We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2010 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Ah..., White Lie
Ah..., White Lie E-mail
Pengirim: Mamiek Syamil   
Kamis, 08 September 2005

"Today, they dont sell the toys!" kata saya kepada anak-anak saat mereka merengek minta dibelikan mainan di mall. Anak-anak terdiam. Kemudian putri pertama saya bertanya ,"When they will sell the toys again?". Saya ragu, kemudian spontan saya jawab ,"I don't know...let's go!". Anak-anak mengikuti saya dengan manyun. Saya lega, setidaknya mereka berhenti merengek. Tapi pikiran saya berkecamuk. You did it again, bisik saya dalam hati.

Untuk kesekian kalinya saya berbohong pada anak-anak. "They dont sell the toys", kalimat itu tercetus begitu saja di otak saya, seolah merupakan jalan pintas yang jitu untuk menghentikan rengekan yang menyebalkan. Sebenarnya saya punya pilihan lain agar tidak perlu berbohong. Misal dengan mengatakan bahwa bulan ini mereka telah kami belikan banyak mainan. Atau hari ini bukan waktunya untuk membeli mainan. Tetapi namanya anak-anak, mana bisa diberi penjelasan seperti itu, apalagi toko mainan sudah di depan mata. Pengalaman saya menunjukkan bahwa memberi penjelasan panjang lebar dalam situasi seperti itu hanya menimbulkan medan perang baru. Dan mereka akan menangis dengan cara yang memalukan.

Baru-baru ini saya membaca di suatu majalah tentang white lie ini. Betapa sering orang tua berbohong kepada anaknya demi untuk menghindari rengekan yang menyebalkan, seperti:"The candies are gone", "Tokonya mau tutup!", "The TV is broken", "We don't have money" (hey...they sound familiar, don't they? ). Kalau saja kita mau memikirkan lebih jauh, white lie ini biasanya dilakukan oleh orang tua tak lain karena orang tua terlalu takut (kalau tidak mau dibilang pengecut ) untuk menerima resiko jika mengatakan hal yang sebenarnya. Misal saat anak kita minta permen untuk yang kesekian kalinya di hari itu, maka mengatakan, "Tidak boleh makan permen lagi. Terlalu banyak makan permen akan merusak gigi" terlalu riskan. Anak-anak seolah tahu bahwa orang tua mereka punya benteng pertahanan yang lemah terhadap rengekan yang berulang-ulang, disertai tangisan yang menyebalkan. Sehingga dipilihlah alasan "permennya habis!", dengan demikian bola panas tidak lagi berada di tangan orang tua. Bola panas itu telah dilempar kepada permen yang tidak mungkin direngekin oleh anak-anak.

Saat putri pertama saya usianya masih di bawah 5 tahun, white lie semacam itu masih "mempan". Tapi semakin dia beranjak besar, saya memilih untuk menghindari "tipuan" semacam itu. Pertama, karena logika dan pengetahuannya sudah mulai bekerja untuk curious terhadap segala sesuatu yang diluar nalar. Kedua, saya khawatir bahwa kredibilitas saya sebagai orang tua akan jatuh. Saya pernah melihat seorang ibu yang melakukan white lie kepada anaknya. Namun si ibu tidak sadar bahwa anaknya sudah cukup besar untuk mengetahui bahwa yang dikatakan si ibu tidak benar, sehingga si anak berkata ,"Ibu bohong!". Sungguh, bagi saya itu sebuah pukulan telak terhadap orang tua manakala sang anak sudah men-cap orang tuanya sebagai pembohong.

Meskipun white lie sering menjadi dewa penyelamat di saat-saat genting, namun para ahli perkembangan anak mengatakan bahwa sebaiknya anak-anak sesekali diberi pelajaran untuk mendengar kata penolakan "no", tanpa dibungkus kalimat tipuan. Jadi sesekali orang tua harus berani berkata ,"No more candies!", atau ,"We don't buy toys today" meskipun dengan resiko anak mereka akan bergulung-gulung di lantai mall (diiringi pandangan mata semua orang ).

Mungkin kalimat semacam ,"Kalau tidak mau makan ayamnya akan mati", atau "Jangan ke sana, ada setannya!" merupakan salah satu bentuk white lie juga. Saya sangat mengerti mengapa para orang tua memilih "tipuan" semacam itu (dan memang seringkali manjur). Menjelaskan kepada anak di bawah usia 5 tahun, apalagi yang 'picky'-nya luar biasa, bahwa, "Kalau tidak makan, badan akan lemas, mudah sakit. Kalau sakit maka tidak bisa main lagi, dst..." terlalu panjang dan bertele-tele. Buat anak-anak di usia tersebut mengkaitkan sebab-akibat antara tidak makan dan tidak bisa bermain adalah hal yang rumit. Ujung-ujungnya hanya akan memperpanjang kerewelan dan mengakibatkan kepala orang tuanya berdenyut-denyut.

Saya pun memiliki beberapa penyesalan sehubungan dengan white lie ini. Diantaranya saat melarang putri pertama saya mendekati segala macam serangga. Saya pikir dari pada menjelaskan satu persatu mana serangga yang boleh didekati atau dipegang dan mana yang tidak, lebih baik saya generalisasi ,"Stay away from the bugs! They're dangerous". Akibatnya kini setiap kali dia melihat serangga, lengkingannya membuat jantung para tetangga ikutan rontok! Padahal hanya seekor lebah keciiil...(@MamiekSyamil)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz
Artikel Populer
Artikel Terbaru




Advertisement