We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Cerita Pendek arrow Buntu
Buntu E-mail
Pengirim: Mamiek Syamil   
Selasa, 03 Januari 2006
Apa ya?
Aku garuk-garuk kepala lagi untuk kesekian kali. Kutatap langit-langit. Tidak ada apa-apa di sana. Kupelototi permukaan karpet. Kosong. Ke bawah meja. Sama. Ke tembok. Apalagi. Apa ya?
Coba apa yang mesti kutulis?
Buntu!

Mom! I want milk!” suara anak sulungku membuyarkan lamunanku.

Aku beringsut ke dapur. Sepanjang jalan menuju ke dapur, pikiranku penuh dengan seribu pertanyaan…apa ya, apa dong, apa ya? Kucoba mencari jawaban di segala benda yang kulalui, memandangnya satu persatu. Mulai dari mainan yang berserakan hingga telpon dan dishwasher. Semua bisu. Bahkan pintu lemari es pun tak sanggup menjawab pertanyaanku. Saat membuka lemari es pun pikiranku masih sibuk melayang mencari jawaban, menerobos di sela-sela botol selai, container susu, butter, telur, juice….

Mom! That’s juice, not milk! I want milk!”. Oh…aku salah mengambil container.

Kutaruh gelas susu di depan meja anakku. Dia masih sibuk dengan corat-coret. Kertas bertebaran di kakinya. Dia masih ngotot ingin menggambar mesin aneh seperti yang dilihatnya dalam film kartun.

“Ngotot banget”, batinku.

Atau justru karena dia tidak kenal menyerah? Mestinya aku seperti dia. Kudengar ceklik-ceklik suara keyboard di ruang komputer.

“Adiiikkkkk….Noooooo!”. Aku menghambur ke arah suara itu.

Kulihat si Adik meringis di depan komputer. Oh my God…halaman yang tadi kutinggalkan telah berubah menjadi tulisan berbahasa planet. Si kecil menambahkan berbagai huruf diantara kalimat-kalimat itu, dan aku lupa menyimpan versi sebelumnya. Aku terduduk di karpet. Mau nangis rasanya! Tapi malu. Mau ngamuk saja! Ah percuma, si Adik baru berusia dua tahun, dia pasti tidak mengerti arti perbuatannya.

Ternyata menulis tak semudah bayanganku sebelumnya. Menjadi penulis, itu kayalanku sejak dulu. Oleh sebab itu aku rajin ikut pelatihan menulis, meskipun sampai detik ini hasilnya nol besar!

“Nul puthul” kata orang Jawa, sudah nol, puthul*) pula.

Aku tetap saja tidak bisa menulis. Setiap kali kucoba duduk di depan komputer, maka yang terjadi selalu seperti ini : buntu! Aku tidak tahu cerita apa yang mesti ditulis, pun tidak tahu tokoh apa yang mesti dimainkan.

Teringat olehku nasihat seorang penulis kenamaan, Fahri Aziza, yang mengatakan bahwa pemilihan tokoh dalam setiap cerita adalah : BEBAS, SEBEBAS-BEBASNYA SEPERTI BURUNG TERBANG DI LANGIT”. Justru itu yang menjadi masalahku. Pikiranku, ceritaku,tokohku, semuanya terbang lepas seperti burung di langit. Dan benar-benar lepas…pas…pas…bablas! Tak berbekas. Uhh…! Oke, aku menyerah. Tidak, bukan menyerah untuk menjadi penulis. Aku menyerah dengan tema yang sedang kugarap sekarang. Terlalu pelik. Tidak hidup, tidak berjiwa, tidak bernuansa, tidak berirama, tidak menghanyutkan.

Sebuah tulisan haruslah indah dan sanggup membawa pembacanya ke alam yang dimaui penulisnya. Lantas ganti tema apa? Tema anak remaja? Aku terlalu tua untuk bisa mengerti selera remaja sekarang. Tema fiksi ilmiah? Aku tahu bagian yang ilmiah, tapi yang fiksi? Boro-boro. Tema humor? Anakku saja sering protes,”That’s not funny, Mom…”. Ya, aku tak berbakat melawak. Bisa-bisa ditimpuk oleh pembaca. Tema horror? Horror? Cerita horror tidak ditulis oleh seorang yang takut ke kamar mandi di malam hari. Lagi pula, aku tidak mau dihantui oleh tokoh yang kuciptakan sendiri. Jadi…apa dong? Buntu.

Mom, I need a bandage, right here…,” lagi-lagi anak sulungku membuyarkan lamunanku.

Aku beringsut ke lemari obat, sambil berharap tidak cuma plester yang kutemukan di lemari kecil itu. Siapa tahu seonggok ide cerita menanti di sana.

Kecele! Tentu saja. Mana ada ide cerita di lemari obat. Di rumahku pula. Terbayang olehku rumah para penulis. Pasti ide tulisan ada di mana–mana, tinggal ambil. Di meja makan, di ruang tamu, di garasi, di halaman, di rumah tetangga. Rumah tetangga!

Aku melihat keluar dari balik cendela. Diam-diam kuperhatikan tetanggaku. Tetangga depan itu mungkin menarik untuk dijadikan bahan tulisan. Suaminya orang kulit hitam, istrinya orang Cina. Pasangan yang langka, bisa menjadi tokoh tulisan yang menarik. Anak-anaknya pun lucu. Ada yang berkulit hitam dan bermata sipit. Ada yang berkulit kuning dengan rambut keriting. Hatiku berbunga-bunga, akhirnya kutemukan bahan tulisan yang kucari-cari. Tapi, hei…bagaimana kalau suatu saat diantara anak mereka ada yang menikah dengan orang Indonesia, kemudian mereka membaca tulisanku, dan menyadari bahwa mereka dijadikan bahan cerita tanpa ijin terlebih dahulu? Bagaimana kalau aku dituduh sebagai mematai-matai kehidupan pribadi? Sejuta kekhawatiran menggelayuti pikiranku. Jangan –jangan yang kugali bukan bahan tulisan tapi bahan masalah. Hatiku “mendelong”**).

Tapi tunggu, tetangga sebelah kiri kayaknya juga menarik. Tapi…apanya yang menarik?! Kenal saja tidak. Yang kutahu dia adalah seorang pria tua yang hidup sendirian. Sejak aku pindah ke rumah ini, belum sekalipun kami berkenalan dengannya. Dan dia juga tidak pernah menyapa kami. Tetangga depanku pernah bilang bahwa dia seorang yang aneh. Memang sering kulihat dia celingukan di halamannya sendiri, di semak-semak. Apakah dia mencari sesuatu yang hilang? Masak kehilangan barang setiap hari, di halaman rumah sendiri? Ya, aneh. Aku setuju. Aku keluar ke halaman depan, berharap bisa menyelidiki tetangga sebelah itu lebih jauh lagi.

Nah, itu dia! Dia sedang menggali dengan sekop besar di halaman belakang rumahnya. Di sore hari begini? Mataharipun sudah hampir lenyap, tinggal langit yang memerah. Kalau mau menanam pohon, mengapa menjelang malam begini? Jangan-jangan…apakah dia akan mengubur sesuatu? Atau seseorang? Kutepis pikiran seramku. Belum lagi menjadi penulis tapi kayalanku sudah menggerayang kemana-mana. Aku menuju ke halaman samping, mungkin bisa terlihat lebih jelas. Ah, aku tidak mau terlihat olehnya sedang mematai-matai apa yang dilalukannya. Aku pura-pura mencari sesuatu diantara tanaman bunga-bungaku. Pelan-pelan aku semakin mendekati ke arahnya sambil seolah sedang mencari sesuatu di antara tanaman-tanamanku itu. Hei…ternyata biji kemangi yang kutanam dua bulan yang lalu telah tumbuh besar! Hatiku bersorak. Sejak aku sibuk ingin mewujudkan impianku menjadi penulis, urusan kebun dan halaman menjadi terbengkalai. Tidak kuketahui lagi nasib tanaman-tanamanku. Bunga kertas dan roseku sebagian ada yang dimakan serangga dan kena penyakit.

Hello…!”.

Aku tersentak.

“Oh, eh…hi…”, aku tergagap. Tetanggaku itu ternyata sudah ada disebelahku! Oh, dia sebenarnya berwajah ramah. Tidak ada sedikitpun keanehan.

Is there something you’re looking for?” tanyanya sambil ikut celingukan di sela tanaman.

“Oh, eh…anu, oh…I…I’m just looking for some….bugs!” Jawaban yang ngawur. Campur bahasa Indonesia lagi. Tiba-tiba aku menyesal. Mengapa tidak dijawab sejujurnya? Mengakui bahwa aku sedang memata-matai dia?

Bugs! What kind of bug? Did they ruin your plant?”, tetanggaku itu semakin penasaran, Or…. are you a bug collector?,” tanyanya lagi sambil memicingkan mata.

Diberondong dengan pertanyaan membuatku semakin gugup.

Oh, yes…I…I have…some rare bugs,”. Ops! Aku mulai terjepit. Kali ini ngawurku sudah keterlaluan. Ah, toh dia tidak peduli.

You do ?! Whoa…What a surprise! We’re in the same hobby! A bug collector!”.

Matilah aku!

Dia pun mulai menerocos tentang serangga koleksinya. Aku hanya mengangguk-angguk pura-pura mengerti, meskipun sebenarnya hatiku bergidik. Siapa yang suka serangga?! Kemarin di rumahku ada seekor kecoa dan aku meloncat ke atas sofa. Dengan penuh semangat tetanggaku bercerita bahwa tadi malam dia berkemah di halaman belakang rumahnya, dan sebuah serangga yang unik menyelinap ke dalam tenda. Ketika hendak ditangkap ternyata serangga itu menelusup dengan gesitnya ke dalam tanah.

It was just gone!” katanya dengan kecewa.

Oleh sebab itu sore ini dia bertekad menggali lubang tepat dimana serangga itu menelusup, dengan harapan bisa menemukannya.

I have been digging a big hole,” katanya sambil menunjuk ke arah lobang yang digalinya,” but there is no bug!” Oh, aku merasa bersalah telah berburuk sangka.

Dia mendekat ke arahku.

I’m doing some researches about bugs….,” katanya sambil setengah berbisik. Aku heran mengapa dia mesti berbisik. Toh tidak ada orang di sekitar kami.

Mom! Adik eats toothpaste!” teriak anak sulungku dengan kencangnya dari pintu samping. Biasanya dia kubentak jika berteriak seperti itu. Kali ini teriakan itu terdengar seperti nyanyian dewa penyelamat.

My kids!Got to go! Nice to meet you!” aku tergopoh-gopoh ingin segera lenyap dari hadapannya.

Nice to meet you, too. Come over sometime, you have to see my collections!”.

Yes…I will”, balasku, insya Allah, tambahku dalam hati. Maksudnya….mudah-mudahan tidak.

**

Sehari lewat sejak pertemuanku dengan tetangga sebelah itu, dan aku masih buntu. Tulisan yang kuimpikan belum terwujud juga. Benar-benar buntu kelas berat. Sering kudengar dan kubaca para penulis mengatakan “menjadi penulis itu 10% bakat dan 90% latihan”. Ah, aku tidak percaya lagi. Jangan-jangan mereka hanya ingin menghibur orang-orang sepertiku supaya mau menulis biarpun tidak punya bakat. Akibatnya aku menjadi frustasi karena hasil tulisanku tidak seindah goresan para penulis. Ya…tiba-tiba aku menyadari. Kini aku tidak hanya buntu, tapi juga frustasi! Tiba-tiba suara sirene polisi meraung-raung di jalan depan rumahku.

“Ada apa ya ?”, aku jadi penasaran.

Aku berlari ke arah cendela. Tidak biasanya. Kompleks ini selalu sepi, dan raungan sirene itu mengejutkan seluruh kompleks. Jantungku ikut berdegup. Aku merasa tidak nyaman. Sebagai orang asing, polisi menjadi phobia tersendiri bagiku. Bahkan berpapasan dengan mobil polisi di jalan pun bisa membuatku grogi dan salah tingkah. Teringat ucapan seorang teman,“Kamu bisa dicegat polisi hanya karena nervous!”. Ya, benar juga. Grogi membuat mobilku oleng ke kanan dan kiri. Juga tanpa sadar menerobos lampu merah. Ternyata rumah pak tua tetangga sebelah itu telah penuh oleh polisi. Aku terheran-heran. Suamiku ikutan melongok di cendela. Kami pun berhamburan keluar, ingin melihat apa yang terjadi.

Homicide…!” bisik beberapa orang tetangga. Pembunuhan ? Degup jantungku semakin kacau. Pria tua itu mati terbunuh di rumahnya sendiri! Ah, padahal baru kemarin sore aku bertemu dan bercakap dengannya. Bagaimana mungkin? Tidak seoranpun tahu apa yang terjadi. Perampokan? Entahlah…polisi tidak memberi keterangan apapun, termasuk kepada wartawan. Kami pun bubar satu persatu dan masuk ke rumah masing-masing. Sepertinya polisi tidak suka orang-orang berkerumun di sekitar rumah itu. Mungkin mengganggu jalannya penyelidikan.

Malam ini anak-anak baru tidur menjelang tengah malam. Mungkin mereka ikut tegang dengan peristiwa tadi sore. Aku juga lelah sekali, ingin segera berangkat tidur. Hampir tengah malam ketika tiba-tiba terdengar suara ketukan keras di pintu depan. Suamiku melompat dari tempat tidur. Siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini? Kami mengintip dari lubang pintu. Beberapa orang polisi! Ada apa polisi ke rumahku? Tiba-tiba phobiaku mulai merayap ke seluruh sendi. Aku menarik nafas dalam-dalam, katanya cara itu bisa menepiskan kegundahan. Aku mencoba menghibur diri, ah, mungkin karena kami adalah tetangga si bapak tua itu. Mungkin polisi ingin mengumpulkan sejumlah informasi dari kami. Suamiku mempersilakan mereka masuk. Benar dugaanku.

“Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan sehubungan dengan peristiwa pembunuhan Mr. Snead”. Oh, aku malah baru tahu namanya Mr. Snead. Polisi mengatakan bahwa mereka ingin meminta keterangan dariku karena akulah orang terakhir yang terlihat bercakap-cakap dengannya. Dengan hati-hati dan panjang lebar polisi itu menjelaskan bahwa namaku ada di buku agenda Mr. Snead, dan disebut sebagai “new buddy”. Detak jantungku mulai kacau. Ilmu tarikan nafas tidak mempan lagi. Dadaku sesak, seolah ada ribuan serangga menyumbat di tenggorokan.

My name?” tanyaku penasaran. Aku heran, bagaimana pria tua itu tahu namaku ?

No,Mam…he just put yours as ‘Mrs. Karnadi’”, salah seorang polisi menjelaskan seolah bisa membaca keherananku.

Isn’t that your last name, Sir?” polisi menoleh ke arah suamiku.

Yes, Sir”, jawab suamiku dengan gusar. Suamiku terlihat mulai tegang.

So, that’s easy. Your name is on your mailbox”, jelas polisi.

Oh iya, ya. Pikiranku benar-benar tumpul.

Menurut polisi mereka menemukan bukti kuat bahwa Mr. Snead sedang melakukan penelitian dengan beberapa temannya sesama kolektor serangga. Mereka hendak menciptakan serangga baru yang tahan terhadap segala jenis pestisida, bahkan beberapa diantaranya termasuk jenis serangga pembunuh. Penelitian Mr. Snead sudah separuh jalan dan sebagian hasilnya sudah dikirim kepada pembelinya, sebuah kelompok gerakan separatis dari sebuah negara di Amerika Selatan.

Or, they could be a terrorist!”, kata salah seorang polisi sambil menatapku.

Tiba-tiba kepalaku pening luar biasa. Kurasakan seribu martil mengetok di kepala. Kini phobia itu semakin menusuk ke dalam urat syaraf, masuk ke dalam pembuluh darah. Dan menuju ke otak. Mataku mulai berkunang-kunang. Semua uraian polisi terdengar bagaikan rangkaian cerita yang indah, sekaligus mencekam. Seperti sebuah cerita yang sudah lama ingin kutulis. Tiba-tiba badanku menggigil. Tangan dan kakiku gemetar. Suara suamiku terdengar dikejauhan memanggil-manggil namaku. Sayup-sayup kudengar polisi mengucapkan kata “911”. Tiba-tiba segalanya menjadi sunyi. Yang kudengar hanyalah senyap. Dan kebuntuan.

*) puthul = patah, copot.
**) mendelong = patah semangat dan kecewa

Jonesboro, Juni 2004

Foto dari http://corbis.com

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement