|
Pandemik flu mematikan terakhir kali terjadi di dunia pada tahun 1918. Pandemik flu Spanyol ini menewaskan sekitar 50 juta manusia di seluruh belahan dunia. Kini, flu burung dikuatirkan para ahli dapat menjadi “flu spanyol” berikutnya. Apakah sebenarnya flu burung itu? Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah pandemik flu?
Flu burung disebabkan oleh virus flu burung yang biasanya dibawa burung liar di usus mereka. Flu burung menular di antara unggas melalui air liur, lendir, dan tinja. Walaupun virus flu burung dan virus flu manusia sama-sama termasuk jenis virus influenza tipe A, subtipe virus influenza yang menyebabkan flu burung ini berbeda secara genetik dengan virus influenza yang menyebabkan flu pada manusia. Subtipe virus influenza yang biasanya menyebabkan flu pada manusia adalah subtipe: H1N1, H1N2, H2N2, dan H3N2, sedangkan flu burung dapat disebabkan oleh virus dengan subtipe H5, H7, dan H9. Tetapi di tahun 1997, untuk pertama kalinya virus H5N1 yang biasanya menginfeksi burung, menyerang manusia. Pada saat itu, di Hong Kong terjadi wabah flu burung pada ternak unggas mereka. Virus H5N1 ini menyerang 18 orang dan menewaskan 6 diantaranya. Hingga pertengahan Mei 2005 di Vietnam, Kamboja, dan Thailand dilaporkan telah terjadi 97 kasus penularkan virus flu burung kepada manusia. Dari 97 kasus ini, 53 orang dilaporkan meninggal. Sampai saat ini, penularan utama flu burung kepada manusia hampir selalu disebabkan oleh interaksi fisik dengan unggas/binatang lain (misalnya babi) yang terinfeksi atau melalui permukaan benda-benda yang terkontimasi virus flu burung. Penularan dari manusia ke manusia lain jarang sekali terjadi dan belum diketahui caranya. Gejala-gejala ketika terkena flu burung yang diakibatkan virus H5N1 pada manusia mirip sekali dengan gejala flu biasa, yaitu demam, otot pegal, dan tenggorakan perih. Mengapa virus H5N1 bisa berpindah ke tubuh manusia? Virus influenza mempunyai 2 jenis protein pelindung (outer coat protein/surface protein) dan 8 segmen genetik. Protein yang pertama bernama haemagglutin (H) dan yang kedua bernama neuraminidase (N). Protein H bertugas untuk membuka jalan masuk kedalam sel tubuh calon korban, karena itu protein H selalu bermutasi untuk mengalahkan daya tahan tubuh. Protein N bertugas untuk menyebarkan virus flu baru. Untuk menjalankan tugasnya seefektif mungkin, protein N juga bermutasi terus menerus. Dengan kemampuan ini, virus H5N1 dapat berpindah ke tubuh manusia. Cara yang kedua terjadi jika virus H5N1 bertemu dengan virus influenza yang umum menyerang manusia seperti H1N1, H1N2 , H2N2, atau H3N2 di dalam satu inang (misalnya babi). Kedua virus ini akan saling bertukar materi genetik. Hasil pertukaran materi genetik ini kemudian menghasilkan kombinasi genetik baru yang menghasil jenis baru virus H5N1 yang dapat menyerang manusia. Virus H5N1 berbahaya bagi manusia karena manusia tidak memiliki imunitas terhadap jenis virus ini. Jika terjadi pandemik, tingkat kematian yang diakibatkan virus ini diperkirakan dapat mencapai 60%. Untungnya sampai saat ini virus H5N1 yang berkemampuan untuk menjadi virus pandemik belum ada. Tetapi bukan berarti kita dapat berpangku tangan, karena cepat atau lambat virus H5N1 akan bermutasi menjadi virus pandemik. Karena tidak mungkin menvaksinasi seluruh unggas baik yang jinak maupun yang liar, satu-satunya jalan untuk mencegah pandemik flu H5N1 adalah dengan menemukan vaksin yang ampuh untuk manusia. Tantangan utama dalam pembuatan vaksin ini adalah menduga jenis virus H5N1 yang dapat menyebabkan flu pandemik. Ini berarti para ahli harus membuat vaksin yang dapat mengantisipasi dan efektif dalam menghadapi berbagai kemungkinan variasi mutasi virus H5N1 ini. Bisa saja para ahli menunggu hingga pandemik berlangsung, sehingga jenis virus H5N1 yang dilawan sudah pasti. Tetapi proses pembuatan vaksin memakan waktu beberapa bulan, mengingat tingkat fatalitas virus H5N1 dapat mencapai 60%, jika pembuatan vaksin menunggu pandemik, korban yang jatuh sudah banyak ketika vaksin tersedia. Metode pembuatan vaksin yang tidak konvesional ini mengundang beberapa kendala. Yang pertama adalah masalah dana, industri farmasi tidak ingin mengambil resiko memproduksi vaksin yang tidak terpakai karena ternyata tidak efektif ketika pandemik berlangsung. Keengganan industri farmasi untuk membiayai riset vaksin ini makin bertambah ketika mereka harus menghadapi resiko terkena tuntutan jika vaksin yang diproduksi berakibat fatal. Kendala kedua adalah kurangnya dukungan pemerintah negara maju. Mereka kurang menaruh minat karena sampai saat ini endemik flu burung tidak terjadi di negara mereka. Para ahli saat ini sedang berusaha keras melobi pemerintah negara maju dan industri farmasi untuk mengucurkan dana. Semoga saja usaha mereka berhasil. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Avian_influenza http://www.cdc.gov Nature, vol. 435, 26 Mei 2005.
|