|
Saya
tak pernah terfikir bahwa orang tua bisa terlalu mencintai anaknya, hingga satu
waktu ibu saya bercerita bahwa seseorang kenalannya sampai bercerai gara-gara
hal itu. Bukan karena perselingkuhan, bukan karena kekurangan di pihak suami
atau istri, namun karena Ibu mertua yang berlebihan dalam mencintai anak semata
wayangnya.
Bisakah kita
membayangkan bahwa kita mempunyai suami yang ideal, hanya saja sang Ibu setiap
berkunjung ke rumah kita (yang tentu saja rutin), memaksa tidur diantara
kita dan suami tercinta!
Belakangan malah sang
Ibu mertua memilih tinggal bersama anak semata wayangnya dan tidurpun bertiga,
anak, menantu dan dirinya. Mana tahanlah ya.....
Sampai satu waktu mata saya tertambat
membaca sebuah judul buku," Parents Who Love Too Much", tulisan dari Jane Nelsen
dan Cheryl Erwin. Jane yang beranak tujuh dan bercucu delapan belas, serta
Cheryl yang merupakan therapis untuk perkawinan dan keluarga ini
memaparkan mengenai hal ini, bahaya serta kiat-kiat untuk mencegah dan
menyembuhkannya.
Menurut mereka, perasaan cinta yang dalam
terhadap anak, merupakan suatu hal yang normal dan wajar. Apalagi kita terlahir
sebagai manusia yang mempunyai perasaan cinta dan kasih sayang. Hanya saja dalam
mengekspresikan cinta dan rasa sayang kita kepada anak ada beberapa manifestasi
yang dilakukan oleh orang tua. Tindakan-tindakan yang dianggap bersumber dari
rasa cinta dan kasih sayang kepada anak inilah yang dapat mudah tergelincir
sehingga menimbulkan masalah di dalam membesarkan dan membentuk kepribadian anak
kita.
1.Over-protektif: Orang tua yang OP
ini gagal melihat kemampuan dan kompetensi anak. Mereka sering melarang anak
melakukan hal-hal yang dianggap membahyakan anak,meskipun sebenarnya tidak perlu
dilakukan karena anak sudah dapat melakukan hal itu secara aman. Akibatnya anak
bisa merasa nervous dan kehilangan percaya diri. Bila anak mulai menunjukkan
penentangan dan kenakalan, cobalah kita tinjau lagi apakah karena terlalu
banyaknya larangan yang kita berikan kepada mereka?
2. Penyelamat: Orang tua
cenderung selalu mengambil alih tugas dan tanggung jawab di saat-saat terakhir.
Anak hampir terlambat, orang tua yang tergopoh-gopoh. Anak lupa PR, orang tua
sampai mengerjakan. Bila selalu campur tangan untukmenyelesaikan hal-hal yang
mudah sekalipun, anak akan kehilangan rasa tanggung jawabnya dalam menyelesaikan
suatu hal. Biarkan anak untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan selama itu
memang dalam batas kewajaran.
3.Membiarkan: banyak orang tua
sekarang yang takut dikatakan kolot dan kaku, sehingga tak ingin mengekang
kebebasan anak bahkan cenderung membiarkan anak berbuat sesuka hatinya. Ini akan
dapat menimbulkan masalah kedisiplinan pada anak, dan membuat anak semau gue.
Ingatlah, bahwa banyak orang yang tidak suka bergaul dengan anak
manja.
4.Terlalu Menguasai: Ini kebalikan
dari nomor 3. Orang tua yang terlalu banyak aturan dan larangan, akan
menimbulkan perasaan pada si anak bahwa orang tua tidak mencintai dan menyayangi
anak.
5.Mengalah. Orang tua yang mengalah
pada anak ketika anak ngambek hanya akan kehilangan pamor sebagai orang
tua. Anak akan semakin sulit diatur dan menganggap remeh orang tua.
6. Membuat terlalu banyak keputusan bagi
anak: Orang tua yang seperti ini akan menghambat ruang gerak anak dan
membuat mereka seperti boneka mainan orang tua yang harus mengikuti semua
kemauan orang tua dan tidak akan berkembang kemampuannya untuk hidup
mandiri.
7. Sok Memanjakan: Orang tua seperti
ini akan selalu memanjakan anak-anaknya dengan segala kemewahan dan
barang-barang yang sebenarnya tidak perlu. Menunjukkan kecintaan dengan barang
akan membuat anak jadi menilai apa-apa dengan benda material.
8. Keinginan yang tak realistis:
Orang tua seperti ini memberikan beban yang berat kepada anak. Mereka ingin anak
mereka masuk sekolah favorit, ingin anak mereka jadi top ranking, jadi anak
populer, jadi anak yang serba wah, kadangkala untuk mencapai impian orang tua
yang tak terwujud di masa muda mereka. Kadang kala motivasi dari orang tua dapat
benar-benar membuat anak berusaha untuk menjadi seperti yang diinginkan orang
tua, namun kadang banyak juga yang malah menjadi nakal dan berhenti sekolah
sebagai pembangkangan atas pressure dari orang tua.
