|
Suatu malam, saat kami sekeluarga sedang bertandang di rumah orangtua saya. Kriiiing… Suara telpon mengagetkan kami yang sedang asik nonton TV. Saya segera beranjak mengangkat gagang telpon. Sejenak kemudian saya terlibat percakapan dengan seorang pria di ujung sana.
“Haloo..”
“Bisa bicara dengan ibu?” (maksudnya pasti ibu saya)
“Dari siapa ini?”
“Kerempeng, bu”
“Tunggu sebentar ya..”
Setengah takjub, saya mengetuk pintu kamar ibu saya yang baru sepuluh menit lalu masuk kamar untuk tidur. Kerempeng adalah tukang sayur keliling yang biasa mampir setiap pagi ke rumah orangtua saya. Nama Kerempeng diberi oleh ibu-ibu langganan, karena sosoknya yang tinggi kurus. Tidak tahu juga siapa nama aslinya. Ibu saya pernah bilang kalau Kerempeng punya ponsel. Jadi ibu saya tinggal telpon Kerempeng kalau mau pesan sayur, daging, ikan dan keperluan dapur lainnya. “Ma, ada telepon dari Kerempeng.”
Agak janggal saya bersuara, sambil terus mengetuk pintu kamar. Setengah bergegas terdengar langkah kakinya, lalu kunci pintu kamar dibuka. Bergegas pula ibu saya menghampiri meja telpon.
“Kalau begitu, dua kilo aja,” suara ibu saya terdengar setelah terlihat dia menyimak dengan serius perkataan dari lawan bicaranya. “Jangan lupa daun salam dan kemiri ya..” lanjut beliau. “Terimakasih,” terdengar kemudian ibu saya menutup pembicaraan, dengan mimik agak kesal. Pasti pesanannya tidak bisa dibawakan semua oleh Kerempeng, saya membatin.
Perhatian saya pada tayangan televisi yang memang tidak terlalu bagus malam itu, menjadi terbagi pada kejadian barusan. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya seorang penjaja sayur keliling, dengan sepeda yang dimodifikasi menjadi gerobak sayur, kini dapat menjalankan usahanya dua puluh empat jam. Tidak ada lagi keluhan bahan masakan kurang, tukang sayur tidak datang dan sebagainya.Sepertinya Kerempeng tahu betul kecerewetan ibu-ibu soal ini.
Dengan semakin terjangkaunya harga ponsel dan fasilitas kartu telepon yang bertebaran sampai di gang-gang sempit ibukota, Kerempeng berhasil memanfaatkannya dengan cerdas dalam mejalankan roda usaha gerobak sayurnya.
Pikiran saya semakin mengawang-awang. Bagaimana kalau nanti Jerk-O-Meter sudah dapat didownload dengan mudah dan murah? Pastilah negosiasi harga antara Kerempeng dan ibu-ibu langganan sayurnya semakin seru.
Jerk-O-Meter adalah sebuah alat yang dapat menganalisis pola dan nada bicara seseorang. (Kompas, 5 September 2005). Alat ini sedang dikembangkan oleh sekelompok peneliti pimpinan Anmol Madan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat sudah hampir merampungkan pengembangan perangkat lunak untuk ponsel yang dapat menganalisa pola dan nada bicara seseorang. Alat ini rencananya akan diperjualbelikan lewat internet. Mereka yang tertarik dapat tinggal men-download- saja.
Kerempeng harus main internet? Kenapa tidak? Jaman sekarang email sudah masuk ke pelosok desa. Agak melenceng dari topik, saya teringat kisah yang saya baca di forward-an email seorang teman. Isinya begini:
Tukijo , tukang kayu dari daerah pegunungan Wonosobo suatu hari dapet kerjaan bikin meubel di hotel di Yogjakarta. Dia berangkat duluan dianter bininya Tugiyem ke stasion bis, dengan janji besoknya bininya bakal nyusul. Sesampainya di Yogya dia lantas segera kirim email sama bininya.
Di Wonosobo, Rugiyem seorang istri yang sedang berduka baru saja mengantarkan jenazah suaminya Paijo kepemakaman. Selesai dari pemakaman dia langsung pulang kerumah, lantas dia buru buru buka e-mail, untuk cek berita berita dari sanak keluarga.
Begitu dia buka email, dia menjerit lalu pingsan...... Anaknya heran, lalu ikut baca emailnya, lalu ikut menjerit...
Sebenarnya, pangkalnya itu si Tukijo salah pijit tombol, kirim email ke bininya mustinya
Alamat email ini di proteksi dari spam, Anda butuh JavaScript untuk melihatnya
jadinya
Alamat email ini di proteksi dari spam, Anda butuh JavaScript untuk melihatnya
Maklum jarinya tukang kayu segede jempol, T dengan R kan dempetan.
Mau tahu isinya yang bikin keluarga Rugiyem histeris?
'Yem isteriku tercinta, Terimakasih banget yo, udah nganterkan aku tadi pagi, Aku sudah sampai dengan selamat, disini diterima baik baik. Aku senang sekali karena banyak teman lama yang sudah duluan sampai. Katanya kamu akan nyusul besok, namamu sudah aku daftarkan disini, aku tunggu yaa supaya kita berdua bersama disini oh, ya ternyata disini lumayan panasnya.
salam kangen, suamimu 'Ijo.
Jokes aside, kisah tadi memperlihatkan betapa setiap hari teknologi melakukan penetrasi dalam kehidupan manusia. Teknologi yang dibilang canggih, selalu baru dalam hitungan menit, menggantikan teknologi canggih sebelumnya dan memelorotkan harganya. Bukan tidak mungkin tukang-tukang yang mencari nafkah di jalanan sekarang berponsel dan berinternet ria.
“Hah..masak segitu?”
“Iya bu, harga-harga memang naik sekarang.”
“Gak mau ah. Jangan segitu dong Peng!”, suara seorang ibu agak kesal.
Sebentar kemudian terdengar suara lain yang agak cempreng dari Jerk-O-Meter “Don’t be a jerk!”
“Ya udah Bu, nih saya tambahin deh cabenya,” Kerempeng menjawab tulus.
“Nah, gitu dong Peng.”
“Wow, you’re a smooth talker!” Lagi-lagi suara alat cempreng itu “nyaut”…
"Aah..cerewet banget nih alat. Gue hapus juga deh," pikir Kerempeng kesal sambil memencet tombol delete di ponselnya...Tuit..Beres.
Paragraf terakhir tadi bayangan saya saja, saat ponsel si Kerempeng sudah menggunakan Jerk-O-Meter. Andai-andai untuk beberapa tahun ke depan, saat Indonesia sudah melewati masa bersusah-susah dahulu ini.
Masa dimana teknologipun tak kuasa berhadapan dengan policy. Simak saja kata AA Gym: Saudaraku jangan khawatir BBM naik. Kenaikan atau bahkan kelangkaan bensin bisa diatasi oleh SBY-JK (Susah Bensin Ya Jalan Kaki). (@Wehaz)
Foto: Michael Mardosa |