|
Sembilan dari 10 pintu rezeki itu datangnya dari berdagang. Begitu kira-kira salah satu bunyi sunah Rasul. Memang benar adanya. Kita memang sedianya memperoleh rezeki itu dari berdagang. Tapi berdagang apa? Bagaimana caranya berdagang? Itu pun kerap menjadi momok di masyarakat.
Hingga saat ini, berdagang selalu dikonotasikan sebagai kegiatan berjualan sesuatu dengan memanfaatkan toko, kios, atau gelaran di kaki lima. Sehingga banyak orang yang takut untuk memulai mencari nafkah dengan berdagang. Perlu modal, begitu selalu jawaban yang muncul. Jawaban lainnya adalah tidak memiliki bakat dagang! Lalu timbul pertanyaan dalam diri saya. Apakah berdagang memang harus memiliki bakat? Apakah berdagang yang dimaksudkan di sunah Rasul tersebut adalah kegiatan jual beli yang riil yang kita ketahui selama ini?
Berdagang tidak selalu menjual barang. Ingat nggak ilmu ekonomi yang mengatakan ada dua jenis yang bisa diperdagangkan: barang dan jasa. Kalau kita mau menelaah lebih jauh, bekerja di kantoran, menjadi dokter, pengacara atau lainnya juga adalah salah satu contoh kegiatan berdagang. Kerja di kantoran harus memiliki kemampuan tertentu. Kemampuan tersebut yang kita gunakan untuk “menjual diri” kita kepada perusahaan yang membutuhkannya. Begitu juga dokter dan pengacara. Mereka juga memperdagangkan kemampuan mereka kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Lalu, apa satu pintu rezeki lain yang tidak didapat dari berdagang? Menurut pendapat saya, pejabat pemerintahan, guru, ustadz adalah contoh pekerjaan yang tidak boleh diperdagangkan meskipun mereka “menjual” kemapuan mereka kepada orang lain. Pekerjaan yang satu ini adalah pengabdian. Sementara kalau kita berdagang berarti kita mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Sungguh dua hal yang berbeda bukan?
Jadi bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika pejabat pemerintah mulai “memperdagangkan” kemampuannya di pemerintahan. Atau bagaimana jadinya jika para guru juga berlaku demikian Mental seperti apa yang ingin dibangun di masyarakat kita? Sangat menyedihkan bukan ketika anda harus membayar mahal untuk memperoleh pendidikan yang baik karena guru yang kualitasnya bagus konon katanya harus dibayar mahal! Mengapa demikian? Coba perhatikan sekeliling anda! Bagaimana cara masyarakat memandang orang yang berprofesi sebagai guru?
Sangat disayangkan saat ini ada pengecilan makna seorang guru dimata masyarakat. Orang senantiasa memandang guru sebagai profesi yang rendah, miskin dan tak punya masa depan. Pernahkah kita sadarkan diri sendiri bagaimana jadinya dunia ini tanpa hadirnya seorang guru? Dan coba tanyakan pada diri anda, maukah anda mengabdikan diri menjadi seorang guru? Bahkan begitu banyak orang tua yang melarang anaknya menjadi guru, apalagi menikahi seorang guru! Pengecilan makna inilah yang kemudian berakibat pada rendahnya kualitas guru, mahalnya pendidikan, dan lain sebagainya.
Cobalah untuk tidak mencari kambing hitam dalam menghadapi setiap masalah. Karena kerap terjadi, masalah yang timbul justru berasal dari diri kita sendiri.
Ini hanyalah hasil pemikiran saya sebagai manusia biasa. Mungkin banyak salahnya. Mohon dimaafkan. Wallahu ‘alam... |