We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2010 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Anak Kecanduan TV, Apa Obatnya?
Anak Kecanduan TV, Apa Obatnya? E-mail
Pengirim: Agnes Tri Harjaningrum   
Kamis, 08 September 2005

Jujur saja, menjadi Full Time Mother tanpa pembantu dengan dua anak masih kecil memang cukup melelahkan dan menyita waktu. Kadang, aku hampir tak punya waktu untuk diriku sendiri. Ketika mereka sedang nonton TV, seringkali aku bergumam sendiri "Asyiiik! Anak-anak nonton TV, aku bisa melepaskan' diri dari mereka" Hmm, jahat ya tampaknya, tapi, itulah kenyataannya. Semua teori tentang parenting dan kesadaran betapa berharganya seorang anak lenyap seketika dari benak saat itu.

Aku sempat terlena. Komputer dengan internet yang menciptakan hidup serasa lebih hidup' membuatku kecanduan dan anak-anak 'terlantar'. Saking berasyik-masyuk nya aku dengan dunia maya, kadang aku biarkan saja mereka berjam-jam setia berada di depan tabung kaca. Bahkan sesekali mereka kubiarkan menonton dari pagi sampai sore. Acara sekolah di rumah yang sudah kurancang bagi putraku pun sering batal jadinya.

Secara teori, aku paham benar tentang bahaya TV. Aku pun sempat berhasil menjauhkan mereka dari TV. Tapi ternyata untuk menjadi orangtua yang konsisten memang sulit sekali. Apalagi dengan kondisiku yang mungkin saat itu masih mengalami culture shocked akibat kepindahanku ke negeri tulip ini.

Aku sangat bersyukur, karena doaku--untuk dibimbingNya menjadi orangtua sesuai kehendakNya--barangkali didengarNya. Ternyata Allah masih mau memberi lagi kesadaran itu. Suatu ketika aku tersentak membaca sebuah posting artikel dari WRMom. Uraian Mohammad Fauzil Adhim dalam artikelnya yang berjudul 'Memenjarakan Anak dengan Kebebasan' membuatku menangis. Hatiku seolah mendapat pencerahan lagi. Aku kirim artikel itu pada suamiku dan aku minta pendapatnya. Aku diskusikan pula hal ini dengan teman baikku. Semuanya membuat pikiran dan hatiku semakin terbuka. Akhirnya aku dan suamiku sepakat untuk menjadikan masalah ini sebagai prioritas.

Aku harus rela untuk menjauhkan diriku dari dunia maya ketika sedang bersama anak-anak. Terutama putraku, karena biasanya putriku sekolah sampai jam 15.00. Memang sulit sekali, bahkan hingga kini. Namun barangkali benar adanya bahwa pengorbanan memang tak pernah sia-sia. Hampir satu bulan lamanya aku menjauhi komputer di siang hari. Kami membuat aturan teramat ketat untuk hal ini. Putri dan putraku hanya boleh menonton TV atau bermain komputer selama dua jam sehari. Mereka boleh memilih: 1 jam bermain komputer ditambah 1 jam menonton TV, 2 jam untuk menontonTV atau sebaliknya 2 jam bermain komputer . Acaranya pun mereka boleh pilih sesuai kesukaan mereka. Putriku tentu saja memilih menonton 'Winx' di sore hari. Putraku biasanya aku beri pilihan menonton film 'Blues Cues' atau Dora, yang lebih banyak memiliki unsur edukatif dibanding film-film lainnya.

Alhamdulillah, akhirnya kini mereka dapat menjauhi TV. Putraku yang dahulu selalu protes bila diminta untuk mematikan TV, sekarang setelah film Dora usai selalu mematikan TV sendiri tanpa diminta. Demikian juga putriku, setiap selesai menonton Winx, dia pun langsung mematikan TV. Ya walaupun sesekali masih perlu diingatkan, tapi bagi kami, ini adalah sebuah perubahan yang sangat bermakna.

Ternyata obat nya mudah: membuat kesepakatan bersama dan konsisten untuk selalu mengingatkan kesepakatan tersebut. O ya, tentu saja orangtua juga tak boleh menjadi pecandu TV. Untungnya aku dan suamiku memang tak suka menonton TV. Dan obat yang menurutku paling sulit adalah saat harus rela menemani mereka beraktivitas pengganti menonton TV. Tapi demi masa depan anak, sesulit apapun bila disertai niat yang kuat, pasti terasa akan lebih mudah.

Alhasil, 'bye-bye' komputer buat bunda. Komputer hanya 'available' satu jam saat putraku menonton TV di pagi hari, dan disaat ia tidur siang. Di sore hari, setelah putriku datang, waktuku sebetulnya lebih luang. Sejak terbiasa dengan kondisi minim TV mereka bisa bermain apa saja berdua tanpa mengganggu aku lagi. Tapi tetap saja sore hari tak bisa kugunakan untuk bercumbu dengan kompi. Lha masaknya kapan? Kalau pekerjaan sedang menggunung, acara masak ini yang sering aku utak-atik. Jadi, sore hari tetap bisa aku pergunakan, walaupun hanya sebentar. Sisanya tetap saja aku harus rela bergadang sampai pagi supaya bisa melanjutkan 'bermesraan' dengan komputer.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement