We R Mommies

Google
Web Web WRM
border border border border
border border
Info Penting
Dompet Asuh WRM
BCA Cabang Wisma Asia
Acc # 084-044-0176
A/n Renta Simanjuntak

KAS WRM
Acc. # 103 - 000 420799 - 5
Bank Mandiri Cab Menara Thamrin
A/N Renta Simanjuntak & Hilda Yanuarti
 
Khusus Anggota





Lupa kata sandi?
border
border border border border
Pembaca diperkenankan mengutip artikel dari halaman ini dengan syarat mencantumkan sumbernya: wrm-indonesia.org.
© 2008 We R Mommies | WRM Indonesia. All rights reserved.
border
HomeborderArtikelborderForumborderWebborderKontak
  arrow pointing to the right   Beranda arrow Kumpulan Artikel arrow Renungan arrow Kritik
Kritik E-mail
Pengirim: DA Inayati   
Rabu, 15 Juni 2005

Kata ini bisa bermanfaat bagi orang yang selalu ingin memperbaiki diri,namun dapat menjadi kata yang menyebalkan bagi manusia yang tidak ingin harga dirinya terlukai. Bila kritik datang pada kita, kadang reaksi spontan penolakan lah yang akan muncul.

"Kritik adalah penyerangan, kritik adalah pelukaan harga diri", demikian secara tak sadar otak dan hati nurani kita telah diblokade oleh emosi sesaat. Sayangnya, tembok perlindungan terhadap kritik ini muncul tanpa diikuti upaya meninjau kembali lebih jauh esensi dasar dari kritik yang ada, lepas dari bagaimana orang lain menyampaikan kritik pada kita. Bahkan mirisnya, hal ini pun diikuti dengan perasaan yang sebenarnya tak perlu muncul :

"ah, itu kan hanya bentuk ketidaksukaan mereka pada saya; sempit saja hati mereka, jadinya memberikan kritik seperti itu; mungkin itu kritik itu muncul karena dendam terselubung dia pada saya; mir ist egal..kritik itu tak lain fitnah mereka pada saya; hmm itu ndak lain gunjingan kok, toh saya ngga merasa begitu; hatinya aja yang kotor, selalu sirik ke saya dan mencari cari kesalahan yang saya lakukan; mereka saja jiwanya kerdil, pokoknya saya yakin pendapat saya benar dll..."

Benar tidaknya kritik yang sampai pada diri kita, sebenarnya menurut saya tak perlu seseorang harus memiliki perasaan demikian, karena tak layak pula kita memiliki prasangka yang sedemikian buruk pada orang lain (baca: orang yang melontarkan kritik).  Tercetusnya perasaan perasaan di atas bagi penerima kritik, buat saya, tak bedanya ia menempatkan diri pada posisi orang yang tak ingin dikritik, memiliki perilaku yang sempurna dan otoriter. Padahal bisa jadi kritik yang mereka sampaikan tak seburuk apa yang ia sangka dan pikirkan, bila ia mau menggunakan hati nurani dan akal sehat saat menerima dan mengkajinya.

Mari kita tinjau satu sejarah sesaat.  Saat itu Umar r.a  sedang berpidato tentang pentingnya berlaku sungguh dan kuat hati di udara panas gurun pasir yang menyengat. Tiba-tiba Salman Al Farisi menginterupsi, "Jangan didengar, jangan ditaati !''.  Umar mencoba bersabar dan bertanya, ''Mengapa?'', '"Karena engkau berbuat curang dan mencuri kain Yaman yang dibagikan kemarin masing-masing selembar per orang. Bagaimana engkau bisa menjahitnya menjadi baju dan sekarang memakainya. '' Umar kembali bersabar, dan bertanya kepada hadirin, ''Mana Abdullah?'' Tak ada yang menyahut, termasuk putranya, Abdullah bin Umar, karena mungkin menyangka maksudnya adalah hambaNya (abdullah). Untuk ketiga kalinya Umar bersabar dan bertanya lebih konkret, ''Mana Abdullah bin Umar?'' Setelah anaknya menyahut, Umar memerintahkan menjelaskan asal muasal bajunya.  Penjelasannya memuaskan Salman dan hadirin. Mereka pun kembali bersedia mendengarkan dan mentaati.

Umar yang saat itu telah berposisi sebagai pemimpin tertinggi pun tetap saja bersikap lapang dada, sabar, ramah tamah  pada saat Salman melemparkan kritik padanya.  Bahkan Umar  sama sekali tak memiliki pandangan dan persangkaan 'negatif' pada Salman walau Umar tahu kritik yang disampaikan tak benar adanya.  Mungkin inilah salah satu penyebab keberhasilan pemerintahannya: Umar selalu terbuka atas kritik pada dirinya dan pemerintahannya, bagaimanapun bentuk corak kritik yang ia terima.  Dengan kebijakan yang ia miliki, ia sukses memakmurkan masyarakat, menghindarkan mereka dari kemiskinan, pengangguran, dan kelaparan.  Umar pun jujur, adil, dan tidak pernah menyelewengkan aset rakyat dan negara yang diamanahkan padanya. Distribusi bantuan negara sangat cepat, yang ditunjang oleh kontrol dan administrasi negara yang rapi.

Dapat dibayangkan, bila tiap kali muncul kritik, tudingan dan nasihat padanya, Umar selalu mendahulukan kekuasaan dan kekuatan --walaupun dia benar-- maka takkan muncul kepatuhan rakyat padanya.  Rakyat akan memiliki ketakutan saat mereka ingin menyampaikan pendapat ataupun satu kebenaran yang mereka yakini.  Padahal tentu mungkin saja muncul kealpaan dan kekeliruan di jajaran para pemimpin karena mereka toh bukan seorang Nabi dan Rosul yang telah dijaga dari kesalahan selama hidupnya oleh Dia. Sehingga kesalahan yang sesekali
dilakukan jajaran pemimpin adalah wajar, dengan syarat, para pemimpin cepat menyadari, segera memohon maaf, dan memperbaiki kesalahannya (baik hukuman yang bersifat materi atau non materi) pada rakyat sebagai pemberi amanah.

Bila kritik dan nasihat itu adalah satu kebenaran --terlepas dari cara dan tutur kata penyampaian--,  Umar tetap melapangkan dadanya dan langsung menerima tanpa merasa dipermalukan.  Ia tak  pernah merasa kritik atau  nasihat (benar atau salah)  akan merendahkan derajatnya. Bila kritik itu satu kebenaran, ia akan terima dengan baik, sehingga akan selamatlah pihak yang dikritik dari dosa dan neraka yang mungkin telah menunggu "di depan matanya". Bila kritik itu satu kesalahan yang tak eksis, maka selamat pulalah yang dikritik karena dosanya kan  berkurang, sekaligus tabungan pahala kesabarannya akan makin bertambah. Namun ia tetap bersikap lapang dada atas kritik yang salah dialamatkan pada dirinya, sama sekali  tak ada emosi negatif yang ia miliki.  Betapa mulianya ia dapat bersikap demikian, bagaimana dengan diri kita?.

Kembali ke masa kini.  Harus kita akui (khususnya saya akui), memang terkadang lebih mudah melakukan aksi aktif "mengkritik" dibandingkan bila kita berada di pihak obyek yang dikritik.  Namun kali ini saya tak membicarakan kondisi pertama, melainkan kondisi kedua yakni bila kita berada di posisi yang mendapatkan kritikan yang bertubi tubi.  Seberapa tahan kah diri kita bila selalu dicela, dianggap selalu salah dan menjadi tumpahan kritik? Bagaimana sikap kita saat menerima semua hal tersebut:  kesal? marah? merasa diserang? dikecam ? harga diri terluka karena di cerca di hadapan orang banyak? Merasa orang lain berdendam pada kita? bersikap bahwa kritik  itu ujud sakit hati, kebencian, gunjingan dan dengki pada diri kita?. Sangat mungkin hal di atas akan berlewatan di hati dan pikiran kita. Namun seberapa dewasa kita dapat mengakui bahwa kritik yang ada justru dapat menjadi cambuk bagi kita untuk makin mawas dan memperbaiki diri?.

Mari kita bersama sama berpikir sejenak.  Pernahkah kiranya kita memiliki pikiran yang positif saat berada di lautan kemarahan saat kita sedang dikritik: bahwa kritik yang ada tak lain bentuk cerminan perhatian orang lain pada diri kita?.  Jarang bukan? karena memang, saat kondisi hati di dalam danau emosi, maka pikiran pikiran demikian akan jarang dapat terlintas di benak kita. Seperti yang saya sitir di awal,  blokade pertahanan telah tak sengaja kita bangun dalam hati dan pikiran kita.  Karenanya tak heran, pemikiran positif yang sebenarnya akan lebih banyak menguntungkan diri kita, terbenam begitu saja. Tips-tips di bawah ini, buat saya, amat bermanfaat membangun nilai nilai positif yang dapat muncul dari suatu  kritik yang dilemparkan pada diri saya.

Jangan Lekas Marah. Jarang rasanya orang dapat bersikap tidak kesal atau tak marah bila  mendapatkan kritikan yang menohok.  Namun mari berlaku jujur pada diri, tiap orang berhak untuk melontarkan pendapat tentang diri kita, demikian pula sebaliknya. Dan kenyataan membuktikan, objektifitas selalu lebih lebih besar kita dapatkan dari kaca mata orang lain. Karenanya, jangan lekas marah. Tahanlah amarah kita sedapat mungkin ketika seseorang mengkritik kita. Coba dengarkan kritik yang datang, bahkan catatlah bila kita anggap itu penting.  Baru kemudian kita renungi di rumah dengan pikiran yang dingin, esensi dari  kritik yang muncul. Dengan marah dan emosi meluap sesaat, tak ada yang bisa kita lakukan.  Karenanya kita pun tak akan dapat maju ke arah yang lebih baik.

Terbuka dan berbesar diri  untuk mengakui. Pernahkah kita melihat seseorang yang bebal; telah dikritik berulang kali, namun tetap saja melakukan kesalahan yang sama?. Memang, mungkin terdapat banyak alasan mengapa orang tersebut tak mengacuhkan kritik orang lain terhadapnya.  Namun, salah satu yang kerap menjadi penyebab mengapa kita tak menghiraukan kritik, adalah karena kita menutup diri untuk secara terbuka mengakui bahwa kita salah. Bahwa kita pun akan kerap melakukan kesalahan --sengaja atau tidak--haruslah kita akui karena tidak mungkin kita selalu dalam kondisi yang benar dan tak melakukan kealpaan. Dan hal itu satu kewajaran karena kita bukan manusia sempurna. Kita bukan manusia yang suci terjaga dari kesalahan.  Mengapa kita minimal tak mau mengakui bahwa "Oh ya, dia mungkin benar. Itulah sebenarnya saya. Mestinya saya merubah sesuatu dalam diri saya, maafkan saya".  Bila memang kita melakukan kesalahan, akui dan mohon maaflah. Hal itu sama sekali tak akan mengurangi nilai sebagai  manusia. Bahkan saya yakin, hal itu akan lebih terlihat
bersahaja. Dengan menyikapi kritik secara terbuka, maka kita akan terlihat lebih simpatik. Pahami ketidak cocokan orang lain terhadap perilaku, sikap atau keyakinan kita, sebagaimana bila kita merasa tak senang terhadap tindakan dan prinsip orang lain. Dan itu sah saja, dunia ini bukan milik kita sendiri bukan?. Kurz, bersikaplah empatif. Dengan demikian, kita akan cenderung bisa bersikap lebih tepat menghadapi sebuah kritik yang "mampir" pada diri kita.

Mintalah dikritik secara spesifik. Kita harus belajar keras untuk mengakui bahwa kemungkinan kritik yang dilontarkan orang lain adalah satu hal yang benar. Dengan demikian, kita memiliki keinginan untuk belajar untuk bersikap sebagaimana yang orang lain harapkan pada kita (tentu dalam konotasi positif).  Bahkan akan lebih baik bila  kita meminta orang lain mengkritik diri secara lebih spesifik, agar kita benar-benar mengerti, dimana letak sebenarnya permasalahan orang lain terhadap diri kita. Sehingga, antara kita dan rekan yang melancarkan kritik dapat saling memahami dengan jelas kondisi yang sebenarnya terjadi. Dengan demikian, akan lebih mudah dianalisa jalan mana yang harus ditempuh agar kita dapat memperbaiki apa yang tidak menyenangkan  di diri kita, dalam  kaca mata orang lain.

Jangan balas kritik dengan kritik. Menyikapi sebuah kritik yang datang tidaklah bijak bila dengan kembali membalas pihak yang mendatangkan kritik. Entah itu berupa "pembalasan kritik" lisan ataupun tulisan yang sifatnya transparan atau tersembunyi . Tanyakan pada diri, apakah bentuk "balasan" yang kita sampaikan benar benar berasal dari "hati yang jernih" atau hanya sekedar "pembelaan" atas ketidaksukaan kritik yang orang lain sampaikan. Membalas kritik dengan kritik, tak lain hanya menyulut perdebatan yang tidak perlu. Ketika kita dikritik, maka bersikaplah akomodatif. Jangan biasakan diri kita mendramatisir kata-kata atau kondisi yang hanya akan memberi sinyal terhadap rekan kerja lain bahwa kita defensif.  Ibaratnya, kritik adalah api. Memadamkannya adalah dengan air, bukanlah dengan api lagi. Menghadapi rekan lain yang kontra terhadap kita, maka usahakanlah selalu akomodatif dan hindari perdebatan yang tidak substantif.

Tanyakan saran konstruktif. Kadang, kita ingin merubah diri tapi tak mengetahui  bagaimana cara yang harus dilakukan. Mungkin rekan anda memiliki alternatif  jalan keluarnya, jadi mengapa tak bertanya padanya?.  Satu hal yang menjadi kendala, kadang kita sering malu bila orang lain mengetahui bahwa dalam beberapa hal kita tak lebih pandai dari orang lain.  Padahal kita tak mengetahui hal apa yang harus dilakukan untuk  memperbaikinya.  Namun ingatlah, dengan mengakui kelemahan kita dengan jujur dan berjiwa besar, saya yakin orang lain pasti akan dengan senang hati membantu kita untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang ada.  Memperlihatkan bahwa kita membutuhkan orang lain untuk memperbaiki diri secara positif, justru akan menimbulkan reaksi yang simpatik dari lingkungan sekeliling kita. Bila kita tak bisa membantu diri kita sendiri, maka berikanlah kesempatan orang lain melakukannya untuk kita.

Zum Schluss  benarlah adanya, sifat-sifat yang baik pada diri manusia tidaklah dianugerahkan melainkan pada orang-orang yang berusaha selalu sabar dan memperbaiki diri. Demikian halnya dengan menghadapi satu kritik yang datang pada kita, semoga sikap yang tepat dalam menghadapinya akan  makin dapat membuat diri  menjadi lebih baik,  hari demi hari. Terutama buat diri saya sendiri. Semoga .... Amin.

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

ke atas Ke Atas go to top
border
Menu Utama
Beranda
Kumpulan Artikel
Rangkuman Diskusi
Alamat Web
Tentang WRM
Kegiatan WRM
Forum
Buku Tamu
Bunga Rampai
Baik dan Bijak
Goresan Pena
Profil Anggota
WRM Kidz




Advertisement