9. Sibuk sendiri: Orang tua seperti
ini tak pernah melibatkan anak di dalam kehidupan sehari-hari. Anak tak punya
tanggung jawab di dalam rumah, tak pernah tahu kesulitan orang tua, bahkan
sampai hal-hal terkecil, yang penting belajar. Anak akhirnya tidak merasa
sebagai bagian dari keluarga.
10. Terlalu banyak Memuji: Semua
tindakan anak diberikan pujian, sehingga anak tidak bisa membedakan yang mana
sebenarnya achievement yang telah dilakukan, yang mana merupakan hal yang tidak
layak untuk dilakukan..
11. Berkelahi untuk Anak: Orang
tua seperti ini membuat anak tidak berani menghadapi sendiri masalahnya dan
bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
12. Menjadikan anak sebagai Raja di
rumah: Orang tua seperti ini kehilangan kekuasaan dan kontrol atas
anak. Semua permintaan anak terpaksa' dituruti, membuat anak mudah mengambek
dan cengeng, atau menjadi pemarah.
13. Bekerja Lembur untuk uang: Orang
tua yang menunjukkan cinta dengan kebendaan, memilih untuk bekerja lebih lama
daripada menggunakan waktunya bersama keluarga.
14. Serba Tahu Masa Depan
Anak: Orang tua banyak yang kurang berkomunikasi dengan anak mereka, karena
mereka pikir mereka tahu akan jadi apa dan bagaimana anak-anak mereka kelak di
kemudian hari.
15. Berkelahi Berebutan Anak: Bagi
pasangan yang berpisah atau bercerai kadang mereka ingin menghilangkan sama
sekali hak salah satu orang tua yang lain dalam mengasuh anak.
16. Memberi Shelter bagi anak Dewasa:
Orang tua seperti ini membiarkan anak yang sudah dewasa, tak bekerja dan hidup
dari orang tua.
Menurut Jane dan Sheryll, bila ada salah
satu di antara ciri-ciri di atas kita lakukan dalam mendidik dan membesarkan
anak-anak kita, berarti kita termasuk orang tua yang Terlalu Mencintai Anak
(TMA), dan hal tersebut sama sekali tidak berguna bagi anak-anak kita di masa
depan.
Mengapa demikian? Karena perasaan terlalu
cinta ini bisa mengubah pikiran normal anak terhadap pengertian mengenai
common-sense, menciptakan anak yang penuh kelemahan dan kekurangan, anak yang
kurang menyadari kemampuan dirinya, atau anak yang berfikiran terlalu ekstrim.
Hal-hal lain yang berbahaya dari manifestasi
terlalu mencintai anak adalah, orang tua dapat tergelincir dalam mengagungkan
benda/ materialisme, menjadikan anak sebagai milik pribadi, dan lupa bahwa
mengikutsertakan anak di dalam kehidupan orang tua jauh lebih baik daripada
membatasi kehidupan anak sesuai keinginan orang tua.
Tentu saja kita bisa mencegah agar tidak
menjadi orang tua yang terlalu mencintai dalam konotasi negatif, dengan selalu
mencari keseimbangan dan kewajaran dalam bertindak.
Saya sendiri banyak melihat bahwa orang tua
kadang 'terlupa' atau tak sampai terfikirkan bahwa tindakan mereka sudah
berlebihan. Seperti saat saya melihat banyak ibu-ibu yang sampai ikut tegang
menunggu anak mereka ujian UMPTN di luar ruangan. Aduh...lha kan mereka bakal
jadi mahasiswa....bukan masuk TK lho Bu......Tapi sungguh, saya yang seharusnya
terharu sampai bingung...kok ada yang Ibunya nunggu di luar waktu anaknya Ujian
Sarjana? Apa ini trend baru ya?
Membaca point-point Jane dan Cheryl, mau tak
mau muncul personal-personal yang saya kenal dalam keseharian saya. Entah
tetangga saya, teman saya, oom-tante saya, hingga orang-orang yang tidak saya
kenal. Hingga sayapun ikut berkaca diri.
Giliran kini saya yang menjadi orang
tua....hmmmm.... ternyata pesan-pesan orang tua dulu ala Timur tidak
berbeda jauh dengan parenting ala Barat. Hanya saja selain kesemua itu, petuah
orang tua ala Timur juga sarat dengan simbol dan penekanan kepada hormat pada
orang tua, ketaatan, sopan-santun, budi pekerti, dan tak lupa penerapan budaya
malu. Sayang bila kita kehilangan banyak sisi Ketimuran kita yang sebenarnya
penuh pendidikan manusiawi untuk pembekalan anak menuju kedewasaan.
Mudah-mudahan mengingatkan kita semua, agar
dapat terhindar dari eksploitasi perasaan cinta pada anak. Semoga.
Louisville,
2005
Hani
Iskadarwati
Jane Nelsen & Cheryl
Erwin, "Parents WhoLove Too Much: How Good Parents Can Learn to love more wisely
and develop children of character ", Prima Publishing, California,
2000 |