|

Sayang, Berulang aku dongengkan soal jalan pasir. Entah sendiri atau ada orang lain harus tempuh perjalanan pasir ini. Gusti, kalau boleh memilih, luluskan aku di jalan rata, solid dan tidak pasir. Bukankah dasar ini yang akan menopang? Bukankah dasar ini yang akan memantapkan langkah? Jalan pasir sangat berat, sayang. Kamu perlu tenaga lebih angkat kakimu, setiap kali ingin kau buat langkah. Bila kaki mulai peluh, butir pasir menempel manja di sela-sela jari. Bila saat harus berlari, mengejar keriangan, mengejar kesayangan. Semua terkejar saat hembus nafas sudah terengah-engah dan tubuhmu lelah lunglai. Ingin berontak rasanya, saat dasar kakiku, mau tidak mau, suka tidak suka, harus berada di jalan ini. Namun mereka yang berjalan denganmu, meskipun di sana, di jalan rata, riuh sorakkan dukungan. Ingin aku teriak minta tolong. "Tarik aku dari sini. Biarkan aku berjalan bersama kalian di sana!" Lidahku bahkan kelu, menangkap pesona keriangan bias wajah mereka nan indah. Tidak. Jangan sampai mereka gundah dengan teriakanku. Jangan sampai energi mereka pun harus terkuras untuk menarik aku dari jalan pasir ini. Sayang, Berulang jalan pasir ini kusebut saat berbagi kisah. Karena aku memang berada di atasnya. Pernahkah aku ceritakan, bahwa dalam mimpiku, ini sebuah perjalanan di pinggir pantai? Meskipun setiap langkah terasa berat, meskipun setiap pasir melekat, tetapi kusemai nuansa bening sepanjang pandang kutebar. Laut, ombak, buih, sepoi angin dan batas horizon membuai indraku. Entah sampai mana ujung jalan pasir ini. Semua misteri. Aku harus mengaso dulu. Mengumpulkan asa untuk mengangkat sebuah langkah lagi, dan membiarkan pasir-pasir kembali melekat. Juni 2005
|