|
Apa yang moms bayangkan saat di perjalanan pulang ke rumah ?. Idealnya, moms menemukan si kecil dalam keadaan bersih dan bertingkah manis serta keadaan rumah yang rapih terkendali kan?. Nah, bila ternyata yang dijumpai si kecil dengan tingkahnya yang membuat pusing, ditambah dengan keadaan rumah yang tidak seperti moms harapkan, kira kira apa yang akan moms lakukan? Berperilaku manis dengan menganggap tak terjadi apa apa ataukah marah secara wajar untuk pelampiasan kekesalan yang telah menumpuk ?. Demikianlah kurang lebihnya kondisi yang mom ini alami. Kemarahan yang dirasa sudah ditebus dengan permintaan maaf dan kasih sayang ternyata masih saja berbekas di hati si kecil. "Apa kita sebagai ibu tidak boleh marah-marah, meski magma di dalam diri ini sudah begitu meletup? belum lagi di luar diri kita banyak hal memicu kemarahan" pertanyaan ini beliau ajukan di milist We R Mommies beberapa waktu lalu.
Diskusi yang berjalan cukup mengasyikkan. Adanya toleransi atau tidak dalam kasus marahnya seorang ibu membawa para moms mengemukakan argumen, opini dan pengalamannya. Berikut hal hal yang dapat dicatat dari jalannya tukar pendapat yang ada.
1. Marah ataupun marah marah (baca: "mengomel") adalah satu emosi yang wajar dan alami, namun sedapat mungkin lakukan seminimal mungkin plus tanpa memaki atau memukul.
2. Bedakan kemarahan kita, adakah manfaat yang mengikutinya. Marah-marah terhadap anak usia 1 tahun yang sedang senang-senangnya membuang-buang minumannya ke mana-mana, pasti kurang berguna. Namun memarahi anak usia 4 tahun yang mainan gunting dan menggunting rambut adiknya, adalah hal yang perlu dilakukan.
3. Sesekali berbicara dengan nada keras kadang dibutuhkan agar anak mengetahui "batas" yang ada. Dengan hal ini, anak akan mengetahui kesalahan yang diperbuat dan mengerti mengapa tindakan mereka tidak tepat. Moms harus dapat membuat si anak mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam bahasa yg dapat dimengerti mereka.
4. Sedapat mungkin, hindari pelampiasan kemarahan pada anak walau emosi sedang memuncak. Terlebih bila penyebab kemarahan berasal dari hal yang lain.
5. Lampiaskan kemarahan di tempat yang tepat. Cari teman bicara yang bersedia menampung kekesalan dan keluh kesah yang telah "memenuhi kepala". Kadang moms hanya memerlukan teman bicara yang netral agar kemarahan yang ada padam.
6. Jauhkan anak dari moms sejenak agar keinginan untuk menyentuh secara fisik dapat dihindari.
7. Penguasaan teknik pengolahan kata kata dengan "tekanan" marah adalah alternatif yang amat baik dan efektif agar anak mengetahui moms sedang marah dan ia berbuat kesalahan, tanpa sang anak harus ketakutan bila dibentak atau disakiti.
8. Bila kejadian "membentak" terlanjur terjadi, sedapat mungkin dekati si anak dengan cara yang menyenangkan hingga permintaan maaf moms dijawab dengan senyuman tulus darinya.
9. Setelah kejadian "mengomel" usai dan sang anak tetap memberikan respon kata kata yang membuat moms sedih semisal "Mama, you're mean!", "Mama, you're not nice" atau yang paling menyakitkan "I hate you", maka moms harus "kebal" dengan kata kata tersebut. Yakinkan diri bahwa moms pun marah bukan tak berdasar dan tanpa tujuan.
10. Sesekali anak harus menyadari bahwa bila orang tuanya marah, bisa jadi karena mereka takut terhadap bahaya yang bisa dihadapi anak-anaknya karena kekonyolan mereka sendiri.
11. Bila memungkinkan, ajarkan anak untuk mengingatkan moms dengan cara yang menyenangkan saat "muka cemberut" kita muncul. "Ibu senyum dong, nanti nggak cantik lagi lho" adalah salah satu good reminder yang dapat memotivasi moms mengatur kemarahan. (DaI/WRM)
|