We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Goresan Pena arrow Cerita Pendek arrow Namaku Abel
Namaku Abel E-mail
Rabu, 20 Juli 2005

Namaku Abel, aku seekor anak orangutan berumur 3,5 tahun. Di Sumatera—habitat asliku—aku biasa disebut mawas. Kami mempunyai saudara yang hidup dihutan Kalimantan. Kami sangat mirip, hanya saja rambutku lebih terang warnanya dibanding mereka dan wajahku bulat sedangkan wajah mereka bulat telur.

Karena umurku masih 3,5 tahun aku masih tinggal bersama ibu, tetapi aku sudah tidak menyusu pada ibu lagi. Dan aku akan meninggalkan ibu kalau umurku sudah 8 tahun. Setiap hari aku mengikuti ibu bergelantungan dan berayun dari satu pohon ke pohon yang lainnya, tetapi terkadang kami juga turun ke tanah.

Pagi ini langit cerah sekali, keluarga burung sedang berjemur bermandikan cahaya matahari sambil bernyanyi-nyanyi, segerombolan kupu-kupu sedang terbang kesana-kemari sambil memamerkan sayapnya yang beraneka warna bak lukisan seorang maestro, aku dan ibu sedang bersiap-siap akan pergi ke jalur XX, ibu mendapat kabar dari seorang temannya kalau pohon-pohon ficus dijalur itu sedang lebat-lebatnya berbuah. Keluarga kami memang sangat menyukai buah-buahan.

Ooo.....oo......ternyata sudah ada yang mendahului kami, tapi........ternyata si Pongi dan ibunya.
“Hai Pongi........sedang panen besar rupanya”,  sapaku.
“Kau tidak usah khawatir Abel, masih banyak lagi pohon ficus lain yang berbuah”, balas Pongi.
Senang sekali rasanya bertemu dengan Pongi dan ibunya disini, karena aku bisa bermain-main dengannya.
“Ayo kejar aku Abel”, kata Pongi sambil berayun-ayun pada sebatang liana, mulutnya penuh menggigit buah ficus.
“Awas kau Pongi kalau sampai dapat ya”, Abel juga tidak mau kalah berayun-ayun pada liana juga padahal dia belum begitu mahir dalam hal berayun-ayun. “Gdeebug”……Pongi terkejut….. suara apa gerangan? Ternyata si Abel terjatuh dan sedang meringis kesakitan. Tetapi sedang asyik-asyiknya kami bermain, Pongi diajak oleh ibunya untuk pergi ke selatan, seperti biasa dibulan-bulan April sampai November begini disana banyak pohon-pohon yang berbuah.

“Abel, aku dan ibuku akan pergi keselatan, kabarnya pohon rambutan besar itu sedang berbuah lebat”, kata Pongi.
“Ibu…..kita juga pergi kesana ya bu……Abel ingin sekali makan rambutan”, rengekku pada ibu.
“Iyalah….besok pagi kita menyusul mereka, malam ini kita bermalam disini saja”, kata ibu.
“Horrrrreee………Pongi tunggu aku disana ya besok, kita lihat nanti siapa yang paling jago memanjat diantara kita”, teriak ku.

Setelah Pongi dan ibunya pergi, ibu mengajarkan aku cara memanjat pohon.
“Ayo Abel, naiklah sedikit ke pohon yang lebih tinggi, siapa tahu kau akan menemukan telur burung”, kata ibu.
“Tapiiii…..bu………Abel takut jatuh”, jawab ku.
“Asal kau berhati-hati kau tidak akan jatuh Abel”, kata ibu.
Aku pun mencoba naik ke pohon yang lebih tinggi lagi dengan hati-hati. “Wahhhh…….lihat bu, indah sekali pemandangan dari atas sini”, kata ku sambil memandang dengan takjub keseliling. Sungai yang mengalir menghadirkan alunan denting kecapi dan gunung-gunung yang terbentang hijau laksana permadani hijau.

Saking asyiknya belajar memanjat dan berayun, tak terasa hari sudah mulai senja. Ibu pun mulai mengumpulkan daun-daun dan menyusunnya dipercabangan pohon yang kira-kira kuat menjadi sarang yang nyaman untuk tidur. Aku pun tidak mau ketinggalan sibuk juga mengumpulkan daun dan menyusunnya menjadi sarang, tidak jauh dari sarang ibu. Tapi sarangku tidak sebagus punya ibu karena aku masih belajar. Biasanya sehabis membuat sarang, kami langsung tertidur. Sekarang ini aku masih tidur bersama ibu, tetapi nanti kalau aku sudah berumur 9 tahun aku akan tidur di sarangku sendiri dan mencari makanan sendiri, tidak bersama ibu lagi.

“Wahhhhhhhh…..sudah pagi rupanya, aku terbangun oleh nyanyian keluarga burung yang sedang bernyanyi dengan riangnya menyambut hari yang cerah ini. Matahari pagi ini hangat sekali. “Hai sobat kecil sedang gembira sepertinya hari ini”, sapaku pada si Kutilang.
“Hai Abel…..baru bangun kau rupanya, kami memang sedang bergembira, karena hari ini cerah sekali sehingga kami dapat berjemur mengeringkan bulu-bulu kami yang basah terkena embun semalam, apa kau ingin bergabung bersama kami?”, jawab si Kutilang.
“Aduh maaf……bukannya aku menolak, tetapi hari ini aku sudah berjanji pada Pongi akan menyusulnya ke Selatan”, jawabku.
“Ohhhh……..tidak apa-apa, sampaikan salam kami untuk Pongi dan ibunya yach, dan hati-hatilah dijalan, karena aku mendengar kalau akhir-akhir ini banyak pemburu yang berkeliaran di hutan kita ini”, kata si Kutilang mengingatkan.
“Terima kasih telah mengingatkan”, balas ibu.

Sebelum matahari benar-benar tinggi aku dan ibu mulai menuju ke selatan. Disepanjang perjalanan aku dan ibu tidak melewatkan kesempatan memanen buah-buahan, karena tidak sepanjang tahun kami dapat menikmati buah-buahan. Kalau tidak sedang musim buah seperti ini, kami memakan daun, kulit pohon, ataupun serangga dan sesekali memakan telur burung.

Ditengah perjalanan kami bertemu dengan Rhino si Rangkong dan si Kera yang juga sedang dalam perjalanan ke selatan. Akhirnya kami pun pergi bersama-sama, semua terlihat gembira dan bersemangat. Aku sudah tidak digendong oleh ibu lagi, tetapi aku sudah mulai bergelantungan dan berayun sendiri dari satu pohon ke pohon yang lain. Tetapi kalau jarak pohon yang satu dengan yang lainnya agak jauh dan aku tidak mampu menggapai cabang, ranting ataupun liana, maka ibu akan membuat jembatan untukku dengan tubuhnya.

Menjelang tengah hari rombongan kami sampai di pohon rambutan besar itu, “tapi.........dimana Pongi dan ibunya ya?”. Kami tidak menemukan mereka. Keadaan disekitar pohon rambutan ini menimbulkan kecurigaan. “Apa yang telah terjadi disini, mengapa banyak daun yang berguguran dan ranting-ranting yang patah?” kata si Kera perlahan hampir tidak terdengar.
“Sepertinya telah terjadi sesuatu disini, kalau si Pongi dan ibunya tidak jadi datang tidak mungkin karena disini banyak kulit dan biji rambutan sisa mereka”, ibu menimpali.
“Pongi...........Pongi..........”, aku mulai berteriak-teriak memanggil Pongi. Si Rhino Rangkong juga mulai panik terbang kesana kemari sambil memanggil-manggil si Pongi. Tiba-tiba terdengar teriakan si Rhino, “Pongiiiiiiii….!!!!!”kami pun segera menuju kearah si Rhino. Dan kami semua juga tidak kalah terkejutnya dengan Rhino mendapati si Pongi tengah terkapar tidak berdaya di semak-semak tidak jauh dari pohon rambutan. Tetapi dimana ibunya??? Kira-kira setengah jam kemudian si Pongi mulai membuka matanya sedikit demi sedikit sambil memanggil-manggil ibunya, “ibu…….ibu……..Pongi takuuut….”. Setelah Pongi kelihatan benar-benar sudah siuman dan tenang, ibu mulai menanyai Pongi sambil menggendongnya, apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Aku….aakuu…tidak tahu dimana ibu”, Pongi mulai terisak lagi. Tadi sewaktu aku dan ibu sedang bermain, tiba-tiba datang manusia yang membawa senapang dan kurungan”. “Mereka langsung mengarahkan senapangnya kearah kami dan karena terkejut mendengar letusan senapang aku terjatuh dan tidak ingat apa-apa lagi”, tambah si Pongi lagi.
“Sudah……sudah………..jangan bersedih lagi, nanti kita cari ibumu dan untuk sementara aku yang akan mengasuhmu”, kata ibu dengan bijaksana.
Aku jadi teringat kata-kata si Kutilang sebelum aku dan ibu pergi ke sini tadi pagi. “Ini semua pasti ulah para pemburu liar itu”, kataku geram.  

Ketika kami sedang ribut-ribut, tiba-tiba muncul si Ipong seekor jantan dominan. “Sedang ada apa ini, mengapa kalian semua terlihat panik”, sapa si Ipong dengan suara beratnya.
“Memang benar, telah terjadi sesuatu disini, ibu si Pongi dibawa oleh para pemburu liar”, jawab ibu menjelaskan. “Apakah kau ada melihat mereka?”, tambah ibu lagi.
“Sudah beberapa hari ini aku curiga dengan orang-orang yang beberapa hari ini sibuk menggotong kotak-kotak yang dibungkus kain”, kata Ipong. “Jangan-jangan yang mereka gotong itu kerangkeng yang digunakan untuk mengurung teman-teman kita yang mereka tangkap untuk kemudian dijual,” tambah Ipong.
“Jadi apa yang harus kita lakukan”? kata si kutilang.
“Kita harus menolong teman-teman kita”, jawab si Ipong.
“Ya kita harus mengajak penguni hutan yang lain untuk membebaskan teman-teman kita yang sudah mereka tangkap”, tambah si Kera tidak mau ketinggalan.
“Kalau begitu kita mulai mengumpulkan teman-teman yang lain untuk melakukan penyerangan setelah matahari terbenam hari ini”, Ipong mulai menyusun rencana. Ipong kemudian mengeluarkan suara teriakan yang panjang—biasa disebut “longcall” yang hanya dapat dikeluarkan oleh orangutan jantan saja—memanggil orangutan-orangutan lain yang tinggal dihutan ini juga. Si Kutilang dan Rhino segera menghubungi para burung dan serangga, karena untuk malam hari pertolongan si Kunang-kunang sangat dibutuhkan sekali. Si Kera bertugas mengintai gubug tempat persembunyian pemburu liar itu. Sedangkan ibu menjaga aku dan Pongi.

Ketika sang surya hampir hilang diufuk barat, hampir semua warga hutan telah berkumpul. Kami mendapatkan laporan dari si Kera tentang hasil pengamatannya, bahwa saat ini para pemburu liar itu sedang membersihkan badan mereka di sungai kira-kira 500 meter dari gubug. Hanya tinggal 2 orang saja yang sedang berjaga-jaga. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dengan tuntunan sikunang-kunang yang dapat mengeluarkan cahaya dari tubuhnya, kami menuju ke gubug pemburu liar itu.

O…oo….walaupun yang berjaga-jaga hanya 2 orang tetapi mereka memegang senapang yang siap memuntahkan timah panas. Kami langsung berpencar menjadi 2 kelompok, kelompok satu dipimpin oleh si kera tugasnya menarik perhatian si penjaga, kelompok dua langsung dipimpin oleh si Ipong bertugas membebaskan teman-teman dari kerangkeng. Tiba-tiba terdengar letusan senapang……duaarr…..ternyata kelompok si Kera sudah menjalankan tugas mereka, kedua penjaga berpencar mengejar ke arah kelompok si Kera yang lari berpencar sambil memuntahkan timah panas dari senapangnya. Tapi tanpa diduga oleh si penjaga yang berkumis tebal itu, tiba-tiba segerombolan kera menyerang dan menggigitnya. Tentu saja dia kewalahan menghadapi serangan itu. Hal ini tidak disia-siakan oleh Ipong yang segera mengambil kunci kerangkeng yang tersangkut dekat daun pintu dan segera membebaskan ibu si Pongi dan teman-teman yang lainnya. Walaupun ibu si Pongi dan yang lainnya dalam keadaan lemas karena makanan yang diberikan tidak cocok, mereka tetap bersemangat dan berusaha berlari sekencang mungkin mengikuti Ipong dan yang lainnya menuju gua tempat dimana biasanya penghuni hutan berkumpul mengadakan pertemuan. Kedua penjaga itu tampaknya kewalahan menghadapi si Kera dan yang lainnya, mereka kalah cepat dan gesit sehingga mereka kembali ke gubug dengan tangan hampa. Dan yang lebih mengesalkan mereka kerangkeng-kerangkeng disana sudah terbuka semua dan isinya sudah keluar semua. Terbayang oleh mereka amukan sang Bos yang bakal mereka terima.

Di dalam gua tempat pertemuan warga hutan.........
“Ibu.....ibuuu.....”, Pongi segera berlari mendapatkan ibunya dan memeluknya erat-erat. “Ibu jangan tinggali Pongi lagi yach”, kata Pongi sambil terus memeluk ibunya.
“Terima kasih ibu Abel, karena kau telah mau menjaga Pongi selama aku tidak ada”, kata ibu Pongi kepada ibu.
“Ach itu tidak menjadi masalah, bukankah kita selalu melakukan hal ini kepada anak-anak yang ibunya sudah tidak ada lagi, padahal mereka belum siap untuk hidup sendiri”, jawab ibu.
(Begitulah di keluarga kami—keluarga mawas—apabila seorang anak yang masih kecil ditinggal oleh ibunya, karena ditangkap oleh pemburu liar maka mawas yang lain akan mengangkatnya menjadi anaknya)

“Sekarang apa yang akan kita lakukan untuk menghadapi para pemburu liar itu?”, tanya si Rangkong.
“Kita seluruh penghuni hutan ini harus bersatu menghadapi mereka”, jawab si Kera.
“Benar apa yang dikatakan si Kera, kita penghuni hutan harus bersatu melindungi hutan tempat kita tinggal ini beserta isinya”, tambah si Ipong.
“Mudah-mudahan serangan kita tadi membuat mereka jera”, kata si Kera yang terlihat senang berhasil menggigit pemburu berkumis tebal itu.
“Tapi yang perlu diingat………… kita harus berhati-hati mungkin saja mereka belum jera dan masih berkeliaran di hutan kita ini”, kata Tigor si raja hutan yang sudah tua dan sakit-sakitan itu dengan suara perlahan.
Akhirnya malam itu diadakan syukuran kecil-kecilan untuk menyambut teman-teman yang baru kembali. Kegembiraan terpancar diwajah mereka semua.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement