|
Seorang Mommy yang mempunyai anak Balita (3 tahun 4 bulan) yang sedang lucu-lucunya memberitahukan bahwa anak kesayangannya sangat suka makan tape singkong. Ia menanyakan satu hal yang membuatnya khawatir, yaitu seberapa besar kadar pengaruhnya makan tape singkong terhadap kesehatan anak balita. Ini ditanyakannya berhubung orang-orang di sekitar Mommy berpendapat bahwa memberi makan anak Balita Tape Singkong akan membuat anak kuat. Meskipun tidak begitu setuju, namun karena Mommy bekerja diluar rumah, sehingga ia tidak dapat memantau langsung pemberian makan anaknya. Sementara sang anak sudah ‘jatuh cinta’ pada tape singkong.
Ternyata ada Mommy lain yang mengeluhkan hal serupa. Anaknya yang berumur 1 tahun hobinya makan tape singkong. Selama pemantauan sang Mommy tidak ada keluhan apa-apa disekitar perut dan faeces anakpun normal-normal saja. Namun Mommy ini juga khawatir bila tape singkong berdampak buruk bagi sang anak tercinta.
Seorang Mommy urun pengalaman, dulu di daerah deket Semarang ada desa yang ibu-ibunya suka memberi makan anaknya-anaknya tape singkong. Anaknya sih gemuk gemuk, tapi suster katolik disana mencoba penduduk agar jangan membiasakan bayi/anak balitanya diberi makan tape singkong saja (soalnya empuk dan manis jadi mudah dimakan dan pasti anaknya suka). Menurut Mommy ini, yang dikhawatirkan bukan raginya tetapi tape singkong yang sudah mengandung alkohol.
Mommy ini mengakui bahwa tape singkong adalah camilan favoritnya, dari tape singkong goreng, kolak tape, jus tape, meskipun kurang suka makan tape singkong begitu saja. Ibunda Mommy malah menyarankan untuk rajin makan tape untuk menghaluskan muka. Kebiasan makan tape sejak kecil ini entah benar tidak menguatkan perut, tetapi Mommy penggemar tape singkong ini mengakui kalau tak ada masalah makan asinan meskipun perut kosong.
Mommy yang lain urun pengalaman, bahwa ia dulu tinggal di dekat Semarang, dan dari kecil suka makan tape singkong. Mami (alm) dulu juga hobi makan tape singkong, jadi kukira ini menular ke anak-anaknya. Biasanya keluarganya membeli, tidak membuat sendiri. Kalau membeli pun ia ingat biasanya mencicipi tapenya terlebih dulu. Kalau "tapenya ketuaan", kadar alkoholnya sudah terlalu tinggi, biasanya tidak dibeli.
Seorang Mommy lainmempunyai sahabat yang ibunya hobi membuat tape ketan putih.Dari ibu sahabatnya ini diketahui bahwa penting kita tahu gradasi tinggi rendahnya kadar alkohol/gula yang dihasilkan dari proses fermentasi. Tape yang dijual (dan yang banyak laku), kadar gulanya cukup (tidak terlalu rendah) dan kadar alkoholnya masih sangat rendah.
Ibu sahabat Mommy tsb memperlihatkan bermacam bak isi tape, yang satu beda dengan yang lain. Seingatnya bak tape yang satu (biasanya baru jadi) untuk dimakan tapenya yang cukup kadar gulanya, rendah kadar alkoholnya, sedangkan bak tape yang lain tapenya lebih berair, lebih manis atau lebih tinggi kadar alkoholnya (bermacam juga) namun kurang enak untuk dimakan langsung. Bak-bak kedua tadi untuk memenuhi banyak peminat yang memesan air tapenya, dengan kadar yang berbeda-beda itu. Ada yang suka tinggi kadar alkoholnya, ada yang suka tinggi kadar gulanya.
Lalubahayakah tape singkong bila dikonsumsi oleh anak-anak? Belum ada jawaban yang pasti.
(HI/WRM)
|