|
Berat badan yang "tak balik modal" setelah melahirkan ataupun BB yang makin meningkat setelah melahirkan biasanya merupakan beberapa masalah yang dimiliki wanita setelah si kecil lahir ke dunia. Diet, baik melalui pengkonsumsian jenis pil pil tertentu, produk herbal atau bahkan radikal membatasi asupan makanan sehari hari kadang pun menjadi pilihan agar "si langsing" kembali dimiliki. Namun, tepatkah langkah diet yang dilakukan? Berpengaruhkah produk diet bagi kualitas dan kuantitas ASI ibu?. Rangkuman kali ini membahas tentang permasalahan tersebut. Silakan simak tema tersebut di bawah ini.
Bolehkah ibu melakukan diet untuk menurunkan berat badan pada masa menyusui?
Tindakan diet radikal saat masa menyusui sama sekali tidak dianjurkan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Strode et al (1986), di kondisi ekstrim asupan kalori yang kurang dari 1500-1700 kcal per hari maka volume ASI yang diproduksi dapat berkurang sebesar 15% dari produksi normal. Tak heran, anjuran "reduktionsdiaet" sama sekali tidak dianjurkan pada masa ibu memberikan ASI pada buah hatinya.
Bagi ibu yang overweight, adakah komposisi zat tertentu yang berbeda dibandingkan ibu yang memiliki BB normal?
Sayangnya sampai sekarang hampir dapat dikatakan belum banyak dilakukan studi yang meneliti khusus tentang perubahan komposisi ASI pada busui yang memiliki masalah overweight. Hanya terdapat sedikit informasi yang menyatakan bahwa ASI dari busui yang kelebihan BB memiliki kadar lemak yang tinggi (Prentice 1994).
Dalam kondisi busui yang overweight, dapatkah tindakan diet dilakukan?
Tindakah diet tetap tidak dapat ditolerir!. Simpulan dari studi Mackey et al (1998) menganjurkan bahwa busui jangan sampai melakukan diet (apalagi yang bertujuan untuk mereduksi BB) "tanpa" melalui konsultasi profesional dengan ahlinya. Hal tersebut membahayakan karena akan memperbesar bahaya terjadinya under supply beberapa mikronutrisi yang ada di ASI.
Bagi ibu yang memiliki masalah malnutrisi, berubah pulakah komposisi zat zat yang terdapat di ASI?
Di beberapa publikasi ilmiah memang disinggung adanya keterkaitan antara kondisi busui yang malnourished dengan asupan kalorinya yang juga amat buruk dengan kuantitas dan kualitas ASI. Selain volume ASI yang berkurang, ada juga perubahan konsentrasi zat imun tubuh, beberapa vitamin yang larut dalam air/lemak dan mineral(selenium, iodium).
Bisa diberikan contoh realnya?
Sebagai contoh, busui yang melakukan tabu konsumsi susu dan produk daging dagingan dalam waktu yang cukup lama biasanya memiliki konsentrasi kandungan vitamin B12 yang rendah dalam ASInya. Demikian juga bila asupan sayur-sayuran dan buah-buahan yang tidak cukup akan berpengaruh terhadap konsentrasi vitamin C nya (Bates et al 1982).
Katanya kan menyusui dapat menurunkan BB, tapi kok banyak juga yang merasakan "resep" itu tidak berlaku ya?
Bila boleh sedikit menyinggung hubungan pemberian ASI dan BB, dari penelitian penelitian yang mengkaji tentang fisiologi penurunan BB busui semisal dari Butte dan Hopkinson (1998) yang dimuat dalam J Nutr 128, memang disimpulkan bahwa busui dapat turun BB nya di 4-6 bulan pertama masa menyusui sekitar 0,6-0.8 kg BB per bulannya: kemudian pemberian ASI setelah masa masa tersebut juga memberikan hasil penurunan BB tapi minimal.
Namun keberhasilan penurunan BB ini ternyata banyak faktor yang mempengaruhinya, tak hanya sekedar memberikan ASI. Di sana terdapat pengaruh manajemen laktasi yang tepat, modus menyusui yang benar, pengaturan asupan kalori perhari sesuai dengan anjuran bagi busui, aktivitas tubuh yang memadai, penambahan BB saat hamil yang ideal (sesuai dengan BMI yang dimiliki) dan banyak faktor lainnya.
Jadi, kenapa kok banyak sekali busui yang tidak bisa mencapai BB sebelum hamil?
Kalau boleh sedikit cerita, memang banyak wanita (khususnya di negara industri) tidak dapat meraih BB sebelum hamilnya akibat terlalu besarnya asupan kalori harian saat masa menyusui, ditambah dengan aktivitas tubuh yang rendah (Winvkist dan Rasmussen 1999).
Tapi walaupun tidak dapat meraih BB sebelum hamil,bila dibandingkan dengan para ibu yang tidak memberikan ASI (dengan kondisi asupan kalori tinggi, aktivitas tubuh rendah), mereka tetap menunjukkan penurunan BB dibandingkan kelompok kedua tadi (Kramer et al 1993).
Simpulannya apa ya agar BB busui dapat kembali ke BB sebelum melahirkan?
Seperti yang telah disampaikan di atas, agar busui dapat meraih BB sebelum hamil maka harus dilaksanakan manajemen laktasi yang tepat dan modus menyusui yang benar. Selain itu pengaturan asupan kalori perhari sesuai dengan anjuran bagi busui juga harus dilakukan dengan diiringi aktivitas tubuh yang memadai untuk membakar kalori. Yang penting juga untuk diingat, penambahan BB saat hamil yang ideal (sesuai dengan BMI yang dimiliki) sebaiknya juga dilakukan. Minimal hal terakhir penting untuk diingat bagi masa kehamilan berikutnya. (DaI/WRM)
|