Di era global seperti saat ini, menguasai paling tidak satu bahasa asing menjadi sebuah kebutuhan. Bagaimana tidak, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat sebagian besar bersumber dari negara-negara asing. Ditambah lagi semakin eratnya hubungan internasional di berbagai bidang, membuat kebutuhan ini semakin terasa mendesak. Mempelajari bahasa asing selain menguntungkan dalam berbagai kegiatan (pergaulan internasional, bisnis, sekolah), ternyata juga baik untuk kondisi fisik dan kemampuan kerja otak kita.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok ahli neurosains di Eropa, ditemukan bahwa proses mempelajari bahasa asing mengubah anatomi otak. "Grey area", yaitu bagian otak yang mengolah informasi, dalam proses ini berkembang seperti layaknya pembentukan otot dalam sebuah latihan badan. Dengan kata lain, otak diajak "berolahraga" dengan belajar bahasa asing.
Para ilmuwan sebelumnya memang telah mengetahui bahwa otak memiliki kemampuan mengubah strukturnya sebagai hasil stimulasi (hal ini dikenal sebagai plastisitas atau kelenturan otak). Tetapi penelitian ini menunjukkan bagaimana belajar bahasa asing memperkuatnya. Pemindaian otak menunjukkan bahwa pada mereka yang menguasai lebih dari satu bahasa (bilingual atau multilingual), sel-sel kelabu tadi lebih banyak dan lebih padat dibandingkan mereka yang hanya menguasai satu bahasa saja, terlebih pada mereka yang sudah bilingual sejak kecil.
Hubungan antara belajar bahasa asing dengan perkembangan otak merupakan salah satu topik yang banyak diteliti para ahli neurosains. Kesimpulan dari berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukkan berbagai pengaruh mempelajari bahasa asing dan keuntungannya bagi perkembangan otak :
- Anak-anak yang mengikuti program bahasa asing cenderung menunjukkan perkembangan yang lebih pesat dalam proses kognitif, kreativitas, dan divergent thinking dibandingkan anak-anak yang monolingual. -Beberapa studi juga menunjukkan bahwa mereka yang menguasai lebih dari satu bahasa memiliki skor lebih baik dalam tes kemampuan verbal dan nonverbal. - Sebuah riset di Kanada mengungkapkan bahwa mereka yang bilingual mengalami penurunan kemampuan mental yang lebih lambat seiring bertambahnya usia. - Studi di Canada, India dan Hong Kong menyatakan bahwa penutur bilingual lebih mampu menghadapi gangguan perhatian (distraction).
Banyak yang mengatakan bahwa "mempelajari bahasa asing menghabiskan kapasitas memori yang diperlukan untuk fungsi otak yang lebih penting", "hanya mereka yang berbakat saja yang dapat belajar bahasa asing, karena hal itu sangat sulit", atau "orang tua sudah tidak mungkin mempelajari bahasa baru". Berbagai kepercayaan seperti ini menyebabkan keengganan di kalangan orang dewasa untuk mempelajari bahasa asing.
Memang benar banyak ahli yang berpendapat anak-anak lebih mudah belajar bahasa asing, sebab sebelum masa pubertas, daya pikir (otak) anak lebih lentur, dan karenanya ia lebih mudah belajar bahasa. Sebuah riset dengan teknologi brain imaging di UCLA melaporkan bahwa area pada otak yang mengatur kemampuan berbahasa terlihat menunjukkan perkembangan paling pesat pada periode antara usia 6 dan 13 (critical periods), dan bukan pada 3 tahun pertama seperti banyak dipublikasikan. Jadi menurut mereka, secara biologis waktu yang paling tepat untuk mempelajari bahasa asing adalah pada usia SD dan SMP (elementary and middle school)
Meskipun begitu bukan berarti orang dewasa tidak mampu menguasai bahasa kedua (bahasa asing). Orang dewasa dengan inteligensia rata-rata pun mampu mempelajari bahasa kedua setelah usia 20 tahun. Bahkan ada yang mampu belajar berkomunikasi bahasa asing pada usia 40 tahun.
John T. Bauer, penulis buku "The Myth of the First Three Years" mengatakan, "Salah satu kerugian dari konsep critical periods' adalah hal itu membuat kita terlalu menekankan akan 'kapan seharusnya belajar' dan tidak memperhatikan 'cara belajar yang mana yang lebih efektif'". Ia mengemukakan alasan bahwa ada berbagai cara dan proses dalam mempelajari bahasa asing, dan terdapat perbedaan antara otak anak-anak dan orang dewasa dalam mengolahnya. Misalnya, pemahaman tenses dipengaruhi oleh usia, sementara pemahaman sintaksis, grammar dan vocabulary tidak dipengaruhi usia. Menurutnya lagi, usia "Hanyalah satu faktor penentu dalam proses penguasaan bahasa asing. Kita tidak bisa mengesampingkan faktor lain, termasuk apa yang ditunjukkan oleh ilmu neurosains mengenai cara terbaik untuk mengajar dan mempelajari bahasa asing".
Peneliti di Cornell University memperlihatkan dalam studi brain imaging yang mereka lakukan, bahwa kesulitan belajar bahasa asing pada orang dewasa bukanlah pada pemahaman kata-kata asingnya, tetapi pada kemampuan motorik dari mulut dan lidah yang bersangkutan. Hal ini menjelaskan mengapa mereka yang belajar bahasa asing seringkali dapat mengerti apa yang ditanyakan dalam bahasa asing tersebut, tetapi tidak selalu dapat memberikan respon yang cepat. Karenanya, bagi orang dewasa, teknik yang menekankan pada pengucapan akan lebih berhasil daripada metode yang lebih memfokuskan pada membaca dan mendengarkan. Bagi mereka, kelas percakapan akan lebih efektif daripada kelas vocabulary dan grammar.
Berbagai studi di bidang neurosains di atas menunjukkan bahwa otak manusia adalah benda yang sangat lentur dan fleksibel. Dan bagi mereka yang ingin mempelajari bahasa asing sekaligus "mengolahragakan" otak, kombinasi mendengarkan dan pengucapan tampaknya merupakan metoda belajar bahasa asing yang paling menguntungkan otak secara biologis baik bagi anak-anak maupun orang dewasa.(DD/WRM)
Sumber :
Learning languages 'boosts brain' How the Brain Learns a Second Language Is There a Critical Period for Learning a Foreign Language? Foreign Languages: An Essential Core Experience |