|
A : Aku gemuk ya? Q : Ga ah! Malah bagus begini, seger A : Gemuk ah!! Buktinya celana jeansku sekarang ukuran 31, aku susah banget cari model baju yang cocok aku pakai, aku juga bingung banget kalau mau potong rambut, mikir gimana model yang bisa nutupin pipi tembemku... Q : ????
Pertanyaan semacam ini sering sekali terlontar dari mulut para wanita. Bukan hanya wanita dewasa yang sering khawatir tentang ini, anak kecil usia SD pun sekarang sudah mulai memikirkan proporsi tubuhnya cukup langsing atau tidak. Sehingga keinginan untuk menjadi tidak gemuk itu lebih banyak disebabkan karena faktor penampilan, bukan lagi karena alasan kesehatan. Lho??? kok itu ya alasannya...
Padahal gemuk sebenarnya tidak selalu identik dengan „jelek“. Banyak orang yang tetap kelihatan cantik dan menarik walaupun terlihat gemuk. Lihat saja Dewi Huges atau para kontestan Miss Impian di Indosiar. Mereka semua cantik-cantik, bukan? Masalahnya sekarang adalah percaya diri.
Para wanita pada umumnya menjadi tidak percaya diri ketika merasa dirinya tidak cantik. Di Indonesia misalnya, hanya sekitar 35% wanita yang merasa puas dengan kecantikannya. Biasanya ketidak-pede-an ini disebabkan karena mereka merasa gemuk (merasa gemuk tidak sama dengan memang gemuk lho!!!). Kondisi tidak percaya diri ini terbentuk karena pembentukan image “cantik” di dalam masyarakat, yang biasanya dibentuk untuk keperluan pemasaran suatu produk. Tak heran pandangan seseorang itu disebut cantik atau tidak selalu akan berubah dari masa kemasa.
Kecantikan seorang wanita Eropa pada abad pertengahan biasanya akan dikaitkan dengan masalah fertilitas atau kemampuan reproduksi. Jadi makin subur wanita atau mampu melahirkan banyak anak maka orang memandangnya makin cantik!. Di abad ke-15, seorang perempuan seksi adalah perempuan dengan panggul dan perut besar serta dada yang montok. Pandangan ini bertahan hingga abad ke-17. Pada abad 19, definisi cantik bergeser bukan lagi pada soal kemampuan reproduksi tetapi pada bentuk wajah. Wajah yang bundar dipandang sangat jelita., apalagi ditambah tubuh yang bahenol.
Menjelang abad 20, perempuan dipandang cantik jika ia memiliki pantat dan paha yang besar. Anggapan indah untuk yang "serba besar" ini kemudian rontok oleh kemunculan seorang model Inggris yang kerempeng pada tahun 1965. Twiggy, nama model tersebut. Ia tampil menghebohkan dunia dengan tubuhnya yang luar biasa kurus. Anehnya ia langsung digandrungi. Dengan cepat orang beralih haluan. Pandangan tersebut bertahan sampai saat ini dimana mayoritas masyarakat memandang bahwa wanita yang cantik adalah yang langsing (biasanya ditambah dengan kulit putih, rambut panjang dan lurus).
Maka, saat ini, begitu seorang wanita merasa pakaiannya agak kesempitan, langsung saja kehebohan terjadi: melakukan berbagai macam cara untuk kembali melangsingkan diri, bahkan kadang-kadang mengabaikan kesehatan. Padahal belum tentu kondisinya saat itu bener-bener gemuk lho!!! Jadi, sebetulnya bagaimana sih yang disebut gemuk?
Terdapat model perhitungan yang bisa dipakai untuk mengukur proporsi tubuh kita dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT).
Caranya : IMT = BB : (TB)kuadrat Ket : BB (Berat badan) dalam kilogram, TB (Tinggi Badan) dalam meter.
|
Kategori |
IMT |
|
Kekurangan berat badan tingkat berat |
< 17,0 |
|
Kekurangan berat badan tingkat ringan |
17,0 – 18,4 |
|
Normal |
18,5 – 25,0 |
|
Kelebihan berat badan tingkat ringan |
25,1 – 27,0 |
|
Kelebihan berat badan tingkat berat |
> 27,0 |
Jadi, janganlah kita terlalu cepat khawatir atau panik karena merasa gemuk. Karena pada dasarnya wanita memang mempunyai lemak tubuk yang lebih banyak daripada pria, sehingga kita cenderung lebih cepat gemuk. Namun timbunan lemak tubuh wanita yang biasanya ada di daerah pinggul dan pantat ternyata memiliki resiko sakit yang lebih rendah daripada timbunan lemak di perut pria yang lebih mudah mengalami berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas.
Yang penting kita lakukan adalah menjaga kesehatan, jangan sampai kegemukan (dalam hitungan yang benar bukan hanya “merasa gemuk”) dan juga jangan sampai kekurusan. Karena kegemukan membuat tubuh cepat lelah jika dibawa bekerja keras, debar jantung lebih kencang, serta pernapasan terganggu. Terlalu gemuk juga kadang menjadi pemicu munculnya penyakit kelas berat, seperti diabetes, hipertensi, hiperlipidemia, dan penyakit jantung. Sedangkan jika terlalu kurus akan menyebabkan mudah letih, mudah terkena penyakit infeksi, depresi, anemia, diare dan malnutrisi!. (WT) |