We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Rumah Tangga arrow Kewajiban Orang Tua Pada Anak: Sampai Sejauh Manakah?
Kewajiban Orang Tua Pada Anak: Sampai Sejauh Manakah? E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Rabu, 22 Pebruari 2006

Sampai sejauh mana kewajiban orang tua terhadap anaknya?. Demikian tema diskusi yang beberapa saat lalu muncul di milist wrm-indonesia. Berawal dari keprihatinan seorang mom yang sedang merantau saat mengamati beberapa temannya yang harus 'banting tulang' bekerja 12 jam sehari demi memenuhi kebutuhan tiga anak anaknya: mobil untuk transportasi, uang perkuliahan yang 15 ribu dollar per tahun per anak dll. Kondisi yang agak serupa juga ditemui di teman sang mom yang bersedia bekerja mati matian demi memenuhi anggaran asuransi pendidikan agar anak anaknya nanti dapat hanya berkonsentrasi belajar di sekolah tanpa harus terbebani pikiran biaya pendidikan. Bagaimana pendapat mommies di WRM Indonesia tentang hal tersebut? Sampai sejauh mana orang tua bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup anaknya?

" Menurut saya sih sampai si anak bisa mandiri" tulis mom ini yang mengirimkan komentar pertama di tema tersebut. Buat menuju kemandirian sang anak, orang tua juga harus membantu misalkan dengan memberikan pekerjaan sampingan yang tidak sampai menyita waktu sekolahnya. Dapat juga dengan mengajarkan bahwa bila sang anak menginginkan sesuatu, maka ia harus berusaha. Hal tersebut tak lain dilakukan agar si anak tidak memiliki prinsip "aji mumpung" dan terbelenggu dengan sikap manja. Pola pikir " ah masih ada orang tua yang pasti mau membayarkan kok, buat apa pusing mencari duit" dapat saja muncul akibat kebiasaan manja dan selalu tergantung pada orang tua.

Mom yang memberikan tanggapan kedua juga setuju dengan apa yang telah disampaikan mom di atas. "Kalau saya lebih menyukai tindakan berikut: selain orang tua mempersiapkan biaya pendidikan, anak juga harus diajarkan mandiri dalam memenuhi sebagian keperluannya" pendapat beliau. Kemandirian dalam memenuhi sebagian keperluannya dapat diperoleh melalui prestasi diri yang seoptimal mungkin sehingga si anak dapat mendapatkan beasiswa ataupun dalam bentuk lainnya. Anak juga harus dikenalkan dengan makna pengorbanan dan pembuatan prioritas keinginan. Anak juga harus menyadari bahwa tidak semua keinginan dapat tercapai dengan mudah, demikian tulis mom ini menutup postingannya.

Mom ketiga yang turut meramaikan diskusi tema ini juga setuju, bahwa sebagai orang tua memang sudah merupakan suatu kewajiban untuk semaksimal mungkin mempersiapkan biaya pendidikan untuk masa depan anak. Hal itu tak lain dilakukan agar sang anak anak dapat berkonsentrasi di sekolah dan memiliki banyak waktu untuk mengembangkan diri dan bersosialisasi. Sebagai konsekuensi dari kemudahan yang telah diterima oleh dirinya maka ia harus berprestasi, baik di sekolah atau di bidang lain seperti olah raga, kesenian, dll. Mungkin tidak perlu harus berada di tempat paling atas tetapi tidak sampai berada di tempat yang terbawah.

Kalau si anak berkeinginan membeli sepatu baru padahal sepatu yang lama belum rusak maka ia harus menunjukkan kepada orangtua bahwa ia memang pantas mendapatkan 'reward' tersebut seperti dari nilai nilai baik yang diperolehnya. Disamping itu, anak harus dibimbing untuk memiliki rasa tanggung jawab, mandiri (bukan dalam hal finansial), mampu melihat hal hal yang prioritas serta rasa inisiatif. Paling tidak kemudahan yang ia dapat sekarang ini merupakan faktor pemicu semangat bagi si anak tersebut. "Tetapi saya tidak menutup kemungkinan jika si anak ingin bekerja paruh waktu pada saat dia kuliah nanti sepanjang hal tersebut tidak mengganggu pelajarannya" demikian pendapat mom ketiga tersebut di akhir sharingnya.

Mom keempat menilai bahwa kewajiban atau tugas kita sebagai orang tua adalah mendidik anak agar dapat menjadi anak yang mandiri, anak yang selalu berusaha/belajar serta menjadi anak yang beriman (tak lain agar usahanya terarah dan prinsip menghalalkan segala cara dapat ditepis). Sebaiknya orang tua yang memiliki kemampuan finansial berlebih juga tidak memanjakan anak anaknya, karena warisan yang tak akan abis dari orang tua adalah didikan/ajaran yang baik, tentu selain pendidikan formal.

Buat mom tersebut, persoalan asuransi, tabungan buat pendidikan anak adalah hal yang perlu, namun dengan syarat orang tua memang mampu untuk menyisihkan dana untuk hal tersebut "kalau untuk kehidupan sehari hari saja masih pas pasan, bagaimana dong..bila dipaksakan yang ada nantinya malah muncul mencari usaha kilat asal untung aja!". Memikirkan masa depan anak itu penting, tetapi jalani saja hidup sesuai dengan keadaan, jangan dipaksakan. Hal yang terpenting adalah mencari harta yang halal dan jalannya baik hingga anak keturunan kita dapat selamat di dunia-akhirat. Pendidikan agama buat mom ini merupakan prioritas nomir satu, baru menyusul pendidikan formal.

Jangan sampai rasa bersalah timbul bila orang tua tidak mampu membiayai anak anaknya hingga selesai pendidikan formalnya. Tidak perlu merasa bersalah kalau orang tua tidak mampu membiayai pendidikan anak sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Rezeki sudah ada yang mengatur, tinggal diri kita yang berusaha dan berdoa. " Orang tua yang baik tidak akan berharap mendapatkan balas jasa. Yang diharapkan tak lain agar anaknya dapat menjadi anak yang sholih/sholihah dan bertanggung jawab untuk kehidupannya sendiri. Tercapainya hal itu tentu telah membuat orang tua bahagia!" tutup mom keempat ini dalam akhir tulisannya.

Apa kewajiban yang harus dipenuhi orang tua pada anaknya menurut versi mom kelima ini? Pemberian perasaan dicintai, disayangi, dibutuhkan serta pemenuhan kebutuhan perasaan aman dan nyaman di rumah ! demikian pendapat beliau. Berkaitan dengan pendidikan, kewajiban orang tualah yang harus memberikan pendidikan agama dan pendidikan formal 'semampu kita' dan seoptimal mungkin. Definisi 'semampu kita' adalah mulai menabung sejak si kecil lahir. Bahkan bila dirasa perlu dan orang tua memiliki uang lebih, maka buat asuransi pendidikan buat anak. Bila tak ada uang lebih, usahakan tindakan 'pemaksaan' dengan nilai persentase tertentu dari pendapatan per bulan kita yang dialokasikan untuk menabung dan 'terlarang' untuk 'di otak atik'. Beliau mengingatkan bahwa pendidikan akan semakin mahal dari tahun ke tahun. Bila tidak disiapkan sedini mungkin, mungkinkah dapat terbayar saat si kecil mengenyam pendidikan, terlebih pendidikan tinggi?.

Bagi mom kelima ini, mendidik kemandirian anak harus dilakukan secara perlahan dan berproses. Mendidik kemandirian anak adalah sebuah proses yang berkembang sejalan dengan usia anak dan bukan sebuah hal yang mutlak harus dapat dilakukan dalam tempo satu bulan. Anak harus bisa mengerti bahwa hidup ini tidak mudah (meskipun misalnya orang tuanya cukup kaya secara materi). Bahwa untuk mendapatkan apa yang dia inginkan,dia butuh perjuangan dan pengorbanan. Bahwa tidak semua yang dia inginkan bisa dia dapatkan meskipun dia sudah berjuang untuk itu. Hal tersebut akan menjadi dasar buat sang anak dalam menjalani kehidupan di dunia.

Mom keenam berprinsip bahwa memikirkan pendidikan anak adalah hal yang penting sekali. Beliau dan suaminya sudah sepakat untuk memikirkan biaya pendidikan anak sampai dengan lulus S-1. Setelah itu terserah sang anak. " Berhubung saya dan suami dahulu kuliah sambil bekerja dan kami berdua membiayai kuliah kami sendiri sampai selesai, maka hal itu pula yang akan kami terapkan ke anak-anak" tulis beliau. Anak harus dilatih mandiri!. Disamping itu anak juga harus dilatih untuk memahami bahwa hidup adalah perjuangan.

Beliau menceritakan bahwa dengan latar belakang keluarga beliau dan suami yang berasal dari keluarga sederhana, maka untuk mencapai hidup yang sekarang mereka miliki, mereka harus meniti jalan satu persatu penuh dengan keringat dan doa. Hal itulah yang juga akan mereka terapkan pada anak anaknya. Walau nantinya beliau dianugerahi rezeki yang berlebih, beliau dan suami tidak akan memanjakan anak dengan materi yang 'plus' tersebut. Hidup itu seadanya. Kalau ada yang lebih maka berikanlah ke yang membutuhkan. Mom tersebut juga menceritakan diskusi dengan suaminya saat melihat anak-anak SMA yang pergi sekolah dengan mobil pribadi. Ia bertanya pada suaminya bagaimana dengan anak-anak mereka kelak?. " Anak anak kita kalau sudah SMP sekolah naik bis atau angkot, take it or leave it!. Tidak ada antar-jemput apalagi sampai minta dibelikan motor atau mobil. " demikian jawab sang suami.

" Kalau saya pribadi setuju dengan mommies yang lainnya. Tapi kalau di kultur saya, kewajiban orang tua itu hingga si anak sudah menikah" pendapat mom ketujuh ini. Menurut beliau, saat si anak menikah maka saat itu pula orang tua tidak berkewajiban terhadap si anak. Orang tua hanya berperan sebagai penasehat/advisor bila di perlukan.

Sharing mom kedelapan? Dari pengalaman pribadinya, orang tua beliau 'mengurus' dirinya hingga ia menikah. Orang tua membiayai kuliah, 'meminjamkan' mobil, bahkan sebelum beliau dapat menyupir sendiri, ayahnya yang mengantar jemput ke sekolah. Bahkan beliaupun kadang masih merasakan protektifitas orang tua terhadap dirinya, pun setelah ia menikah.

Menurut beliau, kewajiban orang tua yang pertama adalah memberi landasan Iman/Agama " Insya Allaah dengan ilmu agama yang baik, rezeki mereka akan halal & thayib serta dapat selamat di dunia akhirat". Mengenai sekolah yang resmi, bagi beliau itu adalah prioritas nomor dua. Kewajiban orang tua dalam masalah finansial bagi beliau adalah sampai si anak tersebut menikah, terutama anak perempuan. Bagi anak laki-laki, akan lebih baik bila terlebih dahulu diajar untuk mandiri, karena dia akan menjadi pencari nafkah utama dalam keluarganya saat dia menikah.

Namun hal diatas jangan diartikan bahwa anak diberikan semua yang ia inginkan "seperti yang salah satu mom katakan, bahwa anak juga harus diajarkan bertanggung jawab dan juga berprioritas". Anak pun baiknya diajarkan berusaha untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Beliau menceritakan bahwa saat ia masih di rumah orang tuanya, bila ia menginginkan sesuatu maka ibunya kadang berkata: ayo pijat mama dahulu, atau, ayo bantu mama di dapur dahulu!.

" Tapi mungkin ada baiknya kalau anak diajar untuk kerja sampingan saat dia masih sekolah ya ? Saya tidak pernah melakukannya. Bahkan begitu lulus kuliah saya langsung dilamar. Enam bulan kemudian menikah, 10 bulan kemudian punya anak. Karenanya, saya belum pernah merasakan dunia kerja" tulis beliau di akhir sharing pendapat dan pengalamannya. (DaI/WRM)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement