak Sendirian di Rumah

Hari kedua dibuka dengan pengenalan materi dan briefing orang tua. Caro mengajak anak-anak membahas sekilas materi yang lalu dan dilanjutkan dengan membahas materi sesi I. Di ruang lain, orang tua mendengarkan briefing dari Hermann (pengganti Kathrin)sekaligus tanya jawab tentang materi hari ini.

Setelah briefing dan refreshing materi dilaksanakan, dilakukan pembahasan materi. Bila sendirian di rumah dan ada yang mengetuk pintu, yang paling penting adalah: apapun yang terjadi, pintu jangan dibuka. Selanjutnya, lakukan tiga prinsip dasar ini:

1. Katakan Nein! sekali saja.
2. Menjauh
3. Ceritakan kepada orang tua segera setelah orang tua kembali ke rumah

Simulasi segera dilakukan setelah semua peserta memahami tiga prinsip dasar tersebut. Anak-anak didampingi orang tua masing-masing kemudian dibagi dua kelompok. Satu kelompok dibimbing Caro di lantai atas, satu kelompok dibimbing Hermann di lantai bawah. Kami kebagian kelompok yang dibimbing Caro.

Caro mengumpulkan kami dalam satu ruangan. Satu ruang lain yang berdekatan dijadikan ‘rumah’ sementara. Di ‘rumah’ itu, disediakan juga ‘kamar’ anak. Permainan peran dimulai. Pada babak I ini, dilakukan oleh anak anak berdua atau bertiga. Dua orang anak beserta orang tuanya masing-masing masuk ke ‘rumah’. Kemudian orang tua berpamitan pada anak. Anak menutup pintunya.

Tak lama kemudian Caro mengetuk pintu,

Caro: - Tok..tok…tok - " Ada orang kah di dalam?"
Anak-anak (A): Siapa itu?
Caro: Saya pengantar paket. Ini ada paket penting untuk orang tuamu. Tolong buka pintunya ya.
Anak-anak: NEIN! (seperti yang diajarkan pada kursus pertama).
Caro: Ini paketnya penting sekali. Orang tuamu harus segera mendapatkannya. Ayo buka pintunya.

Tak ada jawaban dari dalam.

Caro: Tok…tok…tok…hallo…hallo…

Tetap tak ada jawaban.

Caro membuka pintu dan mendapati kedua anak sudah ada di ‘kamar’.

"Klasse" puji Caro melihat sikap yang dilakukan oleh anak anak.

Anak-anak menemui orang tua masing-masing.

Anak: (menceritakan kejadian dan apa yang dilakukannya)
Orang tua: (mendengarkan dan menanggapi dengan seksama, tak lupa terakhir memuji tindakan anak)

Setelah semua mendapat giliran, dilanjutkan bermain peran babak kedua. Kali ini dilakukan tidak berdua atau bertiga lagi, namun sendirian. Persis seperti berdua, tapi kali ini Caro bertanya terlebih dulu ke orang tua masing-masing apa yang saat ini sangat digemari anak yang mungkin membuat anak membukakan pintu. Setelah terkumpul informasi "kegemaran anak" dilakukan istirahat.

Kedua kelompok selesai simulasi, semua berkumpul kembali. Hermann me-review materi dan simulasi yang baru saja dilakukan. Setelah itu, Hermann membawa sekeranjang bola jonglion. Anak-anak langsung mendekat meminta bola.

“Eitttttt, saya kan orang asing. Boleh ngga sih menerima hadiah dari orang asing?” tanya Hermann.

Dan diskusi seperti kursus pertama terjadi lagi. Tapi kali ini tentu saja jauh lebih cepat karena anak-anak masih ingat alasannya dan apa yang harus mereka lakukan. Segera masing-masing anak mendapat satu bola, melengkapi satu bola jonglion yang diberikan minggu lalu. Hermann menunjukkan bagaimana cara memainkan dua bola jonglion itu. Semua anak bersemangat mengikuti. Dan suasanapun mendadak heboh.

Bila Anak Mendapat Tawaran Dari Tetangga Baru Atau Tetangga yang Belum Dikenal Dengan Baik

Kali ini Hermann yang membahas materi dengan anak-anak. Bagaimana seandainya ada tetangga baru yang belum dikenal/terlalu dikenal mengajak main ke rumahnya?. Hermann mengemukakan beragam alasan yang mungkin diutarakan tetangga tersebut untuk mengajak anak ke rumahnya.

Yang harus dilakukan anak-anak, prinsipnya sama dengan materi-materi sebelumnya: katakan ‘NEIN!’, menjauh dan bercerita ke orang tua. Setelah anak bercerita dan bila menurut orang tua tidak masalah anak memenuhi undangan tetangga tersebut, barulah anak boleh ke rumah orang tersebut.

Setelah pembahasan materi selesai dilakukan simulasi. Hampir mirip dengan kegiatan yang pertama,kali ini kami kebagian kelompok yang dibimbing Hermann. Herrman yang berperan sebagai tetangga. Selesai simulasi, anak-anak mendapat kenang-kenangan topi berwarna hijau kuning. Dan kursus hari ini pun berakhir. Bravo untuk anak-anak, sesi hari II selesai.

Kursus Hari III: Simpulan Kegiatan

Di hari III, materi berisi tentang pengulangan materi-materi yang telah diajarkan di hari hari sebelumnya. Sementara Caro membimbing anak-anak mengulang materi-materi sebelumnya di lantai atas, Hermann memberikan briefing kepada orang tua di salah satu ruang yang ada di lantai bawah.

Pada hari ketiga ini akan ada ‘guest star’ yang sama sekali asing dan sudah menunggu di tempat yang disembunyikan. Setelah itu dilakukan simulasi I. Anak-anak dan orang tua di kumpulkan di lantai bawah. Lalu, anak-anak membuat dua barisan. Nanti Hermann akan meminta per dua anak beserta orang tuanya masing-masing untuk keluar ruangan. Orang tua pamit pada anaknya untuk pergi ke lantai atas. Setelah itu anak-anak diminta menyusul.

Dalam perjalanan sang anak ke atas, anak-anak akan berjumpa dengan badut. Badut ini mengajak anak-anak untuk ikut disertai bujukan-bujukan. Seharusnya anak-anak akan langsung mengatakan 'NEIN', berlari ke atas ke tempat orang tuanya kemudian bercerita apa yang baru saja terjadi. Dari atas, orang tua bisa menyaksikan ‘adegan’ ini. Hanya saja harus diusahakan agar tak diketahui anak-anak. Setelah simulasi ini berakhir, dilakukan istirahat.

Sama artinya dengan saat membagi-bagikan bola jonglion ketiga dan petunjuk dari Hermann bagaimana memainkan tiga bola jonglion. Dengan sigap Hermann berjonglion. Anak-anak mulai mengacungkan jarinya, meminta Hermann melakukannya dengan lambat, saaangat lambat, cepat dan sangaaat cepat. Hermann sampai kewalahan menanggapi permintaan anak-anak yang ada-ada saja itu.

“Oh, tak bisa lagi lebih lambat, dengan bola seberat ini”, tutup Hermann. Dengan demikian, istirahat pun berakhir. Kegiatan kemudian dilakukan dengan menonton video tentang film pendek. Orang tua dikumpulkan di satu ruang menonton film karya Anni Schmidt berjudul ‘Sag Nein’. Sementara itu anak-anak dikumpulkan di ruang lain bersama Caro untuk menyaksikan video tentang polisi.

Film "Sag Nein" yang berdurasi sekitar dua puluh sembilan menit ini berisi fragmen-fragmen kasus pelecehan pada anak. Pada kasus I, Anna yang setiap malam ketika kedua orang tuanya sudah tidur nyenyak ‘diganggu’ Om nya. Setelah mengganggu, Om nya memberikan sejumlah uang pada Anna. Anna takut menceritakan hal tersebut pada ibunya. Tapi dari uang ini lah ibunya mulai mencium sesuatu yang tak beres. Akhirnya Anna pun menceritakan semua pada ibunya.

Pada kasus II, sementara ibu Carla harus bekerja sore hingga malam hari, Carla di rumah bersama ayahnya. Saat itu adalah saat yang menakutkan bagi Carla, karena itu adalah waktu Ayahnya ‘mengganggu’ Carla. Carla tak berkutik dan tak berani menceritakannya pada siapapun. Hingga suatu hari, ada teman Carla yang memergokinya. Temannya mengajak Carla menelpon ke lembaga yang mengurusi tentang hal ini. Carla juga menceritakan hal ini pada gurunya. Untuk sementara, setiap ibu Carla harus bekerja, Carla akan tinggal di tempat temannya.

Di kasus III, katakanlah tokohnya bernama Eva. Kasus Eva adalah ‘diganggu’ kakak laki-lakinya setiap kali Eva mandi. Ibu Eva sibuk sekali. Eva sudah berusaha mengatakan masalahnya pada sang Ibu, tapi ibu selalu tak ada waktu. Sementara itu sang kakak terus mengancam agar Eva tak mengatakannya pada Ibu mereka. Untunglah ada teman keluarga mereka yang melihat keanehan pada Eva. Dia yang menceritakan semuanya pada Eva. Dan sang Ibu pun sadar.

Pada kasus IV, seorang anak laki-laki yang diajak seorang Kakek untuk main ke rumahnya. Kakek ini punya koleksi model kereta api yang bagus. Dan kebetulan sang anak punya hobi yang sama. Setelah beberapa kali main ke rumah Kakek, anak itu mulai merasa tak nyaman. Pasalnya si Kakek, sering menyentuhnya secara tak wajar. Anak ini menceritakan pengalaman dan perasaannya pada kedua sahabatnya. Kedua sahabatnya inilah yang membantunya untuk keluar dari tempat si Kakek. Intinya, anak harus mengetahui mana sentuhan yang baik dan mana yang bukan, siapapun yang menyentuh. Anak harus berani mengatakan tidak, karena tubuh mereka seutuhnya hanya milik mereka sendiri. Cobalah langsung cari pertolongan, lewat jalan apapun. Dan sebagai orang tua, kita pun harus peka.

Di simulasi II, pada pintu masuk ada ‘orang asing’ yang sama sekali belum dikenal anak-anak. Dia akan menyapa anak-anak dan mengajak mereka untuk ikut. Satu per satu anak-anak akan ‘bertemu’ orang asing ini. Diharapkan anak-anak akan mengatakan ‘Nein’ dan langsung ke tempat orang tua mereka berada. Setelah itu orang tua mengajak anak mencari tempat agar anak bisa menceritakan yang terjadi dengan tenang. Orang tua menanggapi sambil menanyakan gambaran orang yang dia temui tadi. Penyelenggara kursus sudah menyiapkan semacam lembar kerja berisi pertanyaan yang diajukan ke anak.

Setelah simulasi II selesai, semua berkumpul kembali. Orang tua diminta mengisi lembar ‘feed back’ untuk penyelenggara. Kemudian diperkenalkanlah ‘orang asing’ tadi di hadapan kami semua. Namanya Danni. Umumnya anak-anak bisa menggambarkan ciri-ciri Danni dengan baik. Selanjutnya adalah pembagian sertifikat. Anak yang dipanggil namanya, dipersilakan maju ke ‘panggung’ untuk menerima sertifikat. Setelah kata penutup dari penyelenggara, kursus "Sag Nein" pun ditutup.

Di bawah ini adalah beberapa identifikasi person yang perlu diamati.

Personenbeschreibung

Frage:
Was hat die Person zu Dir gesagt? Was sollst Du tun?

Frage:
Wie sah die Person aus, von der Du angesprochen wurdest?

Person: Man/Frau/…..
Erscheinung: gepflegt/ungepflegt/…..
Gestalt: groß/klein (vergleich mit Mama/Papa) dick/dünn
Kleidung: Hose/Rock/…..
Pullover/T-shirt/….
Haare: hell/dunkel/…, kurz/lang/…, Zopf/offen/Glatze
Bart: nein/ja/welcher?….. Dialekt/hochdeutsch/…..
Besonderheiten: Schmuck/Brille
Nerben/Tatoo/Wo?…..
Mitgeführte
Gegenstände/Tiere: …………

Tschuess, Auf Wiedersehen. Demikian ringkasan kursus "Sag Nein" yang diikuti oleh  salah satu member milist wrm-indonesia. Semoga bermanfaat. (DaI/WRM).

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement