We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Resensi Film arrow Ternyata, Penguin Itu Cantik
Ternyata, Penguin Itu Cantik E-mail
Pengirim: Yudith Fabiola   
Selasa, 31 Januari 2006

Suka film dokumenter? Saya juga tidak suka.
Lebih asyik mana  nonton telenovela yang bertele-tele atau atau film dokumenter?
Saya pikir film dokumenter itu membosankan.
Tapi, tunggu dulu! Ternyata ada juga film dokumenter yang seru dan ciamik ketika ditonton. Ah, saya jadi merasa bersyukur saat ayah putriku berkata, “Wah, kita beli VCDnya yuk!” ketika film ini diiklankan selintas disalah satu channel tv. March of The Penguins judulnya.

Tokohnya, tentu saja pinguin-pinguin yang bertubuh tambun diselimuti bulu seperti mantel. Percakapan pinguin menggunakan bahasa Perancis, untunglah terjemahannya berbahasa Inggris. Meski begitu, bukan berarti saya paham seluruhnya, minimal tidak terlalu "bengong" ketika menontonnya.

I want to live in paradise
I want to live in the sun

menjadi lagu pembuka yang manis dengan setting benua antartika yang bersuhu –40 derajat celcius!! Brrrrr…

Tak ada tanaman, tak ada manusia (selain kru film ini mungkin?). Hanya ada tebing-tebing terjal dan curam. Sunyi, sepi dihiasi oleh desau angin dan kerumunan pinguin dengan jumlah sangat banyak.

Ternyata, pinguin itu sangat cantik. Tubuhnya tambun dijejali lapisan lemak yang berfungsi menghangatkan tubuhnya. Bulu-bulunya sangat tebal seperti mantel sehingga mereka tahan terhadap dingin yang menggigit. Perpaduan warnanya harmonis. Bagian belakang tubuhnya juga sayap dan wajahnya hitam legam kemilau. Sekitar lehernya oranye kekuningan, sedangkan bagian depannya berwarna putih yang nampak keemasan jika tertimpa cahaya matahari. Jalannya berlenggak-lenggok, lucu. Terkadang ia jalan sambil berdiri, tak jarang sembari merebahkan tubuhnya di hamparan padang es. Suaranya besar seperti suara angsa. Kepalanya kadang menjulur ke atas, kadang meliuk ke kiri dan kanan, atau terkulai ke bawah hingga paruhnya menyentuh kaki. Kepak-kepak sayapnya keras ketika ber’kelahi’. Mereka juga sangat lihai menyelam didalam laut. Mereka pun senantiasa merapatkan dirinya satu sama lain pada setiap kesempatan terlebih ketika badai salju datang, mungkin untuk menghangatkan badannya.

Saat musim panas mereka melakukan perjalanan panjang (sangat panjang, baik barisan penguinnya juga jarak tempuh perjalanannya) dan ‘menikah’ saat itu juga. Ketika musim dingin tiba, setelah bertelur, mereka berpisah. Sang betina pergi meninggalkan telurnya untuk mencari makanan di dalam laut, yang tidak hanya penuh dengan ikan (makanan mereka) tapi juga musuh yang mengancam jiwa. Sang jantanlah yang menjaga telur bakal jabang bayi mereka dari badai salju dan kegelapan yang mencekam disaat winter.

Telur menetas dan keluar bayi penguin. Ketika ibu belum tiba sementara si bayi sangat kelaparan, sang ayah memberikannya remah-remah makanan dari dalam mulutnya kepada si bayi. Lalu, tiba saatnya ibu kembali sambil membawakan makanan untuk anaknya yang kelaparan dan menggantikan tugas si ayah yang telah menjaga telur berbulan-bulan tanpa makan!. Kemudian sang ayah yang ganti meninggalkan mereka untuk mencari makan. Sebelum pergi, sang ayah menyimak baik-baik  suara anaknya agar dapat mengenalinya ketika kembali nanti.

Yang sedihnya, ketika bayi penguin ditinggalkan lagi oleh ibunya untuk mencari makan sementara sang ayah belum kembali. Si bayi penguin seperti anak kehilangan induknya. Pengabadian momen pertemuan ayah dan anak sangat mengharukan. Mereka saling mengenali satu sama lain hanya lewat suara. Maha Suci Dia!.

Ah ya,tentu saja tak semua penguin mampu bertahan hidup di medan yang ganas tersebut. Ada yang mati sebelum sempat menetas karena telurnya beku. Ada yang tertinggal oleh rombongannya, ada yang diterkam oleh monster dalam air. Bayi penguin bisa mati karena kedinginan juga karena dimangsa burung omnivora.

Begitulah cerita tentang kisah cinta dan pertahanan hidup yang yang memukau dari salah satu hewan ‘tabah’ di muka bumi. Hewan yang menurut saya diciptakan oleh Allah ‘hanya’ untuk menunjukkan kekuasaanNya semata. 'Hanya' untuk memperlihatkan pada manusia bahwa Dia ada dan Dia adalah Sang Pencipta karena sampai hari ini saya tidak tahu ‘manfaat langsung’ yang didapat oleh manusia dari penguin selain decak kagum atas perjalanan kehidupan yang dijalaninya.

Sungguh saya sangat berterimakasih kepada mereka yang telah bersusah payah membuat film ini karena saya bisa melihat kebesaran Alloh pada mahlukNya dibumiNya yang lain tanpa harus melanglang jauh kesana.

Jangan pikirkan tentang Aku, namun pikirkanlah tentang ciptaanKu, maka kau akan mengenalKu.

Spore, lewat tengah malam
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement