We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Buah Hati arrow Ibu Yang Iri
Ibu Yang Iri E-mail
Pengirim: Dian Mahdi   
Selasa, 28 Pebruari 2006

“Suaranya kecil sekali tadi, Nak? Juga ritmenya terlalu cepat!” demikian kusambut anakku, yang baru saja turun dari pentas, membacakan cerita untuk para orang tua pada malam persembahan di sekolahnya.

Dia tidak menyahut. Sekerlip binar di matanya padam.

“Lihat tidak temanmu Steve? Wow! Dia ekspresif sekali. Suaranya juga lantang. Penonton menyambutnya dengan tepuk tangan meriah lho!” komentar ini masih sempat kulemparkan sebelum dia duduk di kursi di sebelahku.

Tak lama kemudian, temannya yang lain mendapat giliran untuk tampil. Ketika sampai di bagian tengah cerita, lama anak itu terdiam. Sepertinya dia lupa pada jalan cerita yang akan diceritakannya. Akhirnya guru kelas membacakan beberapa kata untuk membantunya mengingat.

Tepuk tangan penonton mengiringi langkah anak itu, turun dari pentas menuju ke tempat duduk orang tuanya. Mereka memeluknya dengan hangat, seraya memuji anak itu dengan sederet pujian.

Peristiwa di atas selama berhari-hari membayangi aktivitasku. Rasa bersalah perlahan menyusupi hati. Aku merasa sudah berlaku tidak adil pada buah hatiku. Bukankah berani tampil saja di depan umum, tak peduli bagaimanapun penampilannya di atas panggung, merupakan sebuah keberanian yang patut mendapat pujian dariku, ibunya? Kenyataannya malah sebaliknya, aku serta-merta mengkritiknya. Pujian yang aku lontarkan pun hanya untuk temannya, bukan dirinya.

Kenapa aku begitu terobsesi bahwa dia harus tampil, sebagaimana penampilan sempurna yang ada dalam bayanganku? Apakah hanya untuk memenuhi ambisi pribadi yang ingin berbangga hati padanya? Seharusnya aku menyadari, dia sudah berusaha tampil dengan sebaik-baiknya. Pelatih dan gurunya memuji sambil bertepuk demikian meriah untuknya. Apakah karena aku ibunya, lantas merasa punya hak penuh untuk menilai bahwa anakku tidak tampil sempurna malam itu? Dengan kriteria apa aku menilainya? Tak lebih hanya mengandalkankan semua bayangan “seharusnya” yang ada dalam benakku, tanpa memikirkan aspek keseluruhan dari sebuah kemampuan menyampaikan cerita di hadapan khalayak ramai.

Jika aku ingin menilai jujur, kemampuan bercerita di depan umum adalah satu keahlian tersendiri. Aku begitu terpengaruh dengan suaranya yang biasa-biasa saja, tapi tidak melihat bahwa dialah diantara sekian peserta yang menyampaikan cerita dengan berbagai suara sesuai dengan lakon dari cerita yang dia bacakan.

Sesampai di rumah, ketika gelisah kian mempermainkan hati, mataku tersandung pada sebuah email, dari milist We ‘R Mommies (WRM) Indonesia, yang hampir setahun ini aku akrabi sebagai salah satu sumber referensi parenting-ku. Email bertajuk “Pamer Anak” menarik perhatianku. Penuh rasa ingin tahu aku membaca tulisan seorang Mommy dan artikel pada sebuah surat kabar harian di tanah air. Artikel itu tentang kisah dua anak yang dijadikan trophi oleh ibunya. Bagaimana sang ibu hanya menjadikan kedua anaknya sebagai sebuah kebanggaan, bahkan dengan menghalalkan tindak kekerasaan sekalipun terhadap mereka.

Ada yang menusuk hati ketika aku selesai membaca email dan artikel tersebut. Apakah aku setali tiga uang dengan wanita yang diceritakan dalam artikel tersebut?

Sebagai orang tua, tentu saja kita menginginkan supaya anak selalu meraih prestasi yang terbaik. Besar harapan kita bahwa prestasi akademis yang baik, didukung dengan berbagai kegiatan ekstra kurikuler yang baik pula, kelak akan membentang jalan masa depan yang cerah bagi buah hati kita. Tetapi sebenarnya, siapakah yang bisa memberikan tolok-ukur atau parameter yang tepat untuk masing-masing anak, bahwa mereka sudah meraih prestasi yang terbaik? Apakah menjadi nomor satu dalam setiap lomba, meraih trophi sebagai pemenang pertama dan nilai sembilan yang bertebaran di rapor mereka adalah satu-satunya tolak ukur untuk itu? Bagaimana bila tak satupun dari kriteria ini ada pada anak kita? Tidakkah kita tetap saja akan berbangga hati pada mereka?

Karena setiap anak adalah pribadi yang khas dan unik. Demikianlah mereka tumbuh dan berkembang dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sepenuh cinta dan sayang, kita sebagai orang tua akan membimbing dan mengantar mereka menuju gerbang kehidupan mandiri. Akan tetapi, bagaimana mungkin hal ini terjadi bila proses panjang menuju kesana adalah usaha penuh paksaan dan tuntutan? Bila pujian demikian mahal? Bila prestasi adalah sebuah tuntutan dengan nilai pencapaian “harus sempurna”? Bukankah anak tidak tumbuh dan berkembang hanya dengan setumpuk kecerdasan intelijensia semata? Bagaimana dengan anak yang prestasi akademisnya biasa saja, tetapi ternyata dia adalah anak yang memiliki kecerdasan emosi yang baik? Tidakkah dia istimewa dan membanggakan?

Setiap anak belajar dengan caranya sendiri. Orang tua adalah pendidik dan sekolah pertama bagi mereka. Karena mereka adalah imitator yang cerdas, adalah bijak bila kita sebagai orang tua menjadi teladan yang pertama pula bagi mereka. Menjadi teladan yang baik bagi ananda tetnu jauh lebih sulit, dibandingkan dengan mengungkapkan segenap teori seputar bagaimana menjadi orang tua yang baik. Tidak saja harus sabar dan telaten, juga harus konsisten dari waktu ke waktu.

Anak berprestasi tentu harapan setiap orang tua. Tetapi dengan memberikan tekanan dan tuntutan demikian tinggi terhadap pencapaian prestasi, terlebih dengan melirik dan menjadikan anak orang lain sebagai tolok-ukur, secara tidak sadar kita malah membebani jiwa anak. Sangat mungkin kita akan menghilangkan manisnya masa kecil mereka sebagai anak, yang bebas tumbuh dan berkembang menjadi jiwa yang merdeka. Tentu bukan hilangnya mimpi masa kecil ini wujud kasih sayang yang kita kehendaki.

Setiap anak membawa anugrah dan kebanggaan pada orang tuanya. Tidak hanya lewat setumpuk prestasi, tapi juga lewat manisnya budi bahasa sang anak pada orang tuanya. Itu adalah salah satu kemanisan yang tak ternilai. Toh, banyak penelitian psikologi modern yang kini membuktikan bahwa ada kecerdasan lain di luar kecerdasan intelegensia yang dibutuhkan manusia untuk berkembang. Mungkin anak kita biasa-biasa saja kecerdasan intelegensia-nya, karena Tuhan telah menganugrahkan kecerdasan lain buatnya: kecerdasan emosi, sosial, spiritual, atau entah apa.

Hari-hari selanjutnya, aku merasakan sebuah ketenangan mengalir dalam hati. Perlahan sebuah kesadaran baru hadir lewat email-email balasan yang kemudian aku baca di milist WRM Indonesia. Tuhan sudah mempercayakan sesuatu yang demikian berharga, karunia terindah dalam hidupku, yaitu buah hati, cahaya mata: anakku. Anak bukan hak milik, mereka hanya amanah yang dititipkan Tuhan pada kita, orang tuanya. Kini aku larut dalam rasa bahagia yang lebih tinggi, apapun yang dilakukan oleh anakku, aku tahu dia sudah melakukan yang terbaik. Aku tidak lagi sibuk melihat prestasi apa yang diraih anak tetangga, aku pun tak lagi resah membandingkan berapapun nilai yang diperoleh anak orang lain dengan anakku. Akhirnya aku berhasil mengalahkan penyakit dalam diriku, dari ibu yang iri, menjadi ibu yang bersyukur.

Ithaca, Februari 2006

+++ Tiga Artikel Terbaik Kontes Penulisan Artikel Parenting Dalam Rangka Ulang Tahun WRM Indonesia II +++
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement