|
Suatu kali saya harus mengisi profil diri untuk sebuah website. Saya tulis Premenstrual Syndrome (PMS) sebagai hal yang paling saya benci. Iya, benci! Saat-saat menjelang hadirnya tamu bulanan yang seharusnya disambut gembira, saya malah repot dengan emosi yang tidak stabil, suhu tubuh meningkat dari biasanya, flu yang tiba-tiba datang dan jerawatan. Kata orang, ini akibat hormon (hormon apa dan bagaimana bekerja, biarlah teman-teman dokter yang menerangkan).
Selagi si hormon bekerja dalam tubuh perempuan, semua perilaku eM seringkali muncul, kadang-kadang tanpa disadari. Sampai ada orang yang bertanya “Lagi eM ya?” seolah mahfum pada keadaan. Pertanyaan seperti itu seringkali keluar dari mulut suami, kekasih, atau teman dekat. Jangankan kerabat, orang yang tak dikenal, tapi terkena imbas perilaku PMS, juga suka membahas curiga, sambil bisik-bisik “Pasti lagi eM” atau “PMS tuuh..” Hebat kan si eM ini. Kalau perempuan lagi malas, marah, mutung, muambek, melotot, menggendut, menjerawat, semua yang berhubungan dengan emosi yang tidak stabil dan fisik yang berubah, jadilah si Em ini tertuduh satu. Para suami yang pengertian, biasanya meng-aminkan saja perilaku PMS sang istri. Namun sepengertian suami saya, PMS ini kan hadirnya tiap bulan, harusnya perempuan bisa mengantisipasi dan kontrol situasi. Sebagai perempuan, saya cuma bisa berujar, “Gak janji deh..” Sekuat saya berusaha, sekuat itu pula si hormon “nakal” PMS bekerja menggoda saya. Padahal, semua perilaku eM yang menjadi bahan analisa orang pada masa PMS itu, “bukan gue banget”. (Sungguh!) mm..atau justru itu "gue banget" yang secara jujur tampil berkat jasa hormon PMS? Saya kutipkan symptoms PMS dari womenshealthchannel.com, sebagai berikut: Common symptoms include the following: •Mood-related ("affective") symptoms: depression, sadness, anxiety, anger, irritability, frequent and severe mood swings •Mental process ("cognitive") symptoms: decreased concentration, indecision •Pain: headache (e.g., menstrual migraine), breast tenderness, joint and muscle pain •Nervous system symptoms: insomnia (sleeplessness), hypersomnia (sleeping for abnormally long periods of time), anorexia, food cravings, fatigue, lethargy, agitation, a change in sex drive, clumsiness, dizziness or vertigo, paresthesia (prickling or tingling sensation) •Gastrointestinal symptoms: nausea, diarrhea, palpitations (rapid fluttering of the heart), sweating •Fluid and electrolyte symptoms: bloating, weight gain, oliguria (reduced urination) •Skin symptoms: acne, oily skin, greasy or dry hair Menurut sumber ini pula ada lebih dari seratus lima puluh gejala dialami oleh perempuan pada masa PMS, bervariasi mulai dari mood jelek, berat badan meningkat sampai jerawatan. Karena memang, gejala PMS berbeda pada tiap perempuan, juga berbeda pada tiap siklus. Saya tidak membenci siklus sang kodrat wanita itu, tetapi PMSnya. Fiuhhh.. seratus lima puluh gejala PMS?? Pantaslah surga berada di telapak kaki ibu.. (semoga ada hubungannya). (WH) |