|
Mungkin anda baru saja melahirkan anak anda yang pertama, atau bahkan yang keempat, sehingga sah-sah saja jika anda merasa sebagai orang yang paling tahu mengenai kehamilan atau mengenai pertumbuhan bayi. Tidak heran jika ada yang bertanya seputar kehamilan atau pertumbuhan bayi maka andalah orang yang pertama memberi jawaban. Hingga suatu saat anda bertemu dengan seorang ibu muda yang sedang hamil. Si ibu muda sedang minum kopi dengan nikmatnya. Anda tahu bahwa minum kopi saat hamil, meskipun diperbolehkan, sebaiknya dihindari. Tanpa ragu-ragu anda menegur si ibu hamil.
"Enggak baik lho minum kopi saat hamil. Sebaiknya minum susu, jus buah atau air putih saja. Kalau terlalu banyak minum kopi...bla...bla...bla..". Mungkin anda merasa telah berjasa kepada si ibu hamil. Namun buat si ibu hamil kalimat anda merupakan nasihat yang tidak diundang. Inilah yang sering disebut sebagai "unsolicited advise" dalam dunia parenting.
Apa salahnya memberi nasihat? Toh maksud kita baik. Memang maksud kita baik, tapi tidak semua orang merasa nyaman dinasihati atau diberi masukan tanpa mereka memintanya. Bahkan jika nasihat itu kita katakan di depan umum, tidak mustahil si penerima nasihat akan merasa dipermalukan, seolah-olah dia telah melakukan kesalahan. Bahkan tidak jarang dengan memberi nasihat seolah-olah kita menganggap orang tersebut dalam kondisi tidak tahu tentang informasi tersebut. Bagi orang yang sensitif, hal tersebut akan diartikan "saya dianggap kuper", atau "saya dianggap bodoh", atau "saya dianggap kurang wawasan".
Dibutuhkan kontrol diri yang kuat untuk tidak memberi unsolicited advise, bahkan jika yang kita beri nasihat adalah orang dekat, teman atau saudara misalnya. Belum tentu mereka bisa menerima nasihat kita. Bisa jadi mereka merasa dipersalahkan.
Hal tersebut dialami oleh seorang ibu muda, sebut saja namanya Indah. Saat menginap di rumah kakak ipar bersama bayinya, sang kakak ipar melihat posisi tidur si bayi. Serta merta sang kakak ipar menegur ,"Sebaiknya bayi jangan ditidurkan dengan posisi demikian. Hal itu berbahaya karena...bla...bla...bla...". Indah merasa kemampuannya sebagai ibu telah diremehkan. Padahal dia menidurkan bayinya dengan cara seperti itu karena itulah satu-satunya cara si bayi bisa tidur lelap. Dan saat si bayi tidur, Indah selalu menjaga bayinya, mengontrol dan memonitornya. Sejauh ini tidak ada masalah, bahkan menyelesaikan masalah (karena tidur dengan cara yang lain membuat bayinya rewel dan susah tidur). Namun untuk berargumentasi dengan kakak iparnya, jelas tidak mungkin. Bukankah si kakak ipar lebih senior? Lebih merasa tahu segalanya? Sejak itu timbul perasaan tidak nyaman di hati Indah terhadap si kakak ipar. Apalagi kebetulan si kakak ipar memang gemar memberi nasihat, diminta atau tidak.
Di berbagai majalah mengenai parenting banyak dibeberkan bahwa unsolicited advise sering menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi si penerima. Bayangkan saat anda baru saja melahirkan, dalam kondisi capek dan masih belum pulih dari proses melahirkan, kemudian setiap orang yang datang menengok bayi anda selain membawa kado juga memberi anda segepok nasihat (yang kemungkinan besar sudah anda baca di majalah, buku atau internet). Bahkan mungkin diantara nasihat itu adalah mitos lama yang sudah tidak berlaku lagi. Kepala anda tumpah ruah dengan segala macam nasihat, padahal yang anda inginkan hanya satu : istirahat.
Menurut para ahli, jika kita tidak membutuhkan nasihat yang terkandung dalam unsolicited advise tersebut, sebaiknya tidak perlu ditanggapi. Ibarat masuk telinga kiri keluar telinga kanan (meskipun mungkin sempat mampir ke otak anda dan bikin pusing kepala). Namun jika nasihat itu dirasa sangat mengganggu, bisa saja anda menjawab dengan kalimat pendek yang bijak dan tidak bertele-tele, misal ,"Saya sudah membaca semua pengetahuan tentang perawatan bayi. Tenang saja". Dan alihkan pembicaraan ke lain hal yang menyenangkan, misalkan bagaimana proses kelahiran bayi anda tersebut (dijamin anda tidak akan pernah bosan menceritakan pengalaman yang satu ini).
Satu hal yang mungkin bisa mengurangi ketidaknyamanan terhadap nasihat-nasihat tersebut adalah selalu berpikiran positif bahwa mereka memberi nasihat karena peduli. Bukankah akan lebih tidak nyaman jika kita berada diantara orang-orang yang tidak punya kepedulian sama sekali.(@MamiekSyamil) |