|
Sebagai bangsa yang terlahir di sebelah Timur dunia, bangsa Indonesia sudah sangat lama menyandang gelar sebagai salah satu bangsa yang menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat terutama sopan santun dalam segala sisi kehidupan.
Untuk mempertahankan kondisi tersebut, selain mendapatkan pelajaran agama, para siswa di sekolah juga mendapat pelajaran PPKN (dulu PMP). Bahkan di beberapa sekolah seperti Perguruan Taman Siswa masih diajarkan mata pelajaran Budi Pekerti. Tak terbatas pada lembaga-lembaga yang sifatnya formal, makin banyak pula lembaga informal yang menawarkan paket pendidikan atau penyuluhan untuk membentuk mental yang berbudaya. Namun sepertinya pelajaran-pelajaran tersebut belum cukup kokoh menyangga budi pekerti dan iman anak-anak bangsa kita.
Mari kita ikuti berita di televisi, radio, maupun media cetak. Hampir tiap hari terpampang berita tindak kriminalitas, penggunaan obat-obat terlarang serta seks di luar nikah yang dilakukan oleh para remaja (bahkan anak kecil).
Dulu, mungkin kita masih "terkaget-kaget" dan "terbengong-bengong" melihat bagaimana pergeseran gaya hubungan remaja kita di "Tragedi Bandung Lautan Asmara". Namun kini saat kita sering terpapar berita hubungan seks pranikah, pesta narkoba di sana-disini, pemerkosaan oleh remaja, munculnya video eksibisionis siswi-siswi SMA dan berita sejenis lainnya, maka lama kelamaan rasanya telinga menjadi "biasa" atas masuknya informasi semacam itu. Jantung pun hanya sempat berdegup kencang beberapa kali, dan secara tak sadar beberapa dari kita menganggap hal tersebut bukanlah satu keanehan yang ditemukan di zaman yang katanya serba modern ini. Tapi, bagi siapapun yang masih menjunjung tinggi nilai moral dan budi pekerti, tentu rasa prihatin dan miris akan muncul saat melihat "trend" yang semakin merusak generasi muda di bumi pertiwi.
Pergeseran pola perilaku seperti ini tidak hanya menghinggapi kota-kota besar saja. Terbukti dari kasus pasangan remaja yang ketahuan bermesraan di tempat wisata di Lombok atau yang baru saja terjadi di Cianjur. Cianjur yang terkenal sebagai kota kecil yang tenang dan bahkan selama ini memberlakukan syariat agama dalam pengaturan kotanya, digemparkan oleh berita tentang pesta seks di sebuah SMA Negeri di wilayah tersebut. Tak cukup hanya melibatkan siswa-siswi SMAN, guru guru yang semestinya "menjadi teladan" pun juga meramaikan pesta tak bermoral ini.
Keprihatinan semakin dalam ketika kita melihat angka-angka hasil penelitian yang menyebutkan bahwa sekitar 20 hingga 30 persen remaja di kota-kota besar di Indonesia mengaku pernah melakukan hubungan seks.
Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hubungan seksual pranikah, survei MCR-PKBI Jabar membagi dalam 8 faktor. Berdasar jawaban yang masuk, faktor sulit mengendalikan dorongan seksual menduduki peringkat tertinggi, yakni 63,68 persen. Selanjutnya, faktor kurang taat menjalankan agama (55,79 persen), rangsangan seksual (52,63 persen), sering nonton blue film (49,47 persen), dan tak ada bimbingan orangtua (9,47 persen). Tiga faktor terakhir yang turut menyumbang hubungan seksual pranikah adalah pengaruh tren (24,74 persen), tekanan dari lingkungan (18,42 persen), dan masalah ekonomi (12,11)
Astagfirullah….Mengapa jadi begini anak bangsaku? Mengapa nilai dan norma bergeser dengan begitu cepatnya? Apakah harus demikian dampak dari perkembangan zaman?
Mungkin pergeseran semacam ini adalah hal yang wajar dalam era globalisasi dan di zaman yang serba canggih seperti ini. Lihat saja bagaimana seringnya kita menemukan tayangan liputan khusus kriminalitas di tv, yang bukannya membuat orang takut dihukum tapi malah mengilhami untuk melakukan kriminalitas sejenis. Lalu tengoklah betapa para penjual VCD, majalah ataupun tabloid porno, toko minuman keras ataupun bandar narkoba tidak pernah pilih-pilih dalam mencari mangsa pembeli. Atau bagaimana internet memberikan tawaran informasi tanpa batas bagi semua orang. Belum lagi fasilitas game bagi anak yang ternyata banyak yang kemudian masuk dalam daftar hitam karena mempengaruhi psikologis anak untuk melakukan kekerasan. Game permainan seperti Doom 3, Mortal Combat : Deception, Manhunt, Shadow Heart, Grand Theft Auto: San Andreas, dll ternyata akrab dikonsumsi di kalangan anak anak.
Dari semua peristiwa itu, satu catatan penting yang saya petik: beban sebagai orang tua di masa ini memang semakin berat!. Sekolah dan lingkungan hanyalah guru pelengkap, yang bila "salah-salah gaul" justru membawa ke arah negatif . Bahkan guru, sosok yang harusnya "digugu dan ditiru" atau anggota keluarga sendiri saja saat ini sudah sering kita dengar menjadi pelaku tindak kriminal terhadap anak.
Tak dapat disanggah lagi, guru utama buah hati kita adalah kita, para orang tua. Tugas mendidik anak, membentuknya menjadi manusia yang baik di tengah lingkungan yang semakin tidak karuan, sepenuhnya ada di pundak kita. Orang tua yang bertanggung jawab tidak akan ingin membawa anak anaknya ke arah yang tidak baik. Maka, marilah kita bersama-sama semakin memberikan perhatian semaksimal mungkin serta mengeratkan komunikasi dengan anak-anak kita. Marilah kita bekali mereka dengan ilmu agama dan budi pekerti yang baik agar keimanan mereka dapat terasah dan terbentuk. Marilah kita memberikan contoh yang baik dalam keseharian perilaku kita. Semoga dengan dilakukannya beberapa upaya di atas, akan tercipta potret anak bangsa yang sesuai dengan citra bangsa kita yang berbudaya tinggi. Semoga contoh-contoh minoritas yang telah diceritakan di atas tidak akan berkembang menjadi potret anak bangsa ini. Amin. (WT)
Dirangkum dari berbagai sumber oleh Wiwit Wijayanti
(sumber foto : www.corbis.com) |