|
Dear Moms, Pernahkan Moms merasakan dan mendengar kalimat penuh simpati dari buah hati moms di rumah. Misalnya ungkapan “I Love you mah”, “Aku suka menyayangi mamah”, “mamah ini sudah cantik, hemm.. rambutnya harum lagi” dan banyak lagi kalimat simpati lainnya di tambah dengan ciuman dan pelukan yang sungguh mampu mengharu birukan suasana hati seorang ibu .
Alhamdulillah saya sudah mengalaminya, bahkan sentuhan dan ungkapan sayang itu sudah menjadi kegiatan rutin buah hati saya, kaka Alief (5thn). Bila dulu sebelum bisa bicara kaka Alief mengekspresikan sayangnya lewat pelukan dan ciuman, namun semenjak bisa bicara ungkapan hatinya makin bertambah tidak hanya lewat sentuhan semata tapi sudah di ungkapkan secara verbal.
Ritual yang telah membuat saya merasakan perasaan yang sangat ajaib ini, juga telah membawa pengaruh positip yang luar biasa tidak hanya bagi hubungan komunikasi antara anak dan ibunya, tapi juga berdampak positip kepada rumah, keluarga dan lingkungan sekitarnya. Sebagai seorang ibu dan wanita saya merasa begitu tersanjung dan berarti dibuatnya, selain itu makin menumbuhkan rasa percaya diri saya sebagai seorang ibu.
Namun tentu saja saya tidak serta merta mendapatkan anugerah indah ini, ada proses yang terjadi didalamnya dan yang paling penting adalah kita terlebih dahulu memulakannya dengan menjadi model bagi buah hati kita. Karena rasanya mustahil bila kita menginginkan buah hati kita lembut dan sayang pada kita, tapi dalam keseharia kita menjadi model yang sebaliknya, kasar, galak dan seterusnya.
Saya dibesarkan di sebuah desa terpencil di daerah transmigrasi, Babulu Darat namanya di propinsi Kalimantan Timur. Kesulitan hidup secara ekonomi yang di alami kedua orang tua tidaklah mengurangi kasih sayang mereka kepada kami semua, hanya saja cara mereka tentu berbeda dengan yang telah saya lakukan sekarang. Bisa di katakan dalam hal parenting ada yang telah saya rubah atau modifikasi dan disesuaikan dengan keadaan jaman sekarang.
Dahulu pada jaman saya, kedua orang tua menunjukkan kasih sayang mereka dalam bentuk kesabaran serta kerja keras dalam hal menghidupi kami. Dan di tahun 70-an perasaan sayang orang tua kepada buah hatinya belumlah diungkapkan atau di ekspresikan secara verbal, istilahnya jaman dahulu belum populer. Hingga setelah dewasa dan menjadi ibu, sayapun tidak terbiasa mengungkapkan kasih sayang saya kepada anak, suami dan keluarga secara verbal. Namun demikian dari banyak membaca, mendengar dan melihat, saya mencoba melengkapi pola saya dalam menemani kedua buah hati saya.
Awalnya walau pada anak sendiri rasanya sungkan, bahkan saya merasa aneh dan malu sendiri. Tapi pepatah bilang “semua jadi bisa karena terbiasa”. Awalnya sungguh berat dan sungkan, tapi lama-lama menjadi rutinitas yang membahagiakan. Dan sebuah hadis yang pernah saya baca yang intinya mengatakan “Seorang ibu adalah Madrasah bagi anak-anaknya” menjadi pegangan saya., hasilnya benar adanya dan sungguh di luar dugaan.
Alhamdulillah sekarang ungkapan cinta dan sayang dari buah hati saya mengalir dengan sendirinya, hanya dengan saya contohkan, tanpa saya suruh apalagi di paksa. Yang paling berat adalah ketika saya mencoba mengungkapkan rasa sayang ini pada pasangan jiwa saya, tidak hanya malu tapi bisa memerah pipi ini dibuatnya. Kemudian setelah seisi rumah telah terkena virus cinta ini, lalu virus perlahan mulai saya sebarkan di luar keluarga inti saya.
Contohnya saat saya ungkapkan rasa sayang ke Bapak di kampung lewat sebuah puisi, Bapak kelihatan gugup dan sedikit malu dan ketika saya dekati, Bapak beranjak pura pura pergi, tapi dari mata yang berkaca-kaca dan senyumnya yang penuh arti, saya tahu puisi itu sungguh berarti buat Bapak. Dan tulisan sederhana juga puisi yang saya buat untuk mamah di Babulu, saya yakin sekali mamah pun telah merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan “Merasa menjadi seorang ibu yang berarti dan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini”
Ustadzah saya pernah bilang bahwa sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan dalam mengetahui isi hati seseorang, kita hanya bisa mereka-reka atau menduga-duga, dan hanya dengan mengungkapkan secara verbal maka seseorang akan tau apa yang kita rasakan atau yang kita inginkan. Sebenarnya hal ini telah dicontohkan pula oleh nabi kita ribuan tahun yang lalu,
Dari Abu Karimah Al-Miqdad bin Ma’dikariba ra, dari Nabi saw beliau bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya”. (HR Abu Daud). Kemudian hadist lain mengatakan. Dari Abu Hurairah ra, bersabda :”Nabi saw. mencium Al-Hasan bin Ali ra, kemudian Aqra’ bin Hadis berkata, “Sesungguhnya saya memiliki sepuluh anak, tetapi saya tidak pernah mencium seorangpun dari mereka. Maka Nabi saw bersabda, Barang siapa tidak mengasihi, ia tidak akan di kasihi”. (HR Bukhari & Muslim”).
Jadi bagaimana anak, pasangan atau keluarga tahu kita mencintai dan sayang kepadanya, bila kita belum pernah sekalipun mengungkapkannya baik dengan perkataan apalagi perbuatan.
Oleh karena itu Moms.. bila engkau ingin merasakan perasaan yang sungguh ajaib seperti yang saya rasakan ini, seperti Aa’ Gym bilang yuk kita mulai dari 3M. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari Sekarang!!. Selamat mencoba ya moms, eittt… bukan hanya moms saja yang harus mencoba tapi bapak juga.
Terakhir saya ingin mengungkapkan kata ajaib ini untuk moms..sahabat maya saya, juga para sahabat di dunia nyata, “I love you….”.
Gerimis di Balikpapan, TE - 26 December 2005. (www.bundalief.info)
Catatan : Saat kaka Alief membuat saya menjadi seseorang yang begitu berarti. Tulisan ini terinspirasi dari buku Azimah Rahayu ‘Hari ini aku makin cantik’, yang seperti biasa saya pinjam dari sahabat saya teteh Eka. Teteh… I love you…. |