|
Mengajarkan Anak tentang Kepahlawanan dan Keberanian lewat THE CHRONICLES OF NARNIA |
|
|
Selasa, 27 Desember 2005 |
Selama ini film-film anak-anak kebanyakan disangkut-pautkan dengan bajak laut dan harta karun (Peter Pan, The Goonies) atau yang berbau kerajaan semacam Cinderella, Snow White dll. Film yang satu ini unik karena menggambarkan sesuatu yang mustahil dan mungkin cuma ada di imajinasi anak-anak, nyata di dunia NARNIA. Dan juga menggambarkan bahwa anak-anak pun bisa jadi pahlawan dan penyelamat dunia dari kehancuran.
The Chronicles of Narnia adalah judul buku karangan C.S. Lewis yang dilatarbelakangi perang dunia kedua. Hampir sama dengan latar belakang Trilogi The Lord of the Rings, tapi kalibernya untuk anak-anak. Cerita diawali dengan kesedihan keluarga Pevensie di tahun 1940-an di kota London. Untuk menyelamatkan keempat anaknya, Peter, Susan, Edmund dan Lucy, sang ibu harus mengirim mereka ke daerah pedesaan. Di sana mereka tinggal dengan seorang professor yang eksentrik dan pembantunya yang bawel. Siapa yang menyangka dari permainan "hide and seek" atau petak umpet, si kecil Lucy menemukan dunia yang berbeda di dalam sebuah lemari pakaian.
Dari situlah cerita kepahlawanan keempat anak tadi mulai. Berasal dari sebuah wahyu yang menyatakan 2 keturunan Adam dan 2 keturunan Hawa yang bisa menyelamatkan Narnia dari cengkeraman The Witch. Imajinasi anak-anak akan berkembang mengagumi keindahan alam Narnia dan mahluk-mahluknya, sebagian adalah mahluk ajaib yang ada dalam dongeng dan binatang-binatang yang bisa bicara. Dan seperti biasa, pasti ada satu sosok tokoh yang dianggap lemah dalam sebuah cerita. Edmund harus belajar mengenai kesetiaan dan kepahlawanan dengan jalan yang berbeda dengan saudara-saudaranya. Dari Narnia, perasaan kita akan diajak untuk larut pada kenyataan bahwa, anak-anak adalah pahlawan di masa datang. Dan tugas kita sebagai orang tua untuk memberikan contoh, kali ini dengan menonton The Chronicles of Narnia. |