Selama ini mendengar kata crème brulée hanya di film-film atau novel. Crème brulée identik dengan seni kuliner tingkat tinggi karena biasanya dihidangkan di restoran-restoran mahal. Kayak apa sih crème brulée ?
Dan rasa penasaran saya terjawab ketika mengunjungi Bakerzin. Di daftar menu tercantum nama crème brulée beserta gambarnya yang menggoda. Tanpa ragu-ragu saya pesan Pistachio Crème Brulée. Pilihan yang satunya lagi adalah Vanilla Crème Brulée. Tapi karena konon vanila memang rasa asli dari crème brulée klasik, jadi kepingin mencoba yang lain. Setelah dicoba. Hmm, delicioso alias uenaak tenan. Barangkali. Soalnya ini crème brulée yang pertama kali saya cicipi.
Iseng-iseng, saya cari resepnya. Siapa sangka kalau ternyata dessert nan lezat ini berbahan dasar custard biasa, cuma terbuat dari kuning telur, krim, gula, dan ekstrak vanila. Kok bisa jadi ngetop ya? Mungkin yang paling susah adalah membakar gula di atas custard – persis sebelum dihidangkan – sehingga membuat permukaan crème brulée menjadi keras. Sesuai namanya yaitu crème brulée atau burnt cream atawa krim bakar. Katanya, hidangan crème brulée dianggap gagal kalau bagian atasnya lembek.
Para ahli sejarah makanan berpendapat custard sendiri sudah ada sejak Abad Pertengahan. Tapi saat itu custard lebih sering digunakan sebagai pengisi pai, tart, atau pastri. Sedangkan crème brulée sendiri dikabarkan berasal dari Inggris, biarpun masih tetap menjadi perdebatan di dunia kuliner. Trinity College di Cambridge, mengklaim sebagai penemu hidangan custard lembut dengan topping gula karamel ini pada tahun 1600-an. Namun karena jaman dulu belum ada peralatan memasak belum memakai obor las, maka untuk mengeraskan permukaan crème brulée digunakan besi khusus yang memiliki permukaan panas untuk membakar gula di atas custard tersebut.
Bukan cuma Inggris yang mengaku menjadi penemu crème brulée. Spanyol pun menyatakan memiliki hidangan serupa yang telah ditemukan pada abad 18. Namun, baru pada abad 19, kata crème brulée yang berasal dari bahasa Perancis menjadi populer, sehingga banyak orang percaya bahwa hidangan tersebut juga berasal dari Perancis. Bukan itu saja, hidangan crème brulée dianggap seni kuliner tingkat tinggi, yang hanya dibuat oleh koki-koki handal, dihidangkan di restoran-restoran tertentu, dan dengan harga yang mahal pula. Siapapun penemu makanan ini, dia patut bahagia di alam sana karena karyanya dinikmati begitu banyak orang. Seandainya kebagian jatah royalti, keturunannya pasti sudah kaya-raya. Bayangkan, saya harus merogoh kocek Rp32.500 hanya untuk menikmati seporsi crème brulée, yang isinya sudah tentu lebih sedikit daripada seporsi bubur sumsum di warung. |