We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2012 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Yang Lain arrow Lets Play!
Lets Play! E-mail
Pengirim: Intan Alamsyah   
Selasa, 18 Oktober 2005

Dahulu, anak-anak bermain dari pagi sampai malam. Mereka berlari-lari, bermain dress up, dan membuat cerita dari imajinasi sendiri. Sekarang, hanya sedikit yang bermain seperti itu.

Apa yang terjadi?

- Lebih dari 4 setengah jam perhari menonton TV, bermain video game dan di depan komputer [1]
- Tekanan akademik dan ulangan/test/PR, mulai dari umur 3 tahun
- Hidup terlalu terjadwal berisikan adult-organized activity
- Kurangnya tempat bermain di luar rumah yang aman

Penelitian puluhan tahun menunjukkan bahwa bermain -secara aktif dan penuh imajinasi- adalah lebih daripada games. Bermain meningkatkan perkembangan intelektual, sosial, emosional dan fisik. Keuntungannya sangat besar sehingga seharusnya masa kecil adalah masa bermain.

Yang lebih pintar bukanlah bermain dengan TV atau komputer, tapi dengan boksnya! Komputer hanyalah komputer, diprogram oleh orang dewasa. Tapi boks kosong bisa menjadi gua, kano, kabin, toko permen- apapun seorang anak dengan imajinasinya inginkan.

Apa saja keuntungan bermain dan apa yang bisa anda lakukan untuk membantu anak bermain?

Keuntungan bermain

Dengan bermain, anak-anak belajar berinteraksi dengan orang lain, mengembangkan kemampuan berbahasa, mengenali dan menyelesaikan masalah, dan menemukan potensi. Singkatnya, bermain membantu anak-anak berlogika dan menemukan tempat mereka di dunia.

* Perkembangan fisik :
Permainan yang rough membantu perkembangan sensorimotorik. Juga merupakan pencegahan obesitas secara alami. Penelitian juga menunjukkan bahwa waktunya istirahat (di sekolah, untuk bermain) meningkatkan kemampuan akademik anak-anak.[2]

*Akademik:
Bermain memberi dasar dalam kesuksesan membaca dan menulis. Bermain memberi pengalaman “memegang” benda2 riil yang membantu anak-anak mengembangkan sains dan konsep matematika. Bermain sangat penting untuk perkembangan imajinasi dan kemampuan menyelesaikan masalah secara kreatif. [3]

*Sosial dan emosional:
Penelitian menunjukkan bahwa social make-believe play berhubungan dengan peningkatan kemampuan bekerjasama dan berempati, mengurangi agresi, dan perkembangan emosional dan sosial. [4]

*Kebahagiaan :
Anak sehat umur berapapun senang bermain. Ahli perkembangan anak mengatakan bahwa banyak waktu bermain di masa kecil merupakan kunci kebahagiaan di masa datang. [5]

Apa yg bisa anda lakukan untuk membantu anak bermain?

* Mengurangi atau menghilangkan screen time :
Beri anak-anak kesempatan untuk mengembangkan imajinasi. Siapkan alat-alat bermain sederhana dan tips-tips untuk make-believe play untuk menginspirasi kreativitas mereka.

* Mengurangi waktu untuk adult-organized activity :
Anak-anak butuh waktu untuk bermain dengan inisiatif sendiri. Hidup terlalu terjadwal mengakibatkan kurangnya waktu bermain.

* Pilih mainan sederhana :
Mainan yg baik adalah 10 persen mainan dan 90 persen anak. Imaginasi anak adalah bahan bakar permainan. Mainan sederhana dan material alam, seperti kayu, boks, boneka, pasir, dan clay mengajak anak membangun scene mereka sendiri.

* Beri waktu untuk bermain di luar rumah dimana anak-anak bisa berlari, memanjat, menemukan tempat sembunyi rahasia, dan membuat drama. Materi alam - tongkat, lumpur, air, batu- merupakan bahan dasar untuk bermain.

* Lakukan pekerjaan riil :
Aktivitas orang dewasa seperti memasak, bersih-bersih dan mencuci mobil memberi inspirasi pada anak-anak untuk bermain. Anak-anak senang membantu sebentar kemudian bermain sendiri.

Catatan kaki:

  1. Emory Woodard, “Media in the Home 2000,” Annenberg Public Policy Center, U. of Penn., 2000.
  2. Anthony D. Pellegrini and P.K. Smith, “Physical Activity Play: The Nature and Function of a Neglected Aspect of Play,” Child Development 69(3), June 1998; Susan J. Oliver and Edgar Klugman, “What We Know About Play,” Child Care Information Exchange, Sept.2002.
  3. Doris Bergen, “The Role of Pretend Play in Children’s Cognitive Development,” Early Childhood Research and Practice, 4(1), Spring 2002; Jerome L. Singer, “Cognitive and Affective Implications of Imaginative Play in Childhood,” in Child and Adolescent Psychiatry: A Comprehensive Textbook, Melvin Lewis, ed., 2002; Oliver and Klugman, op. cit.; Edgar Klugman and Sara Smilansky, Children’s Play and Learning: Perspectives and Policy Implications, New York: Teachers College Press, 1990; Pellegrini and Smith, op. cit.
  4. Robert J. Coplan and K.H. Rubin, “Social Play,” Play from Birth to Twelve and Beyond, Garland Press, 1998; Klugman and Smilansky, op.cit.; Singer, op. cit.
  5. Edward Hallowell, The Childhood Roots of Adult Happiness, New York: Ballantine, 2002

Disadur dari : Time for Play, Every Day

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement