|
Jangankan Anak balita, orang dewasa saja kalau terkena cacar air rasanya sangat tidak nyaman. Di milist WRM ada seorang mom yang menanyakan, bagaimana cara penanganan anak balita yang terkena cacar air.
Tanggapan pertama demikian, "Putri saya sebulan yang lalu terkena cacar air, saat itu dokter nya hanya meresepkan lotion camolibe (di oleskan di cacarnya) dan juga di beri penurun panas (berikan jika suhu tubuh anak panas)". Masih menurut beliau, oleh DSAnya di anjurkan si Anak untuk tetap melakukan aktifitas mandi, biar dia merasa nyaman dengan badannya, dan sebisa mungkin cacar nya jangan di garuk.
Pengalaman mom berikut saat itu, ketika anaknya masih berusia 1.5 tahun. Perawatannya adalah, anak langsung di berikan anti-virus berupa salep dan bedak. Antibiotik tidak di berikan karena, antibiotik tidak cukup efektif untuk membasmi virus. Sama seperti mom yang sebelumnya, beliau juga di sarankan oleh DSA untuk tetap memandikan anaknya, biar anak lebih nyaman. Ini sangat bertolak belakang dengan image masyarakat umum yang mengatakan, "Anak tidak boleh mandi jika terkena cacar", ujarnya.
"Aku juga akhirnya ke DSA, dan saat itu aku di resepkan antivirus (poviral + ctm = racikan), erysambe (antibiotik) dan salepnya diganti Acyclovir 5% (khusus untuk herpes simplex), setelah aku baca di internet, krn cacar air = varicella ini satu family dengan herpes makanya acyclovir = zovirax ini sangat paten. Saat ini, cacar air anak saya sudah mulai kering".
Mom berikut menyarankan, jangan kontak kulit dengan anak lain sebelum cacar airnya benar - benar kering . Soalnya masa penghitaman cacar itu amat sangat menular (seperti biji, mengering, pecah, isinya nyebar). (WRM/SA)
Berikut site review mengenai varicella: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001592.htm |