We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Yang Lain arrow Pergi Ke Dokter Gigi
Pergi Ke Dokter Gigi E-mail
Pengirim: Virrie Triputra   
Selasa, 14 Pebruari 2006

Come on mommy…hurry up”, teriak Fatima. Aku tertawa geli melihat putriku yang sudah berdiri didepan pintu rumah karena tidak sabar untuk pergi ke dokter. Mengenakan jaket tebal khusus salju berwarna oranye terang dengan topi kupluk merah muda, putriku terlihat tenggelam didalam baju ‘kebesaran’nya. Hari itu aku memang mempunyai dua janji, dengan dokter kandunganku dan dokter gigi anakku.

Walau salju turun dengan derasnya dan udara dingin menusuk sampai ketulang tulangku, kami tetap harus pergi. Beberapa hari yang lalu sengaja aku membelikan putriku satu set mainan peralatan kedokteran yang terbuat dari plastik, dengan harapan dengan bermain dokter dokteran bersamanya membuat kunjungan kami ke dokter gigi pada suatu hari nanti tidak menakutkan bagi putri kecil kami yang baru saja berulang tahun ketiga.

Setelah membaca doa, mobil kami pun meluncur keluar komplek apartemen kami yang sudah tertutup salju tebal. Sepanjang perjalanan Fatima tidak hentinya bernyanyi mengikuti syair lagu anak dari kaset yang memang selalu kami putarkan untuknya. “…and the itsy bitsy spider climbed up the spout again” saut Fatima pelan mengakhiri lagu dan perjalanan kami ke klinik dokter kandunganku siang itu.

Di klinik dokter kandunganku Fatima dan ayahnya seperti biasa menungguku di ruang tunggu. Setelah aku selesai diperiksa, dokter kandunganku menyempatkan dirinya untuk melihat dan mengajak bicara putriku, “Hi Fatima, how’s my favourite lil gal doing today ?!”. Hal itu selalu ia lakukan setiap aku datang berkunjung, aku perhatikan dokter kandunganku memang menyukai anak kecil, apalagi kelahiran putri kami, Fatima Azzahra, tiga tahun yang lalu, dibantu oleh dokter yang sama. Aku memang selalu membawa Fatima ke setiap janji bertemu dengan dokter, terutama selama aku hamil dan menjalani pengobatan karena penyakit pengentalan darahku ini. Fatima jadi tahu prosedur pemeriksaan rutin yang dilakukan dokter-dokterku (dokter kandungan dan Hematologist).

Setelah kami meninggalkan klinik dokter kandunganku, kami langsung meluncur ke dokter gigi anakku yang kebetulan tidak begitu jauh dari klinik dokter kandunganku, hanya sepuluh menit perjalanan dengan mobil. Tetapi siang itu perjalanan ke klinik dokter gigi keluarga kami memakan waktu agak banyak karena cuaca yang begitu buruknya. Selama terjebak kemacetan, hatiku agak terusik, “Apakah Fatima akan menangis ya…karena ini adalah pemeriksaan pertamanya setelah setahun tidak mengunjungi dokter gigi”, pikirku.

Setibanya di klinik dokter gigi, Fatima pun langsung dipersilahkan masuk ke salah satu ruangan dan duduk di kursi khusus untuk pasien. Asisten dokter gigi yang siang itu mengenakan pakaian biru muda meletakkan pelindung dada atau “Lead apron” pada Fatima dan menaikkan kursi yang Fatima duduki. Sambil tersenyum Fatima berkata, “Mommy, look…I’m going up”. Duh leganya hatiku karena putriku tidak terlihat segan dan takut.

Setelah asisten dokter melakukan x-ray pada seluruh gigi putriku, aku dan suami pun bisa dengan jelas melihat hasil x-ray tersebut di layar monitor yang terletak di atas pojok ruangan. “Duh canggih sekali ya teknologi jaman sekarang, hasil x-ray langsung masuk ke data pasien di dalam komputer, jaman kita kecil mana ada model x-ray seperti ini” sahutku pelan ke suamiku. Kebetulan dokter gigi anakku adalah juga dokter gigiku dan suami. Kami menyukai pelayanan dokter dan staffnya yang cepat dan professional, selain kliniknya yang juga bersih dan amat menyenangkan.

Tidak lama kemudian dokter kami pun masuk keruangan dan langsung melemparkan pandangannya ke arah putri kami yang sedang duduk dengan tenangnya di kursi pasien dalam pangkuan ayahnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi dokter pun menyuruh Fatima membuka mulutnya dan memulai pemeriksaan kebagian dalam rongga mulut putriku. Selama dokter memeriksa keadaan gigi putriku, tidak sedikitpun Fatima menangis atau terlihat gelisah walaupun ia sudah tidak lagi berada dalam pangkuan ayahnya. Apa yang dokter perintahkan putriku lakukan tanpa perlawanan. Aku katakan kepada suamiku, “Yang, kamu lihat tidak…dari tadi Fatima nurut saja apa kata dokter”, suamiku hanya menganggukkan kepalanya.

Setelah pemeriksaan selesai, dokter menjadwalkan Fatima untuk ditambal giginya karena ada sedikit lubang pada gigi bagian depan atas dan gigi gerahamnya. Walau lubang pada gigi putriku tersebut tidak akan mempengaruhi pertumbuhan gigi permanennya tetapi dokter tidak mau mengambil resiko, selain itu menurut beliau lubang pada gigi anak akan cenderung membesar dan akan mengganggu kenyamanan anak saat makan dan minum pada akhirnya nanti.

Dokter kami ini selalu menggunakan tambalan gigi yang berwarna sama dengan gigi karena menurutnya tambalan gigi yang menggunakan “chrome” mengandung bahan merkuri yang berbahaya. Fatima dianjurkan untuk rajin menggosok giginya dan tidak mengkonsumsi minuman yang banyak mengandung gula. Kecurigaan dokter akan botol susu sebagai penyebab lubang pada gigi putriku tidak beralasan karena aku katakan padanya bahwa Fatima tidak pernah mengenal botol susu. Putriku aku berikan ASI selama dua tahun dan setelah itu ia belajar minum susu dan jus buahnya dari gelas anak anak, tidak pernah Fatima kuperkenalkan dengan botol susu.

Setelah kami dijadwalkan untuk datang kembali minggu depan, Fatima pun diperbolehkan memilih mainan yang ia sukai untuk dibawa pulang dari sebuah kotak besar, selain tentu saja sikat gigi anak anak. “Mommy, look I got a toy and a pretty toothbrush” pamer Fatima. Tidak seperti dokter gigi Fatima yang pertama, dokter kami ini adalah dokter gigi keluarga, tidak ada satupun gambar kartun atau gambar karakter favorit anak di setiap ruangannya. Aku dan suami memutuskan untuk mengganti dokter gigi putri kami karena letak klinik dokter gigi keluarga kami lebih dekat ke tempat kami tinggal. Berbeda dengan dokter gigi spesialis anak yang kami pilih dulu, yang terletak agak jauh dari rumah kami.

Pujian dan rasa bangga terhadap putri kami, kami lontarkan kepada Fatima sepanjang perjalanan pulang dari dokter sore itu. Fatima yang sedang sibuk dengan mainan barunya hanya berkomentar “Thank you”. Sepanjang perjalanan pulang aku hanya bisa membayangkan bagaimana reaksi putri kecilku saat giginya ditambal nanti. “Apakah semudah kunjungan kami hari ini atau tidak ya?!”, pikirku tak henti hentinya bagaikan syair lagu yang berkumandang saat itu, “The wheels on the bus go round and round…round and round…round and round”.

Oh well…we’ll see!

Denver, Colorado, January 19th 2006

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement