We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2009 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Rumah Tangga arrow Mudik, Masihkah Dibutuhkan?
Mudik, Masihkah Dibutuhkan? E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Senin, 28 November 2005

Seorang mommy di milist WRM, baru saja membaca sebuah artikel yang menceritakan bagaimana hebohnya aktifitas mudik ini di lakukan setiap tahun, mulai dari bermacet - macetan di jalan atau berdesak - desakan di kereta api, dan yang lagi tren saat ini yaitu mudik menggunakan sepeda motor sambil membonceng anak kecil. Beliau berpikir dan menanyakan "Apakah kegiatan mudik ini termasuk tindakan pemaksaan terhadap anak-anak? Mom apakah tradisi mudik ini masih di butuhkan?"

Tanggapan pertama datang dari mom yang saat ini sedang bermukim di negeri sakura, demikian tanggapannya, "Memang bila melihat kerepotan saat mudik, bisa jadi mudik merupakan suatu hal yang sangat menyulitkan terutama bagi anak-anak, Namun satu hal yang mungkin tetap ingin dipertahankan oleh para orang tua kita adalah bahwa supaya kita para anak-anaknya/generasi muda berikutnya jangan sampai kehilangan jejak dalam hal ikatan kekeluargaan. Saat mudik biasanya saat berkumpulnya seluruh keluarga, kita bisa mengenal nenek, adik kakaknya nenek, bibi, uwa, tante, sepupu, keponakan dari yang terdekat hingga ujung yang terjauh. Kapan lagi kita bisa mengenal/bertemu saudara/kerabat sebanyak itu bila bukan saat mudik?

Dulu waktu kecil saya juga kadang suka heran, kenapa tiap lebaran pasti ke rumah buyut saya di Bandung. Ternyata setelah buyut saya tidak ada baru terasa, saudara dari ibu saya kesulitan mencari tempat berkumpul karena tidak ada lagi yang dituakan, masing-masing menjadi sulit bertemu karena seolah terpisah dengan rumpun keluarganya masing-masing.

Saat ini setelah menjadi orang tua, saya merasakan bahwa memang penting mengenalkan anak tentang keluarga kita, bahwa kita memiliki kerabat yang tidak hanya sebatas, nenek, kakek, eyang putri, eyang kakung, tante dan bu de saja,(keluarga inti saudara ayah ibunya aja). Ikatan kekeluargaan ini jangan sampai putus, dan inilah memang yang membedakan antara kultur masyarakat kita dengan kultur masyarakat lain (mis eropa/US atau jepang)."

"Sudah 2 lebaran saya dan keluarga tidak mudik, saya kangen dengan suasana macet, berhenti untuk istirahat di kota - kota tertentu dan juga ketemu dengan keluarga di desa, kegiatan ini yang buat saya selalu kangen dengan tradisi mudik. Belum lagi dengan segala jenis makanan daerah yang membuat saya selalu kangen dengan kampung halaman.

Masih menurut beliau, "Kalau buat anak-anak yang mudik dengan fasilitas umum memang rasanya tidak nyaman, tapi kalau yang mudik naik mobil pribadi, pengalamanku dan pengalaman anakku malah enjoy dan seneng - senang saja. Intinya sih, segala apapun yang tampaknya buruk kalau diambil positifnya dan disikapi dengan baik, semuanya tetap bisa jadi positif." Ujranya menutup sharingnya kali ini.

"Saya pernah berpikiran kalau kegiatan mudik ini adalah tindakan pemaksaan terhadap anak kecil, saya takut mudik merupakan ambisi kita orang dewasa dan anak-anak belum mengerti. Apalagi setelah melihat teman - teman saya yang mudik menggunakan motor sampai kekampung halaman, mungkin yang seperti ini kali ya termasuk memaksakan diri. Jadi tersentuh juga melihat mereka yang mudik dengan motor. Tapi kalau mudik kita cukup safe, artinya dari sisi transportasinya cukup bagus, terus tidak memaksakan jalan terus, kalau capek berhenti, saya rasa ini cukup nyaman dan saya sekeluarga juga seperti ini. Belum lagi pengalaman yang anak-anak saya dapat petik setiap tahunnya dari tradisi mudik ini." Cerita seorang mom yang senang mengajak anak - anaknya mudik dan memper erat tali silaturahmi dengan keluarga besarnya, sekaligus menutup diskusi mengenai mudik kali ini. (WRM/SA)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement