We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right  
Makanan Penyebab Gangguan Otak dan Perilaku: Pro vs Kontra E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Jumat, 11 November 2005

Beberapa mommies dalam diskusi We Are Mommies Indonesia menanyakan artikel yang di publikasi dalam website WRM dengan judul MAKANAN MENYEBABKAN GANGGUAN OTAK dan PERILAKU.

Dalam artikel ini dijelaskan bahwa makanan dapat menyebabkan simpang makanan, antara lain alergi yang kemudian dapat menyebabkan gangguan otak dan berbagai gangguan selanjutnya. Seperti yang dijelaskan dalam artikel tersebut, yaitu:

“Gangguan susunan saraf pusat atau otak tersebut dapat berupa neuroanatomis dan neurofisiologis. Gangguan neuroanatomis karena makanan biasanya sudah tampak sejak bayi. Pada bayi tampak lebih sensitif, sering mudah kaget dengan rangsangan suara atau cahaya, gemetar terutama tangan, kaki dan bibir, bahkan sampai epilepsi atau kejang. Pada anak yang lebih besar tampak sering sakit kepala, vertogo, migrain, nigtagmus (mata juling) atau ticks (mata sering berkedip).

Reaksi makanan pada penyakit celiac gangguan neurologis yang sering dilaporkan adalah epilepsi, myoclonic ataxia (Ramsay-Hunt syndrome), cerebellar ataxia, spinocerebellar dan cerebellar, peripheral neuropathy, myelopathy, brainstem encephalitis, dan chronic progressive leukoencephalopathy.

Selain gangguan neuroanatomis reaksi simpang makanan dapat mengganggu fungsi neurofisiologis seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, ADHD hingga memperberat gejala Autisme”.

Berbagai pertanyaan itu muncul, sebab menurut para mommies tersebut, anak-anaknya juga mengalami alergi, bahkan dari riwayat keluarga, baik saudara maupun para orang tuanya juga mengalami alergi. Beberapa mommies menyatakan bahwa jika benar bahwa alergi dapat menyebabkan berbagai gangguan tersebut, hal ini sungguh mengerikan. Namun banyak mommies juga melaporkan bahwa sekalipun dalam keluarga dan silsilahnya banyak mengalami alergi makanan, namun tak satupun mempunyai penyakit seperti yang disebutkan dalam artikel tersebut. Karena itu artikel ini kemudian menjadi bahan diskusi yang serius.

Namun seorang mommy yang banyak berkecimpung dalam dunia kesehatan mengingatkan: “Mengenai efek samping dari alergi yang menyeramkan, saya setuju. Memang pada beberapa kasus dramatic semua itu bisa terjadi. Saya sudah menemukan ada orang yang kasus alergi berat dan apa yang terjadi pada dirinya saat dia contact dengan trigger. Ini saya alami waktu saya dapet kesempatan bekerja sambil belajar di Lebanon Community Hospital, Oregon.

Tapiiii....kalau pada bayi, jangan panik dulu lahh....as a mother kita punya naluri kuat kan? Bayi aktif menurut saya bagus. Aktif yang seperti apa yang "tidak baik" tentu sebagai orang tua kita lebih tahu. Gunakan naluri dengan baik, jangan panik, rajin browsing ke situs-situs kesehatan terpercaya dan rajin baca. Setiap bacaan dan informasi yang dibaca JANGAN ditelan mentah-mentah. Ajak dsa langganan untuk diskusi, kalau tidak puas cari second opinion. Anak adalah amanah, harus dijaga dengan baik. Jangan karena panik dan menelan segala sesuatu dengan mentah anak jadi korban”.

Seorang mommy yang juga seorang dokter memberikan pendapatnya setelah membaca artikel tersebut:

“Jujur saja moms, saya membaca tulisan beliau menjadi bingung sendiri, ini saya yang tidak update ilmu jadi ketinggalan berita sekali atau bagaimana ya. Karena dulu pada waktu kuliah kuliah tidak pernah mendengar istilah reaksi simpang makanan. Lagipula sepengetahuan saya, Allah itu sudah membuat otak sempurna, karena fungsinya yg betul betul vital, tidak bisa sembarangan zat bisa masuk ke otak. Ada penjaganya yg disebut sawar darah otak(blood brain barier/BBB). Hanya glukosa, O2,dan Co2 yg bisa masuk dengan mudah. Bahkan obat-obatpun tidak bisa sembarangan masuk, obat yang bisa masuk ya yang sudah dibuat dan disesuaikan dengan model glukosa yang bisa masuk itu.

Lalu, hormon hormon tertentu juga bekerja untuk melindungi otak ini, jadi commom infeksi tidak bisa dengan mudah masuk ke otak. Kalau tidak, pastilah banyak sekali anak yang bakal kena infeksi otak.

Jadi, dari tulisan beliau itu, apa maksudnya keracunan makanan bisa menimbulkan reaksi alergi, imunolagi dll sehingga masuk ke otak terus menimbulkan gangguan perilaku begitu? Bukannya otak ini sangat hebat dalam menyaring sesuatu? Koq saya yang tidak mengerti ya jadinya. Lagipula beliau banyak mengutip kata para ahli, penelitian para ahli, tapi ahli yg mana ya? Tidak jelas disebut sepertinya”.

Karena diskusi ini cukup membingungkan, maka seorang mommy menanyakan artikel ini kepada Prof. Sudigdo Sastroasmoro, SpAK, guru besar dari Bagian Anak FKUI/RSCM yang merupakan aktivis dari Evidence Based Medicine (Ilmu Kedokteran yang mengutamakan pada kebenaran hasil penelitian ilmiah). Jawabnya:

“Wah wah, jawabnya tidak mudah Bu, Ibu juga tahu. Pertama artikel yang diajukan itu artikel ilmiah atau untuk orang awam. Kalau untuk awam kok banyak istilah medis dan ada daftar pustakanya, kalau ilmiah kok untuk pernyataan penting yang kontroversial tidak disebut sumbernya secara spesifik (salah-salah bisa dicap plagiarisme, lho).

Kalau artikel ilmiah kita mesti cek statement yang dinyatakan itu diambil dari pustaka yang mana; mengingat puluhan artikel itu tidak spesifik dikaitkan dengan statement yang mana, ya jadi sulit.

Kalaupun bisa dirunut artikel yang dirujuk harus dinilai validitas penelitian, seperti yang diajarkan oleh Evidence Based Medicine (appraise the VALIDITY, IMPORTANCE, and APPLICABILITY).

Jangan lupa, meskipun sudah dimuat di jurnal terkenal, namanya juga pekerjaan manusia, banyak artikel yang metodologinya lemah atau bahkan sama sekali salah (Lihat Andersen; Methodological errors in medical research - Penerbit dan tahunnya lufa). Apalagi cukup banyak "artikel" yang sebenarnya unpublished, yakni presentasi di kongres (meskipun namanya kongres internasional di negerinya Francois Mitterrand yang anggun di sana), yang mestinya belum melalui peer review yang sehat. Bagaimana desainnya, sampling methodsnya, sample sizenya, intervensinya, pengukurannya, primary dan secondary outcomesnya, analisisnya, dll. adalah sebagian dari banyak hal yang perlu dikaji dulu sebelum kita menentukan sahih atau tidaknya suatu penelitian.

Saya pribadi dapat menyetujui statement yang sudah "established" bahwa gluten-free diet perlu untuk pasien celiac, makanan tertentu dapat membuat sembelit atau mencret, mata berair, artritis urika kambuh, kulit gatal atau pusing setelah makan MSG. Tapi kalau "tidak bisa bolak-balik, susah belajar, hiperaktif, pemarah, pelupa, hernia umbilikaslis, skrotalis, inguinalis, ngiler, mudah kaget, gemetar, sampai epilepsi dan kejang, mata juling, " dan masih banyak manifestasi lain ya nanti dulu.



 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement