We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Yang Lain arrow Tempe, Saya dan Kehidupan
Tempe, Saya dan Kehidupan E-mail
Pengirim: DA Inayati   
Rabu, 16 November 2005
Alah bisa karena terpaksa. Kali ini saya yang mengalaminya. Selama beberapa tahun tinggal di kota ini, saya hampir bisa dikatakan jarang sekali membuat menu yang terkandung tempe di dalamnya. Bukan karena tidak pernah membeli tempe sebagai alasan, tapi karena memang tidak pernah ada yang menjual tempe di kota kami.

Si tempe yang harga per 100 gr nya bisa lebih mahal di bandingkan dengan produk ayam halal lokal memang merupakan salah satu makanan favorit suami saya. Pun makan tempe, biasanya tak lain karena hasil "impor" teman yang kebetulan berkunjung dari kota lain. Ah malangnya keluarga tersayang, karena harus sering kali "puasa" tempe karena keadaan.

Didorong rasa "kangen" terhadap rasa tempe yang menggoda dan rasa sayang pada keluarga, saya memutuskan untuk bereksperimen membuat tempe a la sahabat baik saya. Resep ini pun saya temukan tak sengaja di dunia maya setelah menggunakan jasa google. Ternyata tak jauh jauh, di rumah maya sahabat keluarga,saya menemukan keterangan yang teramat lengkap plus foto foto alur proses pembuatannya.

Setelah memesan kedelai di toko langganan, akhirnya sayapun memulai melakukan eksperimen pembuatan tempe. Melihat berubahnya bentuknya kedelai dari bulat ke lonjong akibat proses perendaman saja telah membuat saya gembira alang kepalang. Sampai sampai saya semangat menerangkan pada anak anak asal muasal terjadinya perubahan bentuk kedelai. Masih dalam keadaan "semangat 45", saya memulai melepas kulit kedelai sesuai dengan petunjuk yang ada.

Terus terang, melihat 500 gr kedelai yang harus dikupasi, sudah membuat saya patah hati. "Sedemikian banyaknya yang harus dikupas .." lirih suara saya pada suami. Dengan tersenyum, ia mengambil wadah yang berisi kedelai rendaman, dan memulai membantu saya mengupasi kedelai. Ia mengerti, betapa saya membutuhkan motivasi dan sekedar uluran tangan menghadapi gunungan butir kedelai hangat yang ternyata cukup membuat "bad mood" muncul.

Tak terasa, semua proses telah selesai. Yang tersisa hanyalah kesediaan sabar menanti apakah tempe berhasil dibuat ataupun gagal tak jadi. Jam berganti jam, hingga datang 36 jam yang di nanti. Dengan rasa cemas sambil berharap, saya melihat di balik kain telah terbentuknya benang benang putih di antara kedelai. Namun saya yakin, proses harus diteruskan karena bukan bentukan tempe seperti ini yang saya harap. Saya putuskan untuk menunggu 12 jam ke muka. Keesokan harinya sebelum menyiapkan makan pagi, berharap cemas saya naik ke lemari. Dengan muka berseri seri disertai sujud syukur, saya mengabarkan berita gembira ke suami bahwa kami dapat melahap tempe di hari ini. Alhamdulillah.

Dari pengalaman membuat tempe ini, menyebabkan pikiran saya jauh melayang pada para mbok mbok bakul di kampung halaman. Betapa mereka sabar menjalani nasib mereka sebagai penjual tempe yang kadang harus mengorbankan malam malam istirahat mereka untuk sekedar mencari kedelai dengan harga murah. Betapa mereka tabah melepas kulit kedelai dengan tangan ataupun kaki mereka tanpa mengenal lelah demi mencari beberapa rupiah untuk menghidupi rumah tangganya. Betapa mereka sabar menunggu hasil berubahnya kedelai menjadi tempe dengan disertai doa dan harapan agar hasil kerja pembuatan tak sia sia. Betapa mereka harus bersabar menghadapi pelanggan yang kadang secara "tega" menawar tempe dengan harga yang terlalu murah.

Kembali saya teringat nasib mbok bakul tempe yang diceritakan di Para Priyayi-nya Alm Umar Khayam; si mbok yang setia menjual tempe agar nduk-nya dapat hidup lebih baik darinya. Si Mbok yang bersedia berjalan jauh keliling kampung agar sang buah hati dapat menikmati kehidupan masa depan yang berbeda darinya yang hanya menjadi si bakul tempe.

Jauh di hati kecil saya, saya mengagumi ketegaran hidup mereka. Betapa saya mungkin kadang memiliki jiwa kerdil dibanding mbok bakul yang menjadi langganan keluarga di tanah air tercinta. Sudah selayaknya saya harus dapat bercermin pada kehidupan mereka yang tak kenal putus asa walau harus menjalani pahit getir hidup sebagai manusia. Jangan takut untuk mencoba, sabar, pantang berputus asa dan selalu berdoa; semua pelajaran hidup itupun saya dapatkan, pun hanya dari sebuah tempe.

Ah, benar sekali adanya, di tiap sisi kejadian di dunia, pasti kan ada pelajaran kehidupan yang menyertainya. Terimakasih tempe, atas pelajaran berharga yang yang telah sempat diberikan pada saya!.(@DaI)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement