We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Buah Hati arrow Mampukan Aku Tumbuhkan Pohon Cinta Itu
Mampukan Aku Tumbuhkan Pohon Cinta Itu E-mail
Pengirim: Agnes Tri Harjaningrum   
Selasa, 07 Maret 2006

“Kunci pertama agar anak mampu mengenal Tuhannya adalah terima anak apa adanya! Bagaimana mungkin orangtua bisa mengenalkan anak pada Tuhannya jika orangtuanya sendiri tidak bisa menerima anak apa adanya? Orangtua yang mengenal Tuhan artinya orangtua yang ikhlas menerima apapun keputusan Tuhannya terhadap anaknya. Mengenal saja tak cukup, perlu mencinta.

Bagaimana mungkin seorang anak bisa mencintai Tuhannya dan juga sesamanya kalau masa kecilnya dipenuhi dengan rekaman-rekaman kemarahan di hatinya? Tegas boleh. Tapiii…jangan pernah memarahi anak sejak ia lahir hingga usia 7 tahun! Bibit cinta akan menumbuhkan pohon cinta. Namun bibit kemarahan?”

Deg! Sesuatu menusuk nuraniku. Kesimpulan yang aku tangkap dari untaian kata mbak Neno Warisman yang aku dengar dari http://cafe.degromiest.nl/neno malam itu membuat mataku mulai mengembun. Tuhan, Bibit apakah yang telah kutanamkan pada anak-anakku? Betapa sering teguran itu datang, petunjuk agar aku mau memperluas ruang kesabaranku. Petunjuk agar aku mau menerima putriku apa adanya, segala keunikannya. Dan ketika kesadaran itu datang, mengapa tak pernah lama? Selalu saja ia kembali dan kembali lagi. Ooh, ampuni aku Tuhan. Baru saja aku, lagi-lagi menebarkan bibit kemarahan itu. Dan ternyata aku tak juga mampu mengenalMu.

Pagi itu, darahku mendidih. Bukan kali pertama, entah kali keberapa. Kesabaranku tak ada hentinya diuji, lagi dan lagi oleh gadis kecilku sendiri. Berlembar-lembar artikel tentang parenting kubaca, mengatakan hal serupa, bahwa setiap anak adalah unik, terima ia apa adanya. Berkali-kali pula aku sesumbar menuliskannya dalam diskusi-diskusi di dunia maya, milis WRM misalnya. Duh, tapi mengapa kadang aku hanya pandai bicara saja. Nyatanya, kini aku gagal lagi. Mengapa aku tak bisa menerima keunikan putriku? Mengapa aku harus marah lagi? Karena PMS (Pre Menstrual Syndrome) lagi? Huh, apakah itu bukan sebuah pembenaran? Pembenaran untuk menghalalkan kemarahan!

Sepuluh menit lagi pukul 8.30 pagi. Saatnya bel berdentang tanda pintu masuk sekolah telah ditutup. Tapi, dimana putriku berada? O..la..la... ia masih berkutat dengan rambutnya, tentu saja dirumah. “Hiks…hiks…aku nggak mau pergi kalau rambutku belum diiket.” Rengekannya membuat kesabaranku mulai menguap.”Tapi engkau harus segera pergi Nak, sudah terlambat,”bujukku berusaha sabar sambil mencari ikat rambut yang tak kunjung kutemukan. Putriku pun berusaha mencari ikat rambutnya, berjalan perlahan dengan gaya malas-malasan, tak juga segera memakai sepatunya. Tuhan, kenapa anak ini lambaat sekali, ada apa dengannya? Kenyataan itu mulai mengusikku lagi.

Putraku juga mulai merengek, bertanya-tanya kenapa mereka tidak segera pergi. Lalu, aku mengulangi ucapanku pada putriku dengan nada sedikit meninggi. Tangis putriku kemudian meledak,”Kalau rambutku nggak diiket, nanti aku makanin rambutku terus, nanti pipiku jadi bau, hu…hu…hu.” Belakangan ini, mulutnya memang mengeluarkan bau tak sedap. Dan kunjungan ke dokter, baru akan berlangsung minggu berikutnya. Hari-hari sebelumnya aku tak lupa mengikat rambutnya.”Bunda ikat rambutmu, supaya kau tak bisa lagi memakan ujung rambutmu. Kalau dimakan mukamu jadi bau sayang,” pesanku selalu. Dan kini pesan itulah yang dipegangnya kuat-kuat. Hmh, kenapa dalam kondisi buru-buru seperti ini dia tak bisa berdamai dengan aturan yang telah dipegangnya. Mengapa ia selalu saja begini, gampang merengek dan menangis!

Kulirik jarum jam, delapan lewat tigapuluh menit. Kesabaranku lenyap sudah.”Sudah lah nggak usah diiket, nggak apa-apa sekali-kali bau. Ayo cepet berangkat, itu ayah udah nunggu!” Seruku kesal. Ayahnya juga mulai kesal dan menyuruhnya untuk segera berangkat. Tapi, tangisnya semakin keras terdengar.“Aku nggak mau hu..hu..hu…aku nggak mau, nanti bau Bun, hu…hu..hu.” Mendengarnya, kemarahanku tak lagi tertahan,”Bunda kan udah bilang nggak apa-apa! Lihat tuh sekarang jam berapa?! Terlambat La! Malu kalau terlambat, ngerti nggak Lala?!” Sentakku. Akibatnya, tentu saja tangisnya menghebat, juga kemarahannya. “Huaa…Aku nggak sayang sama Bunda! Huaa… air matanya bercucuran sambil menatapku dengan marah.” Tuhan, kenapa anak ini perasa sekali. Adiknya tidak merepotkan begini, dimarahi juga cuek aja, easy going. Pikiran nakalku mulai membanding-bandingkan ia dengan adiknya.

Dan akhirnya, suamiku menarik napas dalam, menyadari bahwa semua tak bisa dibiarkan. Ia segera duduk dan meletakkan tas punggungnya ke lantai. Diraih dan dipeluknya anak itu sambil berkata padaku,”Sudah Ma, sudah, nggak usah bicara apa-apa lagi sama dia kalau lagi marah. Waktu memang penting, tapi ada hati yang harus dijaga. Lebih baik terlambat daripada anak kita pergi sekolah sambil membawa hati yang tergores. Peluk dia Ma, peluk…,” katanya membujukku. Kemarahanku masih menggumpal di dada, begitu pula keegoisanku. Tak ingin rasanya memeluk anakku dalam kondisi seperti itu. Tapi aku tahu ucapan suamiku benar.

Aku berusaha meredam kemarahanku sekuat yang kumampu.Gumpalan marah itu masih saja berdiam di sudut hatiku. Tapi, perlahan kuhampiri juga putriku, kupeluk dia, dan kukatakan padanya,”Maafkan Bunda ya sayang. Bunda kesel sekali tadi. Nggak apa-apa sekali-kali terlambat, kita cari dulu ikat rambutnya ya.” Aku bicara perlahan sambil menahan air mata yang mulai menggenang. Air mata kekesalan yang tertahan karena gumpalan marah itu hanya sedikit berkurang. Kekurangan-kekurangan putriku yang berseliweran dalam benakku membuat hatiku enggan melunak. Namun, kupeluk ia lagi, semakin erat. Dan ternyata perlahan tapi pasti pelukan itu melelehkan amarahku.

Pukul delapan limapuluh, akhirnya suami dan kedua anakku berangkat ke sekolah. Setelah menciumku, dengan senyum tersungging di bibir dan rambut dikuncir dua, putriku pun meninggalkan pintu rumah. Dan aku? Berlari menghempaskan diri ke tempat tidurku, menumpahkan semua air mata yang tertahan. Ya Allah, mengapa begitu sulit. Mengapa ia seringkali membuatku seperti ini. Mengapa pula pikiran nakal untuk membandingkan ia dengan adiknya dan teman-teman sebayanya selalu menggodaku ya Allah? Aku sayang sekali padanya. Aku tahu setiap anak adalah unik. Tapi mengapa begitu sulit menerima dia apa adanya? Ampuni aku Tuhan, sungguh aku menyayanginya. Tapi aku tak kuasa menolak semua rasa ini.

Aku teringat seminar online yang diadakan oleh WRM beberapa bulan lalu tentang anak berbakat. Sejak itu aku curiga putriku termasuk anak berbakat dengan masalah. Apalagi sewaktu di Indonesia dulu, psikolog yang pernah melakukan tes padanya pun mengatakan bahwa putriku memiliki IQ jauh di atas rata-rata. Setelah aku seolah mendapat keyakinan tambahan bahwa putriku berbeda, aku bisa lebih sabar menghadapi perilakunya. Tapi seperti biasa, kesadaran untuk tak boleh memarahi anak itu, selalu tak ingin berlama-lama berdiam dalam hatiku. Ketika evaluasi di sekolah tiba, dan mendapatkan penjelasan dari guru sekolah putriku, aku kembali gamang. Ia yang dulu kerap dikatakan memiliki kemampuan lebih dibanding sebayanya—saat di Playgrup maupun TK tahun pertama di Belanda—kini sama sekali berbeda.

Guru sekolahnya hanya mengatakan, prestasi putriku biasa-biasa saja. Bahkan kekurangannya yang paling terlihat adalah lelet. Ia selalu menjadi paling akhir diantara teman-temannya. Akibatnya ia tak pernah bisa mendapatkan latihan tambahan. Gurunya hanya menyuruh kami untuk ‘wait and see’, tapi aku tetap tak tenang. Anak yang lelet tak pernah aku temukan dalam bahasan seminar anak berbakat. Apalagi, dalam salah satu makalah seminar disebutkan bahwa pemeriksaan IQ pada anak dibawah umur 7 tahun tidak lah dapat dipercaya. Aku mengambil kesimpulan sendiri, artinya anakku sama saja dengan anak-anak sebayanya,”Hanya leletnya saja yang berbeda,”pikirku.

Perlahan tapi pasti, tanpa sadar aku mulai menaikkan standard perilaku untuk putriku. Aku ingin ia bisa ini dan itu seperti teman-teman seusianya. Aku dan suamiku pun mencoba mengatasi kelambatan geraknya dengan berbagai cara. Akhirnya apa yang terjadi? Kemarahan dan kemarahan yang mudah sekali muncul seperti kejadian pagi itu.

Hiks, Tuhan… apa yang telah kulakukan pada putriku? Tolong, ampuni aku Tuhan. Selama ini aku mengaku-ngaku bahwa aku telah mengenalMu. Tapi nyatanya, aku bahkan tak bisa menerima keputusan yang telah Kau berikan. Aku tak bisa menerima anakku apa adanya. Anak berbakat atau tidak, dia tetap berbeda, dia tetap membawa keunikan dariMu. Aku mencintainya, sungguh! Dan aku sangat ingin ia bisa mencintaiMu. Aku ingin menumbuhkan pohon cinta itu Tuhan. Semoga aku belum terlambat. Mampukan aku Tuhan…


*+++ Tiga Artikel Terbaik Kontes Penulisan Artikel Parenting Dalam Rangka Ulang Tahun WRM Indonesia II +++

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement