We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Rumah Tangga arrow Pernikahan Dini
Pernikahan Dini E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Rabu, 28 September 2005

Orangtua mana yang tidak ingin dekat dengan anak-anaknya? Menjadi tempat curahan hati anak, dapat memahami dan mengerti anak. Tetapi ternyata tidak semua orangtua dapat merasakan hal tersebut dikarenakan perbedaan usia yang terlalu jauh dengan anak-anaknya.

“Aku tidak dapat mencurahkan isi hatiku kepada orangtuaku. Mereka terlalu tua untuk mengerti diriku. Usiaku baru 20 tahun sedangkan mereka telah berusia 60 tahun. Aku suka musik metal, mereka suka musik keroncong. Belum lagi masalah komputer, pergaulan, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), yang sulit mereka pahami. Bosan! Setiap hari bertengkar dengan Bapakku,” keluh seorang anak laki-laki kepada temannya.

Ternyata gap generasi antara orangtua dan anak membuat mereka sering berselisih. Orangtuanya menikah pada usia diatas 30 tahun. Untuk itulah demi menghindari kesenjangan usia antara orangtua dan anak, membuat sebagian orang menjalani pernikahan dini. Walaupun terkadang ada pendapat  pernikahan dini dapat membuat wanita  merasa belum  puas  menjalanin masa mudanya. 

“Mamaku nikah usianya 19 tahun, lalu punya anak pada usia 20 tahun. Sekarang anak-anaknya sudah pada menikah. Mama masih sehat dan bisa mengerti anak-anaknya,” ungkap seorang anak tentang orangtuanya.

”Memang sekarang ini terasa lebih banyak enaknya, dengan anakku yang menjelang gadis 13 tahun. Aku belum malu untuk mengikuti pergaulan anakku. Dan teman-temannya tidak  protes saat aku ikutan ngerupi dengan mereka,” cerita seorang mom yang menikah di usia 23 tahun.

"Yang serunya dengan guru-guru anakku, mereka sering salah duga. Mereka sering berpikir aku adalah kakak anakku. Tahun lalu, anakku baru masuk SMP. Saat itu adalah rapat orangtua murid yang pertama kali. Ada guru pembina OSIS setelah selesai rapat, beliau meminta aku agar menyampaikan hasil rapat ke orang tua di rumah. Tentu saja aku tidak bias menahan tawaku,” lanjutnya berkisah.

Lain cerita datang dari  mom  yang menikah diusia 21 tahun. “Waktu aku berusia 22 tahun, aku sudah punya anak .  Saat itu terasa sekali repotnya mengurus  bayi sendirian. Apalagi aku "mantan anak gaul" yang dulu tahunya hanya clubbing, shopping, kumpul-kumpul  dengan  temen-teman, lalu  punya bayi,” ungkapnya, mulai bercerita.

”Tetapi mom, sekarang disaat usia aku 30 tahun dan anakku sudah  menjelang 9 tahun, hubungan kami asik sekali. Aku mencoba masuk sebagai mama, kakak, temen sekaligus temen gulatnya, Jadi saat dia memerlukan aku sebagai sosok mama yang penuh kasih sayang dan bias melindungi dia,aku siap. Saat  dia butuh aku sebagai sosok kakak untuk membimbing dan mengajak bermain, aku siap. Kalau dia butuh aku sebagai sosok teman yang bisa diajak berdiskusi, berdebat dan gila-gilaan, aku juga sudah biasa. Dan kalau dia butuh aku sebagai sosok teman gulat, main dikamar, timpuk-timpukan  bantal dll, aku juga bisa.  Ya sedapat mungkin aku jadi sosok yang dibutuhkan anakku  dalam segala hal.

Anakku  sekarang sudah kelas 4, sudah punya adik umur 2 tahun 8 bulan. Terkadang keluar sosok dewasanya yang bisa mengesalkan sekali saat diajak berdiskusi. Ujung-ujungnya debat.  Untungnya dia sportif, jadi kalau kalah debat sama aku, dia juga asik-asik saja. Aku mengalahkan dia bukan karena tidak ingin membuat  dia seneng. Tetapi kalau memang dia salah,  dia harus tahu bahwa dia salah. Bahwa selalu ada hitam-putih, benar- salah, enak- tidak enak dalam segala hal di dunia ini. Jadi dia tidak akan tumbuh jadi anak yang sok tahu atau sombong.

Tetapi kalau lagi keluar manjanya, mulai dari mandi, makan, semua minta aku yang melakukan. Minta dipeluk-peluk juga yang membuatku bersyukur, dia  masih ingin.  Karena  anak temen aku yang seumuran dia sudah malu kalau dipeluk-peluk mamanya.

Itu adalah contoh dari wanita yang  setelah menikah dan  dapat segera dikarunikan anak. Tetapi bagaimana jika walaupun menikah pada usia muda tetapi tidak dapat langsung memiliki keturunan, karena semua itu diatur oleh-Nya.

“Aku pun sebenarnya ingin sekali nikah muda. Aku seneng melihat  anak dan mamanya yang akrab karena perselisihan umurnya tidak terlalu jauh. Seperti adik-kakak, kompak selalu. Anak jadi selalu curhat ke mamanya. Tetapi semuanya sudah diatur oleh-Nya. Jadi meskipun aku nikahnya mur 24, tetapi baru dikaruniakan anak saat umur 27 tahun,” komentar seorang Ibu

“Aku juga termasuk ikut dalam pernikahan dini. Usiaku  waktu menikah 21 tahun. Tetapi  Allah S.W.T.  berkehendak lain,  aku punya anak diusia hampir 27 tahun. Saat itu niatku  sama seperti wanita  yang lain.  Agar saat  anak  sudah besar aku masih tetap  funky,”  cerita seorang Ibu lainnya.

Menikah diusia muda tentulah tidak semua orang dapat merasakannya. Bahkan walaupun sudah direncanakan oleh seorang wanita tetapi hal itu tidak terjadi. Apakah hal tersebut membuat wanita menyesal?

“Dulu saya juga ingin  menikah muda, agar  gap umur dengan  anak tidak begitu jauh. Tetapi rencana Tuhan yang manis, menakdirkan saya baru menikah pada umur 27 tahun. Mungkin paling cepat punya anak umur 29 tahun. Tetapi saya  sama sekali tidak  menyesal, karena  masa-masa kuliah, kerja sampai sebelum menikah benar-benar mengasikkan  dan menyenangkan. Banyak main dan banyak gaul, yang terkadang saat ini saya merasa kangen dengan masa-masa tersebut. Sekarang saya tidak  bisa seperti itu lagi. Apalagi sobat-sobat saya semua jauh dimata,” pengakuan seorang Mom.

Masa-masa bermain,  sekolah memang menyenangkan dan terkadang hal ini membuat wanita takut akan pernikahan dini.

Seperti tanggapan dari seorang Mom, “Dari dulu  aku memang tidak ingin nikah diusia muda. Aku ingin puas bermain and bergaul dahulu. Akhirnya di umur 26  tahun "nyerah" juga. Aku punya anak  umur 28 tahun. Aku nikmati saja. Aku tidak khawatir adanya  kesenjangan umur dengan anak.”

Hal ini ditambahkan pula oleh Mom yang lain,” Aku bukan pernikahan dini. Kelamaan main, sekolah dan keenakan jadi anak bungsu.  Menikah usia 29 tahun, punya anak usia t 30 tahun.  Asik tidak ? Jika disuruh  kembali ke masa lalu, ingin juga punya anak  pada usia muda tetapi juga tidak ingin kehilangan kesenangan-kesenanganku pada usia 21 tahun sampai  28 tahun itu.”

Jika Anda menikah dini tidak perlu disesali, bersyukurlah disaat yang lain masih sibuk dengan urusan popok dan urusan anak susah makan, Anda sudah terbebas.  Keberanian Anda mengambil langkah dengan kesipann mental, di saat yang lain masih senang-senang merupakan hal yang patut disyukuri.

Lalu bagaimana mengatasi kesenjangan usia antara orangtua dan anak? Tidak perlu khawatir.

Seorang Mom menceritakan pengalamannya. “Yang penting bukan usia saat kita punya anak yang menentuin hubungan antara kita dan anak, tetapi karena anak belum pernah jadi seusia kita sedangkan kita pernah jadi seusia dengan  dia, kita yang harus mengalah dan berusaha mencari tahu sebanyak-banyaknya apa yang jadi trend diluar sekarang. Agar kita dapat mengerti apa yang dibicarkan oleh anak kita.   Dulu waktu anakku umur 6 tahun, dia tergila-gila dengan  pokemon. Aku berusaha menghafal nama tokoh-tokoh pokemon dari dia belum berevolusi, sampai setelah dia berevolusi. Dan waktu aku menemenin anakku bermain,dia seneng sekali saat tahu aku hafal beberapa dari nama pokemon tersebut.  Dia bilang dia bangga, karena nya mamanya sahabat dia saja tidak hafal, jadi tidak bisa ikutan main dengan anaknya. Jadi sebagai orangtua  memang harus terus belajar, agar  bisa klop dengan anak. Kita semestinya  minimal tahu sedikit-sedikit  lagu apa yang lagi mereka suka, film apa yang lagi mereka suka, dan lain-lain. Dengan demikian “nyambung” dengan anak-anak.

Yang diikuti dengan komentar lainnya. “Kita harus tetap mengusahakan agar kita bisa dekat dengan anak-anak kita , untuk itu sebagai ibu kita tidak terlalu  kaku. Saat mereka remaja tetap bisa "funky" seperti anak-anak kita agar tetap bisa masuk ke dunia mereka, walaupun tetap punya moral dan aturan sesuai agama kita. “

“Saya punya temen di sini  (USA) seorang  dosen, yang sudah punya cucu 2. Tetapi memang banyak bergaul dengan  mahasiswa, jadinya spiritnya tetep 'muda'. Kita yang muda-muda jadinya santai saja kalau sama beliau, tidak segan karena jauh lebih tua. Seperti ke temen sendiri yang umurnya cuma 'sedikit' lebih tua. Bahkan mahasiswa - mahasiswanya juga yang umur 18an tahun, dekat sama beliau. Suka mencurahkan isi hatinya.

“Jiwa muda dari dalam diri, dari pikiran kita. Yang penting sebagai orangtua, berapapun usia kita, usahakan tetap update dengan  kehidupan anak-anak. Jadi walaupun secara fisik sudah berbeda tetapi secara hati dan pikiran kita tetap bisa "funky”

“Asal didalam hati kita tulus menjalankan semuanya dan easy going dalam menghadapi segala masalah, pasti awet muda” (MD/WRM)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement