We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Renungan arrow Bercakap dengan Negeri
Bercakap dengan Negeri E-mail
Pengirim: Henny Herwina Hanif   
Rabu, 24 Agustus 2005

Subuh baru saja menyapa. Kulirik jendela yang terbuka dan hanya di tamengi jaring plastik penghalang serangga. Suasana khas musim panas di negeri sakura, negeri ninja, tempat aku, suami dan gadis kecilku tinggal untuk sementara. Ya, aku adalah seorang pelajar asing di negeri ini. Seringnya, kemanapun aku melangkah, siapapun yang aku temui, bahkan apapun yang aku lakukan, selalu berakhir dengan kata “Indonesia”.

Indonesiaku,
Sudikah kau mendengar cerita sederhanaku pagi ini? tiba-tiba aku ingin berbagi denganmu… Ketika pertama kali aku berkenalan dengan tetangga, masyarakat kampus, mengisi formulir di kantor pemerintahan dan sebagainya, dengan sadar aku katakan dan aku tuliskan dirimu: Indonesia. Sepintas mungkin tak ada yang istimewa dengan semua itu. Tapi bagiku, kau istimewa dan selalu dekat dengan hari- hariku, walau aku telah bertahun tahun jauh darimu.

Di laboratoriumku, Ekologi, Fakultas Sains, Universitas Kanazawa, setiap hari aku harus berjuang menjadi “anak baik” dalam segala hal. Bagaimana tidak, jika setiap perkataan dan tindak tandukku, bagi sebagian besar teman-temanku yang berkebangsaan Jepang, diartikan sebagai dirimu?

Ketika salah seorang diantara kami yang berasal dari Indonesia (saat ini 9 orang dari 30 anggota laboratorium) lupa mematikan lampu salah satu ruangan, namamu dibawa-bawa. Mereka dengan leluasa lalu berpendapat, Indonesia tak hemat energi. Ketika ada yang lupa mengunci pintu, mereka bilang, Indonesia tak hati-hati. Ketika bicara tentang lingkungan dan penghijauan, tanpa berfikir mereka mengatakan “Wah, orang Indonesia kan tak begitu peduli pada lingkungan yaa…”. Ketika kutanya alasannya berkata begitu, mereka lalu menghubungkannya dengan kebiasaan lupa mematikan lampu. “???...” Walaupun di dalam hati aku juga menyanyangkan perhatian yang belum begitu besar pada lingkungan di negeri sendiri, yang menimbulkan himbauan dan protes dari kanan kiri.

Ada yang lebih menarik. Seorang teman asal Indonesia yang duduk di sampingku ketika memakan bekal makan siangnya mendapat komentar begini: “Wah merah ya saus spagetinya…, Indonesia memang makanannya begini ya…merah, pedas dan diaduk-aduk…?” mata sipit teman yang asal Jepang hampir tak kelihatan karena ekspresinya berfikir. Saat itu, tak ada jalan lain bagiku, selain memberinya sedikit pidato tentangmu. Betapa Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa, aneka budaya, aneka makanan dan kebiasaan, Bhineka Tunggal Ika…bla bla… Tak tahan juga dengan kebiasaan mereka mengeneralisir segala perbuatan individu menjadi seolah perbuatan sebuah bangsa. “Kasihan Indonesia, tolong berfikir yang logis…”, kataku memporotes, bila ada kejadian serupa. Dari pengalaman-pengalaman itu, aku dan teman-teman menjadi sadar, apapun yang aku lakukan, kemanapun melangkah, kau juga selalu ikut bersamaku: Indonesia.

Tak sedikit pula yang memuji, terutama keindahan Bali atau Borobudur, lalu mereka akan bercerita tentang tempat rekreasi, makanan istimewa dan kunjungan berkali- kali. Setiap orang dengan pendapatnya sendiri. Tapi akhirnya tetap satu yang aku sadari, apa pun yang aku katakan dan lakukan, bagi bangsa lain, aku adalah merupakan perwakilan dari dirimu. Mereka melihat dirimu lewat aku dan jutaan manusia Indonesia lainnya di mancanegara.

Tanah airku,
Begitu juga saat bencana nasional menerpa tanah rencong, dengan berbekal pengetahuan dari dunia maya, aku dan teman-teman berusaha sebisanya menjadi wakilmu di lingkungan kecilku. Ketika ada yang ingin tahu, ketika kata-kata simpati berdatangan untukmu. Walau aku belum pernah menginjakkan kaki di bumi Aceh, namun dirimu membuatku merasa satu…, ikut larut dalam derita dan kedukaan…

Tumpah darahku,
Walau jauh, aku selalu mencari berita tentangmu dengan berbagai cara, ada televisi dan dunia maya. Ikut bersemangat dan berharap ketika pesta demokrasi dalam prosesnya. Ikut bersorak bersemangat ketika namamu diharumkan putra bangsa di arena olah raga. Ikut bangga dengan aneka prestasi anak negeri. Ikut menangis, ketika diberbagai sudut negeri terjadi bencana, keadilan yang belum merata. Aku berdoa agar suatu hari, dirimu semakin membaik dan bertambah dewasa.

Sesungguhnyalah, maha benar Allah dengan firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan”. (al-Ma’idah: 8)

Kini, 60 tahun sudah dirimu merdeka, ada sentuhan lembut dihatiku, mengenangmu pertiwi…

Aku rindu suasana hari Senin di sekolah dasarku, dimana dulu selalu ada upacara bendera. Terkadang ada canda, tapi selalu ada kehidmatan ketika merah putihmu digeret menjulang keangkasa. Apakah adik-adikku masih ikut merasakannya? Ternyata aku masih saja ketinggalan banyak berita.

Terkenang pada tepat 10 tahun yang lalu, saat kuberjalan mengikuti napak tilas Angkatan 45. Berbincang dengan para sepuh yang mengenang saat berjuang mempertahankan kemerdekaan, yang masih kuat dan bersemangat, merasakan aliran kecintaan mereka padamu, yang masih terasa dikalbuku sampai detik ini.

Dan Indonesiaku,
Aku salah seorang anak negerimu, masih saja disini, terbentang jarak denganmu. Tak ada upacara di lingkunganku. Tak ada merah putih yang akan perlahan naik di tiang dan kutatap dengan haru.Tak ada acara spesial pada saat detik-detik proklamasi. Apalagi diskusi tentang kemerdekaan dan bagaimana kita mengisi. Tapi rasa cintaku tetap setulus dulu. Semurni masa kanak-kanakku.

Dalam sedih aku merindu. Berdoa untukmu negeriku. Semoga langkah seluruh anak negeri ditunjuki-Nya. Bersatu padu, terus berjuang demi keadilan dan kesejahteraan bangsa, diseluruh pelosok Nusantara.

Tiba-tiba aku amat merindumu, Indonesiaku…

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan Jaya
Indonesia sejak dulu kala
Slalu dipuja puja bangsa

Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata…

Kini tak semua kata dalam lagu ciptaan Ismail Marzuki itu keluar dengan sempurna dari memoriku. Bait-bait lagu yang akrab di masa kecilku.

Dan percayalah Indonesia, kutunggu benar saat itu. Saat untuk pulang padamu. Membangun negeri, dari dusun kecilku.

Dirgahayu Indonesiaku!
Salam cintaku untukmu,
Merdeka!

Kanazawa, Agustus 2005 (@Henny Herwina Hanif)

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement