|
Berdasarkan hasil investigasi dan pengujian laboratorium yang dilakukan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) di Jakarta, ditemukan sejumlah produk pangan seperti ikan asin, mi basah, dan tahu yang memakai formalin sebagai pengawet. Produk pangan berformalin itu dijual di sejumlah pasar dan supermarket di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, dan Bekasi.
Namun demikian, kondisi di atas bila dibiarkan berkepanjangan sedikit banyak akan mempengaruhi keadaan gizi sang ibu sendiri. Karenanya pemberian suplementasi amat diperlukan, khususnya demi kepentingan kesehatan dan status gizi sang ibu di masa depan. Di daerah yang termasuk endemik defisiensi Vitamin A, diharapkan para ibu mengkonsumsi suplementasi vitamin A sebanyak 200.000 IU. Asupan tambahan vitamin tersebut hendaknya diberikan selama delapan minggu pertama setelah persalinan. Pemberian selama masa kehamilan hendaknya dihindari mengingat mungkin munculnya efek teratogenik pada janin. Suplementasi yodium juga perlu dilakukan pada bumil dan busui di daerah yang tergolong mengalami defisiensi yodium. Dengan pemberian supplementasi diharapkan konsentrasi mikronutrisi tersebut dapat meningkat dalam tubuh ibu. Pemberian supplementasi makanan idealnya dimulai sebelum sang ibu menjalani kehamilan. Upaya tersebut juga perlu diteruskan saat mengandung bahkan setelah persalinan. Si kecil sendiri akan mendapatkan manfaat langsung dari pemberian suplementasi pada bumil dan busui walau perbaikan status gizi sang ibu belum memberikan hasil yang relevan. Hal-Hal Yang Penting Untuk Diingat Dari uraian di atas, jelaslah bahwa busui tak perlu mengkonsumsi makanan "besar-besaran". Kondisi "lapar" terus menerus yang dianggap sebagai efek pemberian ASI pada si buah hati bukanlah menjadi "pemakluman" busui dapat makan "tak terbatas". Energi tambahan yang harus dicukupi dari asupan sehari hari ternyata hanya sekitar 300-500 kcal. Sebuah yoghurt dengan kadar lemak 3,5 % sebanyak 250-300 gr ternyata telah dapat mencukupi kebutuhan 300 kcal. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan pemberian ASI setelah sesudahnya memang terbukti dapat menurunkan berat badan busui yang umumnya meningkat setelah masa kehamilan. Namun perlu diingat, penurunan berat badan ini tidak dapat dicapai tanpa terpenuhinya faktor-faktor terkait seperti manajemen laktasi yang tepat dan pengaturan asupan kalori yang memadai. Tidak tepat pula bila dikatakan seorang ibu yang kurus tidak dapat menghasilkan ASI yang sesuai dengan kebutuhan bayi. Demikian pula sebaliknya, busui yang cenderung memiliki berat badan di atas rata rata juga tak pasti produksi ASI nya berbanding lurus dengan BB nya. Hanya dalam kondisi ekstrim malnutrisi berkepanjangan, kuantitas dan kualitas ASI dapat terpengaruh. Selamat menyusui si kecil mommies, nikmati masa masa indah ini! (@DaI) |