We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Rangkuman Diskusi arrow Anak arrow Tips Sukses Jalani Masa Adaptasi di Play Group
Tips Sukses Jalani Masa Adaptasi di Play Group E-mail
Pengirim: We R Mommies   
Selasa, 30 Agustus 2005

Bila si kecil baru saja memasuki masa adaptasi di taman bermain/play group (PG), biasanya kejadian 'menangis', 'ngambek' akan mengawali hari hari awalnya. Namun apakah kerewelan ini terkait dengan orang tertentu yang menemani dirinya dalam menjalani masa adaptasi di PG?. Rangkaian pertanyaan ini disampaikan oleh seorang mom di milist We R Mommies saat menceritakan si kecilnya yang sering menangis saat harus memasuki kelas PG. Beliau menanyakan tips tips yang harus diperhatikan saat anak memasuki masa awal di PG.

Tanggapan pertama datang dari mom yang memiliki pengalaman serupa saat anak anaknya memasuki PG. " Dulu anak anak saya juga begitu. Saya kerja part time dan masuk sore, jadi sebenarnya saya dapat mendampingiya seharian, namun saya khawatir nantinya putri saya malah manja. Jadi, saya mendampinginya hanya satu minggu pertama, setelah itu ya diantar dan ditinggal" ujarnya. Memang nada protes pun muncul mengingat kawan kawan anaknya selalu didampingi oleh seseorang, entah ibu atau penggantinya. Namun saya tanamkan pada putra/i saya bahwa mereka akan aman berada di sekolah bersama guru dan teman temannya "bila ada sesuatu hal yang membuat mama harus segera datang, ibu guru pasti akan menelpon mama dan mama akan segera tiba" demikian penjelasan yang beliau berikan pada anak anaknya. Memang pada awalnya kemungkinan anak akan tidak begitu mengerti, namun dengan berjalannya waktu, pasti si kecil akan memahami. "Asal ibunya yang harus tega ya, toh itu untuk kebaikan mereka, agar mereka mandiri" tambah mom lain menambahkan.

" Mom, jangan terlalu khawatir. Hal tersebut biasa terjadi di minggu minggu pertama. Semua anakku juga mengalaminya. Namun berdasarkan pengalaman, sikap terbaik dan tertepat adalah tegas dan tega" ujar mom ini. Bila sang anak menangis terus, kita harus yakin bahwa satu saat si anak akan berhenti dengan sendirinya. Selain itu para pendidik di PG ataupun TK telah terlatih menghadapi kondisi demikian, karenanya kekhawatiran tak harus dimiliki " Yang membuat stress pada anak justru karena banyaknya orangtua dan mbak mbak yang ikut mengantar, jadi mereka merasa di tengah orang dewasa yang asing" tambahnya. Menurut beliau, bila seorang anak sudah berkumpul dengan sesama anak kecil yang lain serta memulai kegiatan, tangisnya akan berhenti. Beliaupun memberikan tips konkret yang dapat dijadikan pertimbangan:

1. Selalu bawa anak ke sekolah 15 menit sebelum jam masuk. Kondisikan sang anak dan ajak untuk mengenal lingkungan barunya: main ayunan, lari lari, memanjat dll agar energi dan emosinya terbebas.

2. Kenalkan ke ibu/bapak guru barunya dan katakan pada sang anak bahwa ibu/bapak guru itu juga menyayanginya seperti orangtuanya.

3. Begitu bel berbunyi, serahkan anak ke guru, biar ia ikut berbaris sendiri. Bila sang anak 'tengak-tengok', cukup berikan lambaian dari jarak jauh.

4. Setelah waktu pulang, biarkan sang anak bermain sebentar agar semakin 'betah'.

5. Bila si kecil melakukan aksi protes karena teman temannya yang lain ada yang mendampingi, besarkan hatinya dan katakan: " anak ibu kan berbeda karena pintar, jagoan, mandiri, pemberani, jadi sudah tidak perlu ditunggui" atau kalimat lain yang mengangkat rasa bangga akan dirinya.

6. Buat perjanjian dengan anak malam sebelumnya bahwa ' ibu hanya mengantar sampai pintu karena ibu sudah terlalu besar untuk sekolah disitu. Ibu tidak boleh ikut main disitu' hingga si anak setuju.

7. Hilangkan kesan seram dan jangan singgung masalah sekolah, belajar, kerja dll. Cukup gunakan kata 'bermain'semisal " di sana kakak bisa main lho".

8. Ajarkan anak untuk membuka kotak makan dan makan sendiri. Untuk bekalnya, jangan bekali anak dengan nasi yang perlu sendok namun makanan yang cukup dimakan dengan tangan seperti biskuit, kentang, buah atau sayuran.

9. Ajarkan anak melepas sepatunya sendiri, akan lebih baik bila sang anak sudah dapat mengatakan keinginannya, semisal bila ingin buang air besar atau kecil.

10. Usulkan pada pihak sekolah agar dua minggu pertama setelah PG/TK berjalan maka orang tua atau penunggu lain harus keluar dari kelas agar anak tidak tergantung secara emosional dan tidak pecah konsentrasi aktivitasnya saat berkegiatan.

11. Semakin tegas dan cepat kita dan pihak sekolah memandirikan anak dalam proses belajar di sekolah maka akan semakin baik hasil yang tercapai.

12. Biasakan sang anak mengenal situasi yang baru dan beradaptasi di dalamnya. Tekankan pula bahwa ia tak perlu takut pada situasi yang baru, terlebih bila ia berada dalam lingkungan yang aman. (DaI/WRM)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement