We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Yang Lain arrow The Phantom of the Opera: Ada Hantu Buruk Rupa di Paris Opera House
The Phantom of the Opera: Ada Hantu Buruk Rupa di Paris Opera House E-mail
Pengirim: Dono Widiatmoko   
Selasa, 08 November 2005

Ulang tahun ke-8 perkawinan akan kami peringati dengan menikmati opera musikal The Phantom of the Opera di kota London. Tepat seminggu sebelumnya, tiket pertunjukkan sudah dipesan lewat lewat internet seharga 35 pounds per orang. Bukan nilai yang murah apalagi jika disetarakan dengan nilai rupiah yang saat itu nilainya lebih dari Rp. 18,000 setiap satu poundsterlingnya.

Tapi janji yang diucapkan sepuluh tahun lalu pada calon istri ketika itu untuk menikmati Phantom of the Opera di panggung aslinya di kota London sudah hampir kadaluarsa. Mumpung kami sedang berada di daratan Inggris, dan sudah delapan tahun perkawinan kami, mungkin sudah waktunya janji ini untuk dipenuhi.

Tiba di stasiun Kings Cross London sekitar pukul setengah enam sore dari kota kecil Sandy tempat kami tinggal sementara ini, masih sekitar dua jam lagi dari waktu pertunjukan. Jadilah waktu luang itu kami manfaatkan untuk makan angin di Leicester Square pusat hiburan kota London serta mencari ganjalan perut agar tidak kelaparan saat menikmati pertunjukkan malam nanti. London di penghujung musim panas sangatlah ramai dikunjungi wisatawan, baik pengunjungh dari luar Inggris maupun dari pelosok negeri ini sendiri. Teror bom yang menimpa bulan Juli lalu tidak menyurutkan langkah penikmat kota London mencari hiburan di tengah kota ini. Ke-empat bom yang meledak tanggal 7 Juli dan rangkaian percobaan pemboman dua minggu berikutnya terjadi di sekitar pusat kota London. Namun sore itu tidak tampak kerisauan dan raut takut pada muka orang-orang yang kami jumpai di jalan.

Sambil berjalan-jalan, telinga kami disinggahi banyak jenis bahasa dari celoteh dan percakapan orang yang berjalan beriringan atau berpapasan dengan kami. Dari bahasa Inggris, Spanyol, Belanda, Itali, Hindi, Urdu, Mandarin, Jepang, Arab sampai Melayu, menghampiri telinga kami tanpa disengaja. Ya, kota London memang banyak dihuni dan disinggahi manusia berbagai bangsa. Hasil sensus penduduk kota London menunjukkan bahwa tanpa turis saja, kota London sudah menjadi pusat berkumpulnya manusia dari berbagai ras dan asal negara. Apalagi jika ditambah dengan serbuan turis asing dan lokal yang datang berkunjung setiap hari. London adalah kota yang benar-benar metropolis multi rasial.

Sambil menikmati ayam goreng halal yang dijual di sudut Leicester Square, kami menikmati suasana sore di taman depan bioskop -bioskop terkenal yang ada di sana. Odeon, UCI Empire, dan Vue adalah bioskop yang berdiri megah dengan film-film terbaru yang diputar di dalamnya. Di sinilah biasanya dilakukan pemutaran perdana film-film box office, lengkap dengan hamparan karpet merah, dihadiri oleh bintang-bintang film ternama berpakaian mencolok diserbu gerombolan wartawan TV dan media cetak yang mengacungkan microphone dan lensa kamera mereka.

Tidak lupa kami menelepon kedua anak kami yang sore itu terpaksa ditinggal di rumah ditemani nenek mereka yang kebetulan sedang berkunjung ke kediaman kami dari Indonesia. Tanpa kehadiran sang ibu mertua, pergi berdua saja dengan istri sulit dapat dilakukan. Maklum, di sini tidak ada pembantu rumah tangga, saudara atau tetangga yang bisa diminta bantuannya menjaga sepasang anak kecil sementara kedua orangtuanya asik pelesir malam hari.

Pukul tujuh malam, pergilah kami melangkahkan kaki ke gedung Her Majesty’s Theatre di kawasan Haymarket, yang letaknya hanya sepelemparan batu dari Piccadilly Circus underground station. Kami siap menyambangi sang Phantom, si Hantu yang pandai bernyanyi.

The Phantom of the Opera adalah judul pertunjukan yang akan kami nikmati malam ini. Lakonnya diadaptasi dari novel terbitan tahun 1910 yang berjudul asli Le Fantome de l'Opera hasil karya pengarang Perancis bernama Gaston Leroux. Walau Gaston Leroux lebih dikenal sebagai penulis novel detektif, cerita ini adalah sebuah cerita cinta segitiga antara Raoul (Vicomte de Chagny), Christine Daae, dan Phantom seorang jenius buruk rupa yang hidup di kegelapan lorong-lorong dasar sebuah gedung pertunjukan opera. Beberapa sutradara film telah mengadaptasi novel ini menjadi tontonan di layar perak. Versi opera musikal The Phantom of the Opera terakhir dibawa ke layar lebar oleh sutradara Joel Schumacher dengan judul yang sama. Belakangan DVD-nya sudah beredar lengkap dengan cerita di belakang layar pembuatan film ini.

Setting cerita The Phantom of the Opera adalah Paris Opera House, sebuah gedung megah yang benar-benar ada di kota Paris. Gedung yang saat ini dikenal dengan nama “Palais Garnier” dibangun pada antara tahun 1857-1874 atas dasar rancangan arsitek Charles Garnier. Gedung ini dibangun sedemikian megah dan besar, lengkap dengan kamar-kamar tempat tinggal para pemain dan pendukung opera, panggung, lobby, gudang, sampai ruang-ruang tersembunyi di bawah tanah yang dijadikan setting tempat tinggal sang Phantom. Sebuah lampu gantung besar dan indah melengkapi kemegahan ruang pementasan utama gedung ini. Jauh di dasar gedung terdapat sebuah reservoir air bawah tanah, yang sengaja dibuat untuk menampung keberadaan air yang ada di sana. Pukul 19:30 tepat, pertunjukkan dimulai dengan suasana lelang barang antik di kota Paris, dengan benda utama yang dilelang adalah lampu gantung indah dari Paris Opera House, yang pernah rusak terkena musibah kebakaran besar. Dari situ, cerita berjalan mundur ke jaman keemasan Paris Opera House.

Alkisah Paris Opera House berpindah pemilik ke tangan dua sekawan Andre dan Firmin, orang kaya baru dari hasil usaha jual beli besi bekas mereka. Bersama duo ini, turut pula Raoul, bangsawan muda ganteng yang menjadi tokoh pelindung gedung opera dan pertunjukkannya.
Di Opera House itu sudah lama beredar rumor tentang adanya sesosok misterius, si Phantom yang kerap meninggalkan surat bertanda O.G. (singkatan dari Opera Ghost). Nama asli sang Phantom adalah Erick, seorang yang mempunyai wajah menyeramkan terkena infeksi muka sejak kecil. Buruk rupa wajahnya digunakan suatu kelompok Gipsy untuk dipertontonkan pada umum dengan meminta imbalan uang recehan. Tidak tahan diperlakukan semena-mena ia kabur dan lari bersembunyi di dasar Paris Opera House, sambil mengasah kemampuannya menyanyi dan mengarang lagu. Untuk menutupi wajah rusaknya, Erick selalu mengenakan topeng yang menutupi sebagian wajahnya. Ia juga tidak mau muncul langsung di hadapan orang banyak. Jadilah ia lebih dikenal menjadi si Phantom, hantu buruk rupa dari Paris Opera House.

Christine Daae, seorang yatim cantik anak pemusik biola terkenal asal Swedia, bersinar namanya di panggung Paris Opera House. Alunan suaranya luar biasa. Tidak ada yang tahu siapa yang mengajarnya bernyanyi seindah itu. Hanya Christine sendiri yang tahu bahwa ia belajar bernyanyi dari sang Phantom yang semula dikiranya adalah malaikat musik utusan almarhum ayahnya. Tak dinyana, Raoul ternyata adalah teman main masa kecil Christine yang masih memendam rasa cinta masa lalunya pada Christine. Cinta Raoul tumbuh kembali apalagi ditambah dengan faktor kecantikan dan kepandaian Christine bernyanyi saat ini. Kedekatan Raoul dengan Christine membuat sang Phantom cemburu. Phantom sudah lama jatuh hati pada Christine, anak didiknya bernyanyi semenjak kecil. Kecemburuan membuat tingkah lakunya menjadi beringas, sehingga mampu melakukan berbagai keonaran demi memenangkan cintanya pada Christine. Ia pernah membakar gedung, menjatuhkan lampu gantung besar di atas panggung, bahkan sampai tega membunuh petugas pengerek layar panggung.

Raoul bersama duo Andre dan Firmin bersepakat mencari jalan untuk mencari tahu siapa si Phantom keji itu. Mereka melayani permintaan Phantom untuk mementaskan karya akbar sang Phantom yang berjudul Don Juan Triumphant di gedung opera mereka. Raoul tahu bahwa jika lakon itu dipentaskan, sang Phantom pasti akan muncul dan kesempatan untuk menangkapnya akan terbuka. Jadilah pergelaran Don Juan Triumphant dibuka dengan memasang Christine sebagai pemeran utama wanitanya. Phantom diam-diam muncul di panggung pertunjukkan setelah membunuh pemeran utama pria dan langsung menggantikan perannya di panggung. Christine dan Phantom bernyanyi bersama di panggung disaksikan seluruh pengunjung opera, dan juga Raoul tentunya. Di puncak pertunjukkan, Christine membuka kedok yang menutupi wajah rusak sang Phantom. Ketahuan belangnya, Phantom menyeret Christine lari ke ruang persembunyiannya di dasar Opera House.

Raoul mengejar mereka ke relung-relung dasar gedung, disertai rombongan polisi yang sudah bersiap menangkap sang Phantom hidup atau mati. Di bawah tanah, Phantom berhasil menundukkan Raoul dan mengikat lehernya pada jeruji pagar. Tali yang melingkari leher siap ditarik untuk menggantung Raoul jika Christine tidak mengalihkan cinta padanya. Dalam kondisi terdesak, Christine menyadari betapa buasnya hati Phantom, walaupun atas nama cinta. Namun cinta Christine hanya pada Raoul. Demi kekasih hatinya, ia lalu rela menyerahkan diri pada Phantom sebagai penebus nyawa Raoul. Di luar dugaan, luluh hati Phantom melihat sikap Christine sehingga memutuskan untuk melepas Raoul dan Christine pergi. Kesedihannya akan kekuatan cinta Christine pada Raoul membuat Phantom memutuskan untuk menghilang dari Paris Opera House, dan dari kehidupan Christine dan Raoul untuk selamanya.

Seluruh kisah yang diceritakan itu dilantunkan dalam nada-nada musikal karangan Andrew Lloyd Webber, dengan untaian liriknya disusun oleh Charles Hart dan Richard Stilgoe. Perpaduan nada lagu operatic dengan beat rock dan iringan orkestra membuai telinga dan suasana hati. Musik indah itu dimainkan oleh 20 orang musisi yang dipimpin oleh seorang conductor dalam mengiringi para aktor menyanyi di panggung.

Malam itu, Phantom diperankan oleh Earl Carpenter, Christine Daae oleh Celia Graham, dan Raoul oleh Oliver Thornton. Mereka adalah pemain teater professional yang sehari-hari berprofesi sebagai anak panggung dunia seni di kota London. Earl Carpenter adalah bintang malam itu yang secara sempurna memainkan perannya sebagai Phantom. Suaranya yang lantang menggelegar kadang diimbangi dengan desahan dan bisikan cinta sang hantu opera pada Christine Daae.

Celia Graham sebagai Christine memegang peran sentral pada keseluruhan cerita. Ia ada pada hampir semua bagian cerita. Ia menari ballet, menyanyi, berakting namun juga sedih ketika dipaksa Phantom untuk menerima cintanya. Para penonton duduk terbagi pada 3 bagian; lantai dasar, dan dua balkon. Ditilik dari rupa, dandanan, dan bahasanya, penonton malam itu berasal dari banyak negara. Di belakang kursi kami berjajar wanita penonton dari Jepang. Disisi kami duduk satu keluarga yg dari gaya bahasanya menunjukkan mereka berasal dari Amerika Serikat. Agak jauh sedikit tampak pula seorang wanita Timur Tengah berkerudung turut menikmati karya malam itu.

Pada setiap malam pertunjukkan ada 9 tokoh utama yang memainkan peran cukup penting, dibantu oleh sejumlah pemeran panggung dan penari ballet. Total dalam semalam ada 39 orang artis tampil dalam pertunjukkan tersebut. Di belakang layar, pertunjukkan ini didukung pula oleh penata rias, penata busana, dan teknisi yang mengatur seluruh setting panggung, serta mengoperasikan special effect. Jumlah seluruh petugas pendukung pertunjukkan mungkin sama banyak dengan jumlah artis panggungnya.

Sewaktu jeda antara dua babak pertunjukkan, penonton dipersilahkan untuk beristirahat, membeli minuman, es krim, atau hanya sekedar meregangkan badan. Selain itu petugas pertunjukkan menjual pula berbagai cendera mata yang berhubungan dengan phantom of the opera. Harga-harganya cenderung selangit. T-shirt misalnya dihargai £20 (Rp. 360,000). Benda kenangan paling murah yang tersedia adalah pin penghias baju seharga £2.5 (Rp. 45.000). Alhasil kami tidak membeli souvenir apapun.

Pukul sepuluh malam, pertunjukkan berakhir. Kami melangkah pulang menuju stasiun King’s Cross sambil menyenandungkan lagu Music of the Night yang dinyanyikan oleh sang Phantom.

Night time sharpens, heightens each sensation
Darkness stirs and wakes imagination
Silently the senses abandon their defences
......

Sungguh peringatan ulang tahun perkawinan yang sangat berkesan!

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement