We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Yang Lain arrow Belajar itu fun'
Belajar itu fun' E-mail
Pengirim: Intan Alamsyah   
Selasa, 14 Pebruari 2006

Apakah sekolah itu fun ?
Kita akan menjawab : sekolah itu membosankan, membuat stres dan menyedihkan. Cerita-cerita masa sekolah yang sering diceritakan kembali jarang tentang sekolah itu sendiri tapi lebih sering tentang pertemanan atau bermain dalam tim. Ketika orang menceritakan kembali tentang kesuksesan sekolah, ceritanya seringkali tentang kerja keras untuk dapat nilai baik, hampir tidak pernah tentang belajar. Mengapa?

Tentu saja yang sangat menarik di sekolah adalah interaksi dengan anak-anak lain. Bersekolah bukan belajar. Sekolah adalah pekerjaan, adalah bagaimana supaya menang (jadi juara kelas), adalah bagaimana anak lain suka pada kita, adalah bagaimana guru suka pada kita. Tidak jelek sebenarnya.

Sekolah memang bagian dari hidup, dan tidak ada alasan mengapa anak-anak tidak boleh berpikir seperti itu. Tapi anak-anak seharusnya juga belajar (learn).

Terutama, mereka harus belajar bahwa belajar itu menyenangkan. Mereka harus belajar bahwa memperluas wawasan juga menyenangkan, belajar bahwa kalau mereka salah (menjawab) itu bukan sesuatu yang hina, dan mengambil resiko akan ada manfaatnya. Mereka seharusnya belajar bahwa sekolah adalah tempat yang baik untuk melakukan semua itu.

Anak-anak malas sekolah karena takut ujian dan takut melihat hasilnya. Tidak heran mengapa sekolah menjadi ajang stres. Tapi seharusnya di sekolah mereka mendapatkan kesenangan intelektual, tertarik dengan ide-ide baru dan termotivasi dengan pengetahuan baru.

Belajar secara alami adalah sesuatu yg menyenangkan. Anak umur 2 tahun senang belajar. Banyak orang dewasa yang senang belajar. Hanya anak-anak masa sekolah yang mengasosiasi belajar dengan ketakutan akan kegagalan. Kita harus mengambil ketakutan akan kegagalan tersebut dari sistem sekolah. Berusaha dapat nilai baik atau berusaha menyenangkan guru tidak seharusnya menjadi tujuan belajar.

Bagaimana membuat belajar menjadi menyenangkan?

1.Beri jawaban-jawaban yang mungkin, tidak harus selalu yang tepat.

Kita perlu menyeimbangkan antara pertanyaan yang berdasarkan fact dan open question. Jangan semuanya hafalan tapi perlu juga pertanyaan yang memicu diskusi.

2.Jangan terlalu kaku

Belajar tidak harus selalu dalam suasana kaku dan penuh disiplin. Belajar lebih berhasil kalau yang dipelajari itu menarik, berhubungan dengan keinginan mereka dan menyenangkan. Kita perlu membangun lingkungan yang membuat anak-anak menjadi ingin tahu.

3. Visible projects, not invisible rejects

Kita harus mengesampingkan nilai-nilai, ujian dan ukuran-ukuran kompetitif lain. Anak-anak perlu merasakan accomplishment, untuk menunjukkan kepada yang lain apa yang bisa mereka hasilkan. Apa-apa yang mereka hasilkan harus visible, real accomplishments, kemampuan atau produk aktual, yang bisa ditunjukkan, bukan sebagai obyek kompetisi, tapi sebagai kebanggaan akan apa yang bisa mereka lakukan.

4. Hearing and needing, not only listening and reading

Belajar di sekolah umumnya pasif. Guru mengajar dan anak-anak mendengarkan. Belajar akan jauh lebih baik kalau bentuknya aktif, tidak pasif. Instruksi sebaiknya hanya diberikan kalau anak-anak menunujukkan keingintahuan. Setiap kali pengajar meminta anak-anak mendengarkan, mereka harus bertanya pada diri sendiri apakah mereka yakin bahwa anak-anak ingin mendengarkan apa yang mereka katakan. Jika anak-anak tidak mau dengar, mereka tidak akan dengar, bagaimanapun kita menakuti-nakuti mereka.

5. Motivation, not resignation

Tugas pengajar adalah memperluas wawasan anak-anak, membuat mereka lebih tertarik. Sebaiknya pengajar memberikan respon yang terbaik yang mereka tahu kalau anak-anak menunjukkan ketertarikan.

Sumber : Learning is fun

Catatan : tidak semua point di artikel aslinya saya ambil disini

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement