|
“Anakku kok masih ngompol ya?” Keluh Rini, seorang ibu muda berputra satu usia 2 tahun. “Susi, anakmu kok masih pakai popok? Sudah dua tahun lho usianya. Kalo kelamaan pakai popok nanti susah buat ngajarin pipis di WC”. Seru Sari, wanita separuh baya kepada manantunya Susi. Mendengar perkataan mertuanya Susi hanya bisa diam. Susi bukan tidak pernah mencoba melatih anaknya untuk pipis di WC, namun belum juga menampakkan hasilnya.
Kita mungkin sering sekali mendengar ungkapan-ungkapan senada. Terutama bagi para ibu muda saat ini, dimana popok kertas sekali pakai telah menjadi sebuah alternatif untuk mengatasi masalah ngompol bagi putra - putrinya. Sedangkan para orangtua dahulu, berdasarkan pengalamnnya, seringkali menyatakan bahwa cucunya seharusnya dilatih pipis di WC/toilet sejak dini, bahkan sejak bayi sekalipun. Kemudahan dengan menggunakan popok sekali pakai, membuat dilema bagi para ibu muda. Mereka khawatir terlambat dalam melatih anaknya untuk pipis di tempatnya, khawatir sensasi terhadap keinginan buang air kecil terganggu akibat penggunaan popok dan sebagainya. Benarkah lebih baik sedini mungkin dilakukan toilet training pada anak? Kapankah waktu yang tepat untuk melatih hal tersebut pada anak?.
Pada situs http://pigeon.info/kosodate/shukan/toire.htm, tim dokter yang mengasuh rubrik konsultasi menyatakan apa sebenarnya tujuan akhir dari toilet training pada anak. Mereka menjelaskan bahwa salah satu syarat untuk memulai toilet training pada anak adalah adanya kesiapan anak baik secara mental maupun perkembangan fisik tubuhnya, berupa kemauan menahan pipis dan merasakan sensasi keluarnya air kemih.Di situs itu disebutkan bahwa tujuan akhir toilet training adalah anak mengerti sensasi keluarnya pipis dan kotoran, dapat pergi ke toilet dan menahan buang air sampai membuka celana dalam.
Tetapi, meskipun latihan dimulai dini, tidak berarti dapat cepat terbebas dari popok atau ngompol di celana. Untuk sampai ke sana, erat kaitannya dengan sistem syaraf, perkembangan fungsi pembuangan bayi , termasuk perkembangan secara umum sang bayi.
Pernyataan ini diperkuat oleh seorang doktor ahli pengasuhan anak di Jepang, Goono Koono. Pengeluaran air kemih berhubungan dnegan perkebangan organ kandung kemih dan sistim persyarafannya. Seperti yang kita ketahui bahwa air kencing diproduksi oleh ginjal dan ditampung oleh kandung kemih. Kandung kemih pada bayi sangatlah kecil., hingga daya tampungnya pun sangat sedikit. Ini menyebabkan air kemih bayi akan keluar dengan sendirinya tanpa sadar,berupa ngompol. Air kemih keluar berupa reflek.
Sebenarya pengeluaran isi kandung kemih adalah sebuah kerja otak, ada rangsang/stimulasi- pengiriman sinyal- perintah. Ketika kandung kemih penuh, maka ada sinyal ke otak yang memberitahu bahwa kandung kemih telah penuh. Dan otak akan mengirmkan perintah untuk mengeluarkan kandung kemih alias buang air. Perkembangan otak ini sejalan dengan pertumbuhan anak, hingga toilet training sangat berhubungan dengan kesiapan perkembangan otak anak, dalma hal ini control untuk menahan pipis dan mengluarkan isi kandung kemih. Kesiapan dari segi fisik, sekitar usia 1 tahun, anak dapat mengerti sensasi penuhnya kandung kemih, tetapi sistem syarafnya belum berkembang atau belum bisa menahan buang air secara sadar.Saat usia 1,5 tahun, jarak pipisnya jadi sekitar 2 jam, ia semakin memahami kata-kata orang, sehingga persyaratan untuk mengajarkan bahwa pipis harus di toilet' telah terpenuhi.
Jika sampai usia ini, boleh memulai latihan sedikit demi sedikit.' Setelah mengalami proses menahan kencing dan rasa lega ketika mengeluarkannya di toilet, anak akhirnya mengerti hubungan sebab akibat bahwa 'kalau ingin pipis harus pergi ke toilet'" (http://pigeon.info/soudan/index.cgi)
Sedangkan dari segi mental kesiapan anak untuk memulai toilet training bsia dilihat dari bebrapa hal sebagai berikut:
- Dapat meniru tingkah laku Anda, termasuk kebiasaan Anda di kamar mandi dan memakai celana dalam
- Telah mulai meletakkan barang-barang di tempatnya dan tertarik merapikan dunia di sekitarnya
- Menunjukkan kemandirian dengan menunjukkan tanda ingin mengendalikan dirinya sendiri dibandingkan dikendalikan (misalnya dengan mengatakan: 'tidak')
- Dapat menunjukkan minat pada latihan toilet dan suka mengikuti Anda ke kamar mandi
- Aktivitas lambung (buang air)nya dapat diperkirakan
- Dapat menarik/turunkan celananya.
Uraiaan di atas menunjukkan bahwa toilet training bukan dilakukan seawal/sedini mungkin, tapi dilakukan pada saat anak sesiap mungkin. Hal ini akan mempengaruhi panjang pendeknya waktu yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan toilet training. Semakin siap anak, maka waktu yang dibutuhkan semakin pendek.
Beberapa kebiasaan di masyarakat kita, anak diajarkan untuk pipis di toilet sejak usia bayi (6-8 bulan), dengan patokan sejak bayi bisa duduk sendiri. Bila tujuannya adalah agar anak bisa pipis sendiri di toilet, maka hal ini bisa dipandang sia-sia. Karena pada usia tersebut, toh anak belum mampu menurunkan popok/celananya sendiri, selain dia pun tidak bisa berjalan sendiri menuju toilet. Rutinitas berupa mengajak bayi untuk pipis dalam waktu-waktu tertentu sekedar membentuk suatu kebiasaan berdasarkan waktu, belum bisa mencapai tujuan toilet training, yaitu agar anak mampu menahan pipis dan mandiri untuk pipis di tempatnya.
Faktor lain yang mendukung keberhasilan toilet training pada anak, adalah perilaku orang tua dalam mengajarkan toilet training. Orang tua hendaknya tidak perlu panik atau pun terburu-buru dalam mengajarkan anak toilet training. Setiap anak mempunyai kesiapan yang berbeda-beda. Rentang waktu yang normal untuk memulai toilet training yaitu antara 15 bulan dan berhasil hingga rentang usia 4 tahun awal. Jadi tak perlu merasa gagal bila dalam proses toilet training di usianya 2 tahun, anak masih seringkali ngompol atau kebobolan. Teruslah lakukan latihan namun tidak memaksa. Usahakan anak selalu dalam kondisi senang dalam melakukan toilet trining. Sebagai orang tua tidak perlu membandingkan-bandingkan antara kessapan anak dan keberhasilannya dalam toilet trining dengan hasil anak yang lain. Setiap anak adalah unik dengan segala pertumbuhan dan perkembangannya sendiri.
Pujilah selalu setiap keberhasilan yang dicapai anak atau pun usaha yang telah dilakukan anak selama proses ini berlangsung. Ketika anak kembali mengompol setelah beberapa saat menujukkan keberhasilannya dalam menahan pipis, tidak perlu membentak atau memarahinya, atau mengolok-ngoloknya terutama di depan orang lain. Ini tentu saja akan melukai hati anak. Tahan segala ucapan kekesalan kita, bersihkan ompolnya, bawa segera anak ke kamar mandi bersihkan dan ganti celananya dengan yang baru. Katakanlah dengan lembut bahwa anak harus kembali mengingat untuk tidak lupa segera pipis bila telah dirasa ada sensasi. Beberapa anak biasanya lupa untuk segera ke toilet bila sedang asyik bermain.
Dari uraian di atas bisa diambil beberapa tips dalam melakukan toilet training pada anak.
1. Tunggu sampai anak siap, yaitu dengan tanda-tanda sebagai berikut:
- Anak sudah bisa berjalan sendiri.
- Jarak antara pipisnya lebih dari 2 jam.
- Anak bisa memberitahukan bahwa ia buang air.
- Anak bisa menurunkan celana/popoknya sendiri.
Pada umumnya orang tua bisa memulai ketika usia anak berumur 15 bulan sampai 2 tahun. Perhatikan apakah kira-kira ia sudah bisa merasakan sensasi keluarnya pipis. Ada anak yang menunjukkannya dengan terdiam sejenak ketika sedang bermain, atau pergi ke balik meja lalu buang air, ada yang wajahnya jadi merah, atau anak menunjuk-nunjuk popoknya yang sudah basah. 2. Perkenalkan dengan istilah-istilah terkait. Langkah selanjutnya, masukkan kosa kata yang berhubungan dengan latihan toilet ke dalam memori anak, seperti basah, pipis,ee ,dan sebagainya. Ketika Anda mengganti popok/celananya, katakan, popokmu basah kena pipis. Mari kita ganti.. Ajak anak melihat ketika Anda membuang kotorannya dari popok kertas ke lobang toilet. Kalau Anda mau, ajaklah anak menemani ketika Anda buang air di toilet. Jelaskan aktivitas di toilet dengan kata-kata sederhana. 3.Biasakan anak dengan toilet. Berikutnya, upayakan agar anak terbiasa duduk di bangku toilet. Anak-anak biasanya takut jatuh tertelanlubang duduk toilet yang besar. Anak-anak juga takut jika kaki mereka tergantung di awang-awang tanpa pijakan. Maka gunakanlah dudukan toilet untuk anak-anak yang bisa dipasang di atas toilet. Untuk pijakan kaki anak, Anda bisa membuat sendiri dari kardus atau kotak susu, atau membeli pijakan kaki khusus. Ajak anak ke toilet segera setelah bangun tidur atau 20 menit setelah minum. Tetapi hindarkan waktu-waktu perasaaannya sedang tidak senang. Dudukkan ia selama 2-3 menit saja. Jangan sampai ia bosan atau benci dengan toilet. Bawa serta boneka atau mainannya. Usahakan agar anak senang. Ajak ia bercakap-cakap. Sebaliknya jika Anda diam saja, anak akan melihat aktivitas itu sebagai tuntutan.
4. Sanjung setinggi langit Jika anak tidak buang air setelah duduk, segera angkat dari toilet. Jangan ribut-ribut dan coba lagi lain kali. Tetapi jika anak berhasil buang air, pujilah ia setinggi langit. Bertepuk tanganlah, tertawalah, puji-puji sampai anak malu sendiri. Dengan demikian anak akan senang, percaya diri dan berusaha pergi ke toilet jika ia hendak buang air.
Selamat berjuang dalam mengajarkan anak toilet trining, ingat kita tak perlu stress ataupun terburu-buru, santai dan nikmatilah masa-masa menyenangkan bersama buah hati kita.
(Tulisan ini pertama kali disusun oleh Andini staff PPA Fahima Jepang, kemudian atas ijinnya, disadur dan diedit ulang oleh Hermin Wicaksono) |