|
Pada proses melahirkan bayi, sudah biasa terdengar bahwa vagina si ibu harus digunting untuk melancarkan jalan lahir. Tetapi melihat kenyataan bahwa tidak semua orang yang melahirkan mengalami hal itu, terutama generasi orangtua kita, seorang mom di milis WRM menjadi bertanya-tanya. "Apakah prosedur itu suatu keharusan dan pasiennya tidak punya pilihan? Apakah si dokter tidak harus meminta persetujuan yang bersangkutan sebelum melakukan prosedur tersebut? Siapa tahu orangtua bayinya keberatan", tanyanya.
Ia pernah bertanya tentang hal itu kepada temannya yang kala itu masih mahasiswa kedokteran, dan jawabannya "Itu tidak apa-apa. Kalau tidak begitu tetap saja jalan lahirnya robek dan robekannya tidak rapi. Kalau digunting kan rapi". Tetapi ia tetap tidak yakin karena "Kan banyak juga yang melahirkan berkali-kali tetapi jalan lahirnya tidak robek. Jadi, apakah menggunting jalan lahir ini suatu prosedur standar?". Diskusi ini berkembang cukup hangat di milis WRM, mari kita simak tanggapan para mommies.
Para mommies bercerita berdasarkan pengalamannya masing-masing. Sebagian besar menyatakan tidak keberatan digunting, yang penting proses kelahiran lancar. "Terserah deh mau diapain juga yang penting anak saya lahir selamat" "Nggak sakit kok" atau "Nggak kerasa digunting kok, tahu-tahu anaknya lahir", begitu kira-kira komentarnya. Tapi tidak semua merasakan hal yang sama. Ada yang merasa kesakitan saat digunting dan dijahit, ada yang jahitannya tidak beres sehingga menimbulkan masalah baru, ada yang menyatakan rasanya dijahit sama dengan sakitnya kontraksi, dan sampai 7 bulan setelah melahirkan masih terasa sakit jika buang air besar. Soal ijin gunting-menggunting, ada dokter yang minta ijin sang ibu dulu, banyak juga yang tidak minta ijin, bertanya, atau memberitahu pasiennya dan langsung melakukan episiotomy tersebut.
Lalu bagaimana yang seharusnya?
Seorang mom yang tinggal di USA menginformasikan bahwa di US sendiri menggunting jalan lahir atau episiotomy termasuk prosedur standar. Tetapi dari berbagai artikel terakhir menyebutkan bahwa episiotomy sebaiknya jangan dijadikan standar, tetapi pilihan. Dengan demikian si pasien berhak menolak untuk digunting. Yang terakhir ini masih jadi perdebatan. Mom lain menambahkan bahwa soal pengguntingan ini biasanya diberi tahu sebagai prosedur yang bisa jadi akan ditempuh saat seorang ibu melahirkan, dan biasanya bukan sesuatu yang harus dimintakan ijin, sebab bukan sesuatu yang fatal. Jalan ini ditempuh kalau si ibu sudah sekuat tenaga mengejan tetapi si bayi belum bisa keluar sempurna, atau si bayi terlalu besar untuk ukuran jalan lahir si ibu.
Mengenai hal ini seorang mom berlatarbelakang dokter menambahkan, bahwa dalam berbagai penelitian terbaru, meskipun masih dalam perdebatan, tetapi ternyata tidak ada bukti dampak positif episiotomy untuk persalinan yang tidak bermasalah. Menurut pembahasan di dalam artikel ini dan beberapa artikel senada, menyatakan bahwa menurut hasil penelitian terbaru tentang episiotomy, pada intinya tidak ada benefit/keuntungannya dilakukan hal tersebut, terutama jika hal itu rutin dilakukan (bagi yang melahirkan berkali-kali).
Episiotomy mulai ramai dilakukan pada tahun 1930-an. Secara teori episiotomy itu akan mengurangi robekan jalan lahir, mengurangi resiko inkontinensia, keluarnya organ-organ dalam panggung, dan mengurangi gangguan fungsi seksual. Tetapi setelah diteliti oleh ahli obgyn pada sekitar tahun 80-an, ternyata mulai terbukti bahwa episiotomy malah membuat vagina sakit lebih lama, dan karenanya lebih lama waktu yang dibutuhkan untuk mulai berhubungan seksual lagi. Dan akhir-akhir ini ditemukan bahwa teori-teori yang mengatakan episiotomy itu bagus, kebanyakan tidak terbukti.
Ia melanjutkan, bahwa masalahnya adalah hal ini sudah terlanjur dijadikan prosedur standar oleh rumah sakit, dan sudah terpatri dalam benak DSOG produk lama, jadi mereka tidak ingin mengubah prosedur ini dan tetap melakukan episiotomy. Hal ini yang menimbulkan perdebatan.
Tetapi menurutnya memang episiotomy masih diperlukan untuk kondisi-kondisi tertentu, seperti bayi besar yang harus diforceps (dijepit kepalanya untuk mengeluarkannya dari jalan lahir), atau untuk mencegah asfiksia (defisiensi oksigen) jika anak terlalu lama berada di jalan lahir.
Menurut saran para ahli, jika ingin menolak prosedur episiotomy, harus bicara dengan dokternya jauh-jauh hari sebelum waktunya melahirkan. Ia menyarankan, untuk mereka yang baru mau melahirkan, tidak ada salahnya hal ini dipertimbangkan dan dibicarakan dengan dokternya, sambil tidak lupa membaca secara lengkap berbagai informasi tentang episiotomy ini.
Dan untuk menghindari kerobekan saat proses melahirkan dan supaya proses melahirkannya senatural mungkin, para ahli menyarankan untuk melakukan senam hamil dan senam kegel.(DD/WRM)
referensi :
Routine procedure during childbirth provides no benefits, study review finds
|