We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kegiatan WRM arrow Kegiatan Sosial WRM arrow Catatan Akhir Oktober 2005: Mengais Kisah Kepedulian
Catatan Akhir Oktober 2005: Mengais Kisah Kepedulian E-mail
Pengirim: Wanda Hazman   
Selasa, 25 Oktober 2005

Without a sense of caring, there can be no sense of community.  Tanpa ada kepedulian, tidak akan ada rasa kebersamaan dalam sebuah komunitas. Saya temukan kutipan dari Anthony D’Angelo ini pada sebuah kumpulan kata-kata bijak yang acap saya buka tutup mengisi kekosongan waktu ketika menjemput anak saya di sekolah.

Saya tercenung membacanya. Betapa berjodohnya rampai kata itu dengan We R Mommies Indonesia (WRM), milis yang sudah menjadi sahabat saya hampir dua tahun terakhir ini. Amanah sebagai moderator di sana, menumbuhkan keterikatan emosi yang begitu besar dengan milis ini. Bahagia apabila saya dapat memberi yang terbaik buatnya. Sedih apabila milis ini dirundung duka. Juga kecewa apabila keterbatasan saya membuat apa yang dapat saya berikan pun menjadi terbatas.

Kegiatan yang dilakukan bersama dengan anggota, ataupun sekedar mempererat hubungan pertemanan, membuat proses belajar saya tidak pernah berhenti. Banyak sekali saya temukan ilmu dan guru kehidupan dalam komunitas ini. Kalau saya pikir-pikir, bagaimana mungkin kami yang tidak pernah bertemu sebelumnya, bahkan terpisahkan jarak yang bisa dihitung dengan perbedaan waktu dan daratan, dapat menjadi sebuah komunitas yang cukup solid dan mewujudkan beragam kegiatan.

Kembali pada kutipan kalimat Anthony D’Angelo. Kenapa saya menjodohkannya dengan milis We R Mommies? Menurut saya, ‘peduli’ yang merupakan kata kunci, dari apa yang telah diungkapkan beliau ini dan ketakjuban saya pada komunitas ibu-ibu WRM Indonesia. “Care” atau peduli adalah kata dasar yang digunakan baik oleh D’Angelo maupun WRM. Dalam frase yang berbeda, Together We Care, merupakan filosofi yang menjadi pupuk semua kegiatan WRM. Peduli pada sesama anggota dan peduli pada lingkungan. Itulah yang memaknai aktifitas ibu-ibu milis ini. Interaksi sehari-hari yang berpusat di dunia maya, bukan lagi halangan untuk dapat mewujudkan kepedulian tadi.

Keterlibatan emosi seperti yang tumbuh dalam diri saya, sepertinya juga tumbuh dalam diri teman-teman virtual di milis WRM. Kami merasakan sebuah dorongan untuk dapat bergerak mewujudkan kepedulian. Jangan tanya bentuk kepedulian sesama anggota. Rasanya, rampai kata ringan sama dijinjing dan berat sama dipikul, bolehlah dijodohkan juga dengan kebersamaan anggota WRM.

Tidak puas hanya berbuat untuk diri sendiri, beberapa kegiatan peduli lingkungan dan sesama pun menjadi sasaran. Seperti dalam kesempatan bulan Ramadhan ini. Tetap konsisten pada jalur pendidikan anak negeri, We R Mommies Indonesia berkunjung ke sebuah taman bacaan di pojokan kumuh daerah Penjaringan, Jakarta Utara.

Kopdar tidak harus Café

Rumah Cahaya Penjaringan. Beberapa kali nama taman bacaan ini melintas di layar monitor komputer saya. Tulisan dari teman-teman maya dalam komunitas virtual lain yang saya ikuti, menjadi masukan saya soal taman bacaan yang satu ini. Seperti biasa, untuk data-data serupa selalu saya simpan dalam sebuah folder. Entahlah, mungkin nanti perlu, pikir saya.

Tiba kesempatan bulan Ramadhan, terbersit keinginan We R Mommies untuk melepas kangen sesama anggota dan kembali melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan. Singkat cerita, Rumah Cahaya di Penjaringan menjadi pilihan lokasi kopi darat (kopdar) sekaligus bakti sosial WRM.

Rumah Cahaya Penjaringan berdiri pertengahan tahun 2004, atas prakarsa Forum Lingkar Pena (FLP) dan Forum Pengajian Subuh (FOJIS). Berawal dari keprihatinan pada perkembangan jiwa anak-anak yang tumbuh di daerah kumuh tersebut. Terlalu banyak permasalahan yang menghimpit warga kampong Rawa Bebek Penjaringan. Kalau mungkin dapat saya gambarkan dengan arah mata angin, pada setiap arah panah menunjuk, ada kemiskinan, moral, dan maksiat. Judi, adalah keseharian yang dapat ditemukan di gang-gang Rawa Bebek.  Mulai gaplek, sampai mesin judi yang cukup besar, ada di sana. Belum lagi, lokalisasi prostitusi yang hanya berjarak 200 meter dari Rumah Cahaya. Ramai tiap malam.  Miras? Bukankah itu selalu padanan karib bagi judi dan prostitusi?

Anak-anak generasi penerus tidak harus menjadi korban oleh lingkungan itu. Mereka masih punya kesempatan dan masa depan. Perpustakaan kecil (mini, menurut saya) yang berdiri di tengah himpitan warung kopi dan pemukiman penduduk serasa menjadi plaza masa depan bagi anak-anak yatim piatu maupun anak-anak sekitar yang rajin berkunjung dan berada dalam asuhan Rumah Cahaya Penjaringan. Belakangan, tempat ini menjadi makin semarak dengan kegiatan-kegiatan belajar dan keagamaan. Tidak hanya untuk anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Bisa dibayangkan bagaimana jalan lurus yang dapat ditempuh warga sekitar dengan kehidupan memprihatinkan, apabila mereka mendapatkan pembekalan jiwa dan ilmu dari sebuah Rumah Cahaya. Beruntung sekali kampung itu memiliki variabel kontrol semacam Rumah Cahaya.
Saya dan beberapa teman dari We R Mommies Indonesia menyaksikan dengan mata dan kepala sendiri, saat kami berkuat tekad untuk mewujudkan niat berbagi kebahagiaan di sana, dalam acara yang kami beri judul Kopdar Bersama We R Mommies. Berkunjung ke sana adalah sebuah kesempatan langka. Namun berada di sana bukanlah sulit, sebab segala wujud kepedulian dapat disampaikan. Sumbangan buku, dana dan salam yang kami bawa sebagai titipan dari teman-teman WRM, serasa sesak menjadi limpahan bahagia dalam ruang sempit berukuran 3 x 2.5 meter itu.

Belajar lagi saya dari sana, melalui sosok Ibu Romlah, sebagai kepala sekolah TPA Penjaringan dan bendahara rumah cahaya. Gaji yang beliau dapat hanya gaji dari Allah. Ada lagi  sosok Pak Rojak, yang saya telpon terus saat saya kesasar mencari jalan menuju Rumah Cahaya. Sebagai Ketua RT beliau rajin memotivasi warga untuk peduli pada kegiatan-kegiatan di Rumah Cahaya. Lalu saya mengenal sosok Andi Birulaut, seorang penulis, pekerja teater yang juga perintis berdirinya Rumah Cahaya Penjaringan. Sempat saya diperlihatkan dua bukunya yang telah terbit. Kemana lagi royalti buku kalau tidak mengalir ke Rumah Cahaya. Orang-orang ini begitu tulus dan ikhlas mengabdikan diri di Rumah Cahaya. Lagi-lagi, bukankah kata ‘peduli’ yang memberi nuansa pada kerja sosial itu?

Lomba gambar, permainan, sumbangan dana dan konsumsi berbuka puasa, tak ada apa-apanya dibandingkan ketulusan dan aktivitas kebaikan dari pengurus-pengurus Rumah Cahaya. Namun wajah-wajah antusias anak-anak merupakan sambutan luar biasa yang kami rasakan. Kami berharap apa yang kami berikan dapat bermanfaat. Karena selalu, kami tidak ingin memberikan ikan, tetapi kail. Semoga melalui sumbangan ini dapat menjadi saluran yang memperpanjang bias sinar Cahaya rumah tersebut.

Hati yang bersyukur

Satu hal yang masih terkenang dalam benak saya, adalah saat saya memperkenalkan diri kami, sebagai wakil dari We R Mommies Indonesia. Sengaja saya buat sebuah tulisan besar di karton, dengan niat mengajarkan bahasa Inggris sederhana pada anak-anak di sana. Miris hati saya, saat mendengar jawaban ragu-ragu, bahkan salah total dari seorang anak usia sekolah lanjutan, saat mengartikan kata pertama, yaitu We. Ragu-ragu, diartikannya We sebagai ‘mereka’. Terhenyak. Saya seperti masuk di sebuah lingkungan dalam kurun waktu yang mundur banyak tahun ke belakang. Tak terbayangkan bagaimana mereka akan masuk ke persaingan global yang ramai berdengung saat ini. Bahkan anak saya sudah fasih soalan itu sejak kelas satu sekolah dasar!

Mungkinkah ini pekerjaan rumah bagi kami, We R Mommies Indonesia? Saya pikir, iya. Pe er ini sudah saya simpan baik-baik, sama halnya saat saya memperoleh data Rumah Cahaya Penjaringan dahulu. Saya selalu berpikir, mungkin pekerjaan rumah ini akan kami perlukan, suatu waktu nanti. Saat ini saya mau menikmati dulu ragam perasaan yang membuat hati saya tersenyum sepulang dari Rumah Cahaya Penjaringan. Partisipasi dan do’a dari semua anggota WRM telah mewujudkan niat menjadi nyata. Hal yang membuat saya terharu dan takjub lagi dengan We R Mommies Indonesia, adalah bahwa persiapan singkat, hanya tujuh hari, dan dilakukan secara virtual, dapat mewujudkan sebuah kegiatan yang membawa hikmah indah dalam hati anggota milis WRM dan lingkungannya. Melalui sebuah komunitas dengan visi dan cita-cita yang sama, kata apa lagi, kalau bukan ‘peduli’ yang menjadi anak panah saat busur dilentingkan?

Saya yakin, kami yang hadir di sana pada acara Kopdar Bersama We R Mommies itu, membawa pulang hati yang bersyukur, dan jiwa yang lebih kaya ke rumah masing-masing. Sebuah tempat teduh di sudut Penjaringan itu telah memberi banyak pelajaran. Tidak hanya bagi kami orang dewasa, tetapi juga anak-anak kami yang hadir bersama. Anak-anak yang masih diberi kesempatan Allah untuk menikmati keberadaan lebih dibandingkan saudara-saudaranya di sana. Menyambangi ruang sempit itu, berarti menyongsong terang yang tidak sekedar terang, tetapi tetap bercahaya dalam hati  dan ngangenin.  Do’a kami untuk dapat kembali ke sana, membawa kail yang lebih baik lagi.

Dan hujan semalaman yang berhenti  seolah merestui perjalanan kami siang itu, kembali tumpah mengantar kepulangan kami. Kami bergerak melawan arah rumah yang tampak terus bercahaya di antara cahaya temaram lain, dalam kehidupan malam di sudut kumuh kampung Rawa Bebek Penjaringan.  (WH)

Berkas Cahaya di Sudut Kumuh
Adalah benar ruang sempit
Serasa menghimpit
Tak jarang terjepit
Peluhpun tak patuh menantang keluar

Adalah benar penjuru angin
Pasar becek di ujung sana
Lokalisasi prostitusi di sebelah sini
Judi celnet di samping situ

Tapi benar pula adanya
Seberkas cahaya di sudut kumuh
Membawa senyum bagi yang papa
Membawa cahaya bagi gelap

Tentang Rumah Cahaya di Penjaringan
Saat kulihat sejak terang hingga jelang malam…

Ditulis berdasarkan pengalaman Kopdar Bersama We R Mommies Indonesia.
Sabtu, 22 Oktober 2005.

Site yang berhubungan:
Rumah Cahaya Penjaringan:
http://rumahcahayakami.multiply.com/
Foto: http://wehaz.multiply.com/photos/album/11

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement