We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Yang Lain arrow Tahun Baru Oh Tahun Baru
Tahun Baru Oh Tahun Baru E-mail
Pengirim: hani iskadarwati   
Selasa, 27 Desember 2005

Selamat Berakhirnya Tahun 2005, Selamat Datang Tahun 2006!

Melewati berbagai pesta tahun baru yang meriah di New York, Maryland, Tokyo, Jakarta dan berbagai kota di berbagai negara di dunia, semoga kedamaian dan kesejahteraan Allah SWT limpahkan kepada kita semua di manapun kita berada di atas bumiNya yang diberkahiNya.

Sejak perubahan trend tahun baru di Jakarta, saya tertarik untuk membagi pengalaman saat tahun baru di negeri orang. Namun sebelum itu, saya ajak Anda semua melihat sejarah sampai diterapkannya 1 Januari setiap tahun Masehi sebagai awal penanggalan/kalender yang kita pakai sekarang ini.

A. Kalender Dunia

Kalender Masehi yang secara meluas dipakai oleh banyak bangsa di dunia sekarang ini juga disebut sebagai Kalender Gregorian. Kalender ini didasarkan pada perputaran matahari. Kalender Gregorian ditetapkan oleh Paus Gregory XIII di tahun 1582 dan merupakan revisi dari Kalender Julian/Julian Calendar. Tujuan revisi kalender pada saat itu,untuk memperbaiki ketepatan hari-hari suci keagamaan (Kristen Katholik) terutama pada Paskah dan Jumat Abu (yang kadang jatuh di hari lain saat itu).

Penanggalan Masehi berawal dari Kalender Julian/Julian Calendar, yang ditetapkan oleh Julius Caesar pada 45 BC, dengan membuat bulan-bulan penanggalan Romawi sebelumnya yang 13 bulan dari 10 bulan saat kalender Romawi, menjadi 12 bulan (tanpa Mercedonius) menjadi seperti bulan-bulan Masehi yang berlaku sekarang, dan setiap tahunnya diawali pada 1 Januari .

Pada abad pertengahan di Eropa, banyak negara yang memberlakukan awal tahun baru berdasarkan momen penting di dalam kehidupan bangsa mereka, antara lain:
1. Tahun baru jatuh pada 25 Desember kalender Masehi, ini berlaku di Jerman dan Inggris hingga abad 13 dan di Spanyol sejak abad 14 hingga abad 16 Masehi.
2. Tahun baru jatuh pada tanggal 25 Maret Masehi, yang berlaku di Kerjaan Inggris Raya sampai tanggal 1 Januari 1752, kecuali Scotland yang telah mengubah tahun baru jatuh pada 1 Januari 1600 Masehi.

Kalender Lunar yang berdasarkan perputaran bulan juga banyak dipakai oleh banyak bangsa di dunia untuk menandai momen penting kultural maupun keagamaan,seperti Kalender Islam/Kalender Hijriyah yang dipakai untuk menandai hari-hari besar Islam, dan bulan-bulan suci Islam.

Berbagai bangsa di seluruh dunia memiliki berbagai cara untuk merayakan akhir dari satu tahun kalender dan memasuki awal dari tahun yang baru. Selain dari kalender masehi yang berdasarkan perputaran matahari (Gregorian) yang digunakan oleh banyak negara sebagai kalender utama, masih banyak perkalenderan yang bersifat relijius atau kultural, maupun kalender yang bersifat lokal. Untuk jenis kalender kalender lunar (berdasarkan perputaran bulan), banyak kita temukan contohnya di berbagai negara.

Beberapa contoh tahun baru yang dirayakan oleh banyak bangsa dan negara:
1. Tanggal 1 Januari, hari pertama dari penanggalan Masehi (Gregorian) yang banyak digunakan di berbagai negara maju.
2. Tahun Baru Islam, jatuh pada 1 Muharram, karena kalender Islam berdasarkan kalender lunar, maka setiap tahunnya pada kalender Masehi akan bergeser jatuhnya. Tahun 2008, akan terdapat 2 tahun Baru Islam.
3. Tahun Baru Cina, yang jatuh tepat saat bulan baru setiap musim dingin/salju, yang bertepatan antara 21 Januari- 21 Februari pada kalender Masehi setiap tahunnya. Kalender Cina tergantung pada perhitungan astronomis, yang membagi tiap tahun dengan simbol dari 12 karakter hewan dan satu dari 5 elemen bumi. Kombinasi dari hewan dan elemen bumi tersebut mempunyai siklus yang akan bertemu kembali setiap 60 tahun. Perayaan tahun baru dimeriahkan dengan petasan dan kadangkala dengan karnaval/parade.
4. Tahun Baru Vietnam, atau Tet Nguyen Dan, jatuh tepat pada Tahun Baru China, dan perayaannya serupa.
5. Tahun Baru Tibet, Losar, yang jatuh antara bulan Januari hingga bulan Maret.
6. Tahun Baru Baha’i, Naw-Ruz, yang bertepatan pada tanggal 21 Maret.
7. Tahun Baru Telugu, jatuh antara bulan Maret atau April dirayakan oleh masyarakat Andhra Pradesh India.
8. Tahun Baru Thai, dirayakan antara 13 April hingga 15 April, dengan saling menyiramkan air satu sama lain.
9. Tahun Baru Kamboja, dirayakan tepat sama dengan perayaan Tahun Baru Thai.
10. Tahun Baru Bengali, Poila Baisakh, dirayakan pada 14 April atau 15 April, baik di Bangladesh maupun di Bengal Barat India.
11. Tahun Baru Ethiopian, Enkutatash, jatuh pada 11 September.
12. Tahun Baru Hindu,dirayakan biasanya 2 hari setelah Festiwal Diwali (pertengahan November)
13. Tahun Baru Iran, Norouz, bertepatan pada bulan baru penanda awal Musim Semi.

B. Perayaan Dan Tradisi Tahun Baru Berbagai Bangsa

Di banyak negara, 1 Januari merupakan Hari Libur Nasional, namun ada negara-negara yang tidak memberlakukan 1 Januari sebagai libur nasional, antara lain Israel, dengan alasan bahwa 1 Januari berlatar belakang sejarah agama Kristen Katholik yang bukan merupakan agama nasional Israel.

Perayaan 1 Januari yang pada asal mulanya merupakan kelanjutan dari perayaan keagamaan setelah Natal 25 Desember, akhirnya lama-kelamaan menjadi perayaan yang bersifat sekular. Di banyak negara, perayaan tutup tahun dan buka tahun ini dimeriahkan secara besar-besaran dengan berbagai festival, seperti Pesta Kembang Api, yang merupakan pesta mega kembang api. Beberapa kota besar di dunia seperti New York, London, Rio de Janerio, Sydney, Tokyo dan banyak kota-kota di dunia lainnya merayakan pergantian tahun ini dengan pesta yang meriah. Ada pula orkestra kelas dunia, maupun panggung televisi dengan penyanyi kelas dunia dan berbagai hiburan lainnya.

Di samping pesta kembang api, ada berbagai perayaan lain yang unik yang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Sebut saja, Rose Parade di Pasadena setiap tanggal 1 Januari, diikuti oleh Rose Bowl atau turnamen American Football. Kemudian perayaan tahun baru di New York, tepatnya di Times Square yang sudah menjadi tujuan wisata bagi banyak bangsa untuk melewatkan pergantian tahun di sana.

Bila perayaan gegap gempita banyak dilakukan di negara Barat, perayaan tahun baru dengan mendatangi tempat ibadah banyak di lakukan oleh negara-negara Timur/Asia, seperti dilakukan oleh para penganut Budha, Hindu, Kong Hu Cu maupun penganut agama lain. Di negara-negara seperti China, Korea, Jepang, perayaan tahun baru seringkali merupakan perpaduan antara Barat dan Timur.

Pesta Tahun Baru di New York, selama 100 tahun belakangan ini diawali dengan menjatuhkan bola dari salah satu puncak Times Square. Bola Kristal Waterford yang berdiameter 6 kaki dan beratnya sekitar 1070 pounds tersebut mulai dijatuhkan saat waktu menunjukkan pukul 23:59:00 dan akan sampai tepat di dasar Tower saat pergantian tahun 00:00:00. Berbagai kota di Amerika mengikuti cara peluncuran bila seperti New York beserta variasi berbagai festival dan berbagai bentuk perayaan lokal lainnya.

Di kota Madrid Spanyol, masyarakat berkumpul di La Puerta del Sol, berpesta menanti saat pergantian tahun. Masyarakat Spanyol yang menonton siaran langsung dari berbagai hiburan TV di rumah, menanti saat count-down dengan 12 butir anggur hijau setiap orangnya yang akan dimakan setiap berlalunya detik-detik menuju tahun baru.

Menarik sekali untuk mengetahui bahwa banyak di antara tradisi perayaan Tahun Baru turun temurun di berbagai negara diliputi oleh berbagi kepercayaan dan berbagai tabu yang bila tidak dituruti, dipercayai akan membawa peruntungan yang tidak baik sepanjang tahun. Seperti tradisi di Welsh, yang mentabukan meminjam apapun saat awal tahun baru, karena dipercayai orang yang melakukannya akan terus berhutang dan kekurangan sepanjang tahunnya. Juga diharuskan melunasi hutang sebelum tahun berakhir karena dipercayai sama dengan alasan larangan meminjam.

Kepercayaan harus bangun pagi-pagi sekali dan membersihkan rumah sebelum tahun baru juga terdapat di berbagai negara yang dipercayai akan membawa rezeki dan peruntungan yang baik sepanjang tahun.

Di Jepang, Korea dan China, banyak orang yang datang ke kuil di samping untuk berdoa, juga untuk mengetahui ramalan nasib dan peruntungan di tahun baru, juga untuk membeli jimat peruntungan baik untuk berdagang,untuk keselamatan keluarga, keselamatan kendaraan dan untuk mencari peruntungan jodoh.

C. Bertahun Baru Di Negara Lain

Bertahun baru di negara lain selain di tanah air, memberikan berbagai pengalaman unik. Salah satu pengalaman bertahun baru saya alami sewaktu mendapat kesempatan homestay di rumah keluarga Jepang di Nagano (Lokasi Olimpiade Musim Dingin). Pertama kalinya saya merasakan tinggal langsung di tengah keluarga Jepang, sementara salju menumpuk di sekitar rumah antara ˝ sampai 1 meter Kebetulan keluarga homestay tidak mempunyai anak perempuan, sehingga saya sangat dimanjakan oleh mereka. Saya dilimpahi berbagai pengenalan budaya dan tradisi Jepang, dari kunjungan ke Jinja (kuil Shinto) tepat saat pergantian tahun baru, kunjungan ke O-tera (kuil Budha), New Year Shopping (ini big bargain di Jepang), hingga makanan khas Tahun Baru dan Ski.

Dalam keseharian keluarga homestay, yang merupakan perwakilan keluarga Jepang menengah ke atas dengan dua anak laki-laki, ayah adalah pusat dari keluarga. Ayah bekerja dalam kesehariannya, dan ibu merupakan full time ibu rumah tangga. Mereka menikmati tahun baru sebagai salah satu kesempatan langka berkumpul bersama keluarga. Biasanya mereka melepas waktu tahun baru di rumah orang tua ayah atau orang tua ibu, dan melakukan tradisi ritual dari daerah asal masing-masing yang bukan berasal dari Nagano.

Selama malam tahun baru (Omisoka) dihabiskan dengan berbagai permainan keluarga, seperti Uno, kartu Jepang, Chess Jepang (Go dan Shogi), menonton acara TV NHK, yaitu kompetisi lagu Merah Putih ( Kouhaku Utagassen). Acara TV ini bersifat nasional dan masing-masing kubu menampilkan penyanyi paling terkenal tahun itu. Penyanyi perempuan untuk kubu Merah dan penyanyi laki-laki untuk kubu Putih, dan pemirsa akan memilih kubu dari penyanyi yang mereka sukai. Pada malam tahun baru ini, dihidangkan toshikoshi soba /toshikoshi udon yaitu mi soba/mi udon rebus panas dalam kuah katsuo-shoyu dengan tempura udang dan nori di atasnya.

Beberapa saat sebelum tengah malam kami mengunjungi Jinja, ikut antri dengan ratusan penduduk di sekitarnya, ikut mendapat mandarin orange (mikan) dan satu sip minuman seperti brem Bali yang ternyata belakangan saya ketahui adalah adalah sake manis, sekaligus blessing dari pendeta Shinto.

Jangan kaget bila yang datang benar-benar percaya bahwa blessing dari pendeta Shinto akan memberikan peruntungan baik sepanjang tahun, padahal mereka juga merayakan Natal, dan masih memajang pohon Natal dan hiasan Natal di rumah dan pekarangan mereka. Mereka juga keesokan harinya akan berkunjung ke kuil Budha untuk berdoa, membeli jimat keselamatan dan peruntungan/nasib baik, dan diikuti dengan New Year Sale Shopping. Kenyataannya, dari hasil sensus mengenai agama, jawaban penduduk Jepang sangat bervariasi dari tidak percaya Tuhan, tidak mempunyai agama, hingga ada yang mengaku beragama lebih dari satu, dua atau tiga tanpa mempraktekkan ajaran agama-agama tersebut.

Paginya saya dihidangkan makanan Tahun Baru ( Osechi Ryori), mendapat Otoshidama (amplop angpao berisi uang saku tahun baru), membaca Nengajo (Kartu Tahun Baru ala Jepang) sambil menunggu pengumuman pemenang lotre Nengajo, Ski atau menonton marathon Tahun Baru dan berkunjung ke rumah orang tua ataupun keluarga, berfoto dengan pakaian kimono karena kebetulan ibu home-stay belajar menari klasik Jepang.

Khusus mengenai Osechi Ryori, adalah makanan khusus yang hanya dihidangkan saat Tahun Baru. Makanan ini berbeda dengan masakan Jepang sehari-hari yang cita rasanya mild, mempunyai variasi rasa antara manis dan asin yang dalam, yang cocok untuk lidah saya yang terbiasa dengan kecap Indonesia yang manis.

Osechi Ryori ini terdiri dari sup miso dengan mochi, dan sup zoni (o-zoni) yaitu sup sayur bening dengan kuah kombu(seaweed), kobumaki (semur ikan tuna dibalut kombu), kastella kamaboko (ini campuran kuning telur dengan fish paste yang dipanggang menjadi bolu kastella yang manis lembut dan gurih), lalu kamaboko (fish cake, rasanya persis seperti otak-otak atau mpek-mpek kukus), kuromame(kacang hitam balut saus kecap), kurikinton (mashed ubi manis dengan manisan chestnut), juga aneka pickle/acar/ manisan.

Osechi Ryori, yang mulanya berakar dari tradisi Jepang yang mentabukan memasak saat tahun baru untuk memberikan kesempatan kepada para wanita untuk merayakan tahun baru, sehingga para ibu membuat masakan khusus yang akan awet berhari-hari. Belakangan paket Osechi Ryori dijual di berbagai supermarket dan Department Store, dan bahkan dapat diperoleh melalui on-line shopping. Di samping Osechi Ryori, dihidangkan pula Sushi, Sashimi dan aneka hidangan lain seperti Chiken Karaage, Gyoza, Harumaki, hingga ke Pizza.

Satu event nasional di Jepang pada saat tahun baru, selain New Year Shopping, New Year Marathon dan aneka hiburan TV adalah Lotre Nasional atau Jumbo Takarakuji yang berhadiah ratusan juta yen. Mereka yang antri untuk membeli tiket lotre ini bisa menandingi panjangnya antrian masuk ke toko Akihabara untuk penjualan video game atau software game terbaru,atau antrian fans membeli tiket masuk untuk penampilan penyanyi pujaan mereka.

Bertahun baru di Jepang yang paling meninggalkan kesan adalah saat mengunjungi pasar malam Jinja sampai datangnya tahun baru dan diteruskan dengan mengunjungi Otera. Saat-saat inilah saya dapat melihat sisi manusiawi dari masyarakat workaholic Jepang yang memulai dan mengakhiri tahun baru dengan doa dan harapan untuk kehidupan yang aman, tenang dan lebih baik di tahun mendatang.

Banyak pula orang Jepang yang menghabiskan akhir dan awal tahun baru dengan napak tilas berjalan kaki mendaki gunung menziarahi kuil hingga mencapai puncak gunung saat matahari terbit, atau berjalan kaki mendatangi kuil-kuil di pelosok Jepang, atau meditasi Zen dengan mandi di air terjun selama pergantian tahun (musim salju), atau mandi di air laut menunggu saat pergantian tahun dan menunggu matahari terbit.

D. Di Balik Perayaan Tahun Baru

Bertahun baru di negara-negara lain ada perbedaan dan persamaannya. Kadangkala, di tengah gegap gempitanya perayaan tahun baru, seperti di Times Square New York, atau pesta kembang api di berbagai kota dunia, di tengah riuh rendahnya orkestra, atau suara merdu para penyanyi yang mengisi panggung hiburan, setiap orang menginginkan datangnya hari esok yang lebih baik, yang lebih berkesan dan ingin mengakhiri hari-hari yang melelahkan, mengecewakan atau pengalaman buruk dan pahit yang telah dilalui di tahun yang ditinggalkan.

Apakah perayaan Tahun Baru serba gegap gempita dan penuh pesta ala Amerika, ala Eropa, ala Amerika Latin dengan karnaval dan Samba, atau ala China, Korea dan Jepang dengan mengunjungi rumah ibadah dan bermeditasi serta memasang jimat, atau hanya ingin menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah menonton TV atau ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berdzikir, beri’tikaf di mesjid bersama keluarga, pilihannya semua terserah kepada Anda semua.

Di Jakarta, Sydney, Tokyo, New York , di manapun, segala pesta keriaan Tahun Baru, maupun hiburan, maupun segala jenis masakan dan makanan tersedia, juga semua tempat ibadah, mesjid, gereja, kuil, terbuka menanti kedatangan siapapun yang hendak melewatkan malam Tahun Baru. Jangan lupa mari bebersih diri, hati, pikiran, perasaan dan rumah, tempat tinggal, tempat kerja, dan sekitar kita selalu agar kita siap meninggalkan tahun 2005 dan memasuki tahun 2006 dengan semangat dan harapan serta doa selalu.

Juga jangan lupa akan penderitaan sesama, berapa banyak yang masih harus berjuang untuk hidup, berjuang dari kemiskinan, dari kelaparan, dari hutang, dari penyakit, dari penindasan, dari kebodohan, dari kesendirian, dari penjajahan, dari segala penyakit dan kekurangan di dunia ini, dari ketidakpedulian akan sekitar dari diri kita ini.

Jangan lupakan pula alam sekitar, hutan, laut dan kekayaan alam di dunia ini dari kerakusan dan ketidakpedulian diri kita. Jangan lupakan para perempuan dan anak-anak, dari penindasan, kekerasan dan ketidakpedulian diri kita. Mari kita melembutkan perasaan menebalkan simpati kepada yang miskin dan papa, kepada yang lemah dan terhina, setidaknya tak melupakan mereka di saat gegap gempitanya pesta dunia, pesta Tahun Baru.

**

Selamat mengisi hari-hari mendatang dengan harapan, doa, karya dan manfaat.
Selamat mengisi berkurangnya detik-detik kehidupan kita di dunia dengan amalan dan kebaikan serta kebenaran yang haqiqi.
Selamat menebarkan senyum dan kedamaian serta ilmu dan kebahagiaan kepada sekitar kita.
Selamat mengisi pelita-pelita kecil dengan segala persiapan untuk menjadikan mereka pelita-pelita penerang yang tak putus dan mandiri.
Selamat membagi tulusnya cinta kepada kaum papa dan terhina, dan mempertebal rasa kemanusiaan diri.
Selamat menikmati kehidupan dan tak melupakan kematian.

Selamat Tahun Baru sahabat...

Apakah itu Kalender Lunar atau Kalender Solar, jadikanlah semangat tahun baru mengisi hari-hari kita agar kita tak terlena dan kecewa, agar selalu ingat dan taat kepadaNya...

Louisville, 2005-2006
Hani Iskadarwati

Dari berbagai sumber

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